Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kesialan Ayuna


__ADS_3

Meski pun berperan sebagai mahasiswi pengganti, namun Ayuna sangat senang. Tak apa jika dirinya tidak bisa mengganti nama yang sebenarnya untuk berkuliah. Setidaknya ia bisa kuliah dengan memiliki pengalaman dan menambah wawasannya lebih luas lagi. Kos yang semula di tempati Ayana rasanya sangat tidak nyaman. Di sana juga banyak teman-teman dari desa yang sama mau pun desa lainnya tinggal. Lingkungan yang terlalu bebas membuat Ayuna risih. Ia inign tinggal di tempat yang tenang agar lepas dari penatnya selama di desa bekerja keras. Pagi itu setiba di kota, segera Ayuna membereskan tempat tinggal sang kakak dan berniat untuk keluar dari kos tersebut setelah mendapatkan tempat yang lebih nyaman.


"Tumben bersih-bersih? Biasa jua tinggal lempar uang buat beresin kamar?"


"Iya, tumben sih Yan? Ada angin apa? Si berson mau ngapel yah keburu nggak sabar nih kayaknya sampai beres-beres kamar." Dua teman Ayuna membicarakan dirinya yang sebagai Ayana saat ini.


Tak menjawab, Ayuna memilih tersenyum saja dan segera meninggalkan kos untuk mencari tempat yang baik. Sementara hari ini barangnya akan di tinggal di sana dulu. "Titip kamar yah? Aku mau keluar cari keperluan." ujar Ayuna terasa canggung.


Mereka teman yang sekelas dengannya terasa sudah asing bagi Ayuna. Sebab lama rasanya tak pernah bergaul dengan mereka lagi yang sudah tinggal di kota. Dari nada bicara Ayuna mereka sangat heran. Tak biasanya Ayana tersenyum selembut itu bahkan berkata dengan sopan pada mereka. Kepergian Ayuna menjadi bahan bicara teman-temannya.


"Tumben sih pakaiannya waras? Kesambet yah tuh anak?"


"Ketularan kembarannya kali hahaha." mereka pun tertawa lepas.


Ayuna menaiki angkot demi berkeliling kota mencari kos yang lebih murah dan lebih bagus lingkungannya. Sepanjang perjalanan, Ayuna berusaha menandai tempat-tempat yang ia lewati. Menghafal sekitar tentu saja sangat perlu bagi Ayuna. Alamat kosan yang ia tinggali sebelumnya pun sudah ia catat dengan baik.


Tanpa ia tahu jika kepergiannya justru di cari oleh kekasih sang kakak. Berson datang dengan beberapa cemilan di tangannya serta satu botol minuman alkohol. Pria itu nampak bersemangat mengetahui sang kekasih sudah kembali ke kota. Sebab lama sudah tak berjumpa.

__ADS_1


"Dimana Yana?" tanya Berson yang sudah membuka kamar dengan kunci serep yang ia punya. Pria itu bertanya dengan teman sebelah kamar Ayana.


"Pergi katanya." jawab mereka seadanya.


Berson yang kesal akhirnya menelpon berkali-kali namun Ayana tak kunjung menjawab. Akhirnya pria itu memilih berbaring di kamar sang kekasih sembari menunggu kepulangannya. Senyuman lebar ia terbitkan kala melihat botol minuman yang akan menjadi pemani pertemuannya dengan Ayana kali ini. Sudah lama rasanya menantikan waktu bertemu akhirnya kini tiba juga. Dengan sabar Berson terus menunggu hingga tak lama kemudian suara wanita yang ia tunggu pun terdengar di luar kamar.


"Dari mana lama amat perginya?" tanya wanita yang setia duduk di depan kos.


"Cari keperluan." jawab Ayuna tersenyum lebar.


Ia pun berlalu masuk ke kos namun Ayuna heran, seingatnya kamar sudah ia kunci. Mengapa sekarang tak terkunci. Akhirnya ia pun mendorong kamar itu dan terkejut saat menyalakan lampu kamar terlihat seorang pria sudah berbaring di kasurnya dengan wajah tersenyum penuh nafsu.


"Ka-kamu?" Ayuna berucap syok matanya pun membulat penuh.


Berson tak tahu jika wanita yang di depannya saat ini bukanlah kekasihnya. Ia bangkit dengan rasa mabuk yang sudah mulai menguasai dirinya. "Sayang, akhirnya kamu pulang juga. Aku rinduu sekali. Rindu dengan jeritanmu." Ayuna sangat ketakutan mendengar ucapan Berson yang sangat mengerikkan.


Ia menggeleng tak percaya dengan tingkah pria itu. "Minggir. Keluar kamu dari sini!" sentak Ayuna begitu kasar.

__ADS_1


Keadaan mabuk yang di rasa Berson rasanya sulit menyadarkan dirinya. Pria itu hanya tersenyum dan hendak meraih tubuh Ayuna untuk ia peluk. "Yana, ayo kita pesta. Jangan bermain-main. Kita sudah sama-sama saling menginginkannya bukan?" Suara berat itu membuat Ayuna merinding sekali.


Ia mendorong keras tubuh Berson namun tenaganya kala kuat dari pria itu. "Tolong! Lepaskan aku, Berson! Lepaskan!" teriakan Ayuna yang keluar membuat teman-temannya hanya terkekeh di luar sana. Mereka berpikir itu hanya sensasi yang sedang Ayana lakukan dengan Berson.


Bagi mereka hal seperti itu sudah biasa terdengar di kosan itu. Tanpa mereka tahu jika di dalam Ayuna susah payah benar-benar ingin lepas dari Berson. Pelukan pria itu semakin erat hingga tubuh Ayuna terjatuh di atas kasur bersama Berson.


"Lepas! Tolong lepaskan aku! Berson, aku tidak mau. Lepaskan aku." Ayuna bahkan sampai meneteskan air mata saat ia merasakan tangan kekar pria itu menyentuh dadanya dengan agresif. Berulang kali Ayuna menggeleng menolak namun pria itu begitu pandai mengurung kedua tanganya hingga tak bisa melakukan apa pun lagi.


"Jangan pura-pura menolak seperti ini, Yana. Aku semakin tidak bisa menahannya." aroma alkohol yang sangat tajam begitu menusuk indera penciuman Ayuna saat ini.


Seluruh tenaga sudah berusaha ia keluarkan namun ta membuahkan hasil. Sungguh Ayuna mengutuk nasib yang tuhan berikan padanya jika sampai hal ini benar-benar terjadi padanya. Ayuna tak tahu apa yang terjadi ke depannya jika Berson berhasil menghancurkan masa depannya.


"Hahaha...dasar si Ayana. Ada aja caranya buat narik perhatian Berson."


"Iya tuh kayak pengantin baru aja yang ketakutan. Heuh biasa juga si Berson yang teriak minta ampun. Gila bener dah mereka," para teman kamar kos sebelah menertawakan teriakan Ayuna yang mereka pikir sebuah permainan panas yang mereka ciptakan. Nyatanya di kamar sana Ayuna sudah menangis histeris menendang-nendang kaki Berson. Tak banyak yang bisa ia lakukan sebab kedua tangannya sudah di kunci dalam pelukan oleh pria itu.


"Ibu...tolong aku, Bu. Tolong aku." Itulah tangisan yang Ayuna keluarkan untuk pertama kalinya meminta bantuan pada mendiang sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2