
Sepulang kuliah, Ayuna nampak di buat kaget saat ia mendapati sosok pria yang berdiri di parkiran depan fakultasnya. Ayuna menoleh mencari kesana kemari mobil dan supir yang tadi mengantarnya. Namun, tak kunjung menemukan. Di sana hanya ada pria yang sangat ia kenal. Berdiri gagah di samping mobil sembari memasukkan tangannya di saku celana formal miliknya. Satu tangan lagi sedang menempel ponsel pada telinganya. Terlihat jelas jika ia sedang berbicara pada seseorang sembari matanya menatap ke arah Ayuna.
Tak bisa lagi Ayuna kabur dari sini. Dengan pasrah ia pun melangkah mendekati pria yang baru saja mengakhiri panggilan telepon itu.
"Kakakmu bunuh diri." bukan sapaan dingin yang di dapati atau hangat. Betapa terkejutnya Ayuna mendengar ucapan pria di depannya saat ini.
Kepalanya menggeleng tak percaya namun Rangga dengan sigap menuntun tubuh Ayuna untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya ke sebuah rumah sakit. Sepanjang jalan Ayuna menjatuhkan air mata tanpa suara. Kedua tangannya yang saling menggenggam membuat Rangga turut bergerak ikut menggenggam dengan satu tangan.
"Maafkan aku, Ayuna. Aku tidak tahu jika ini semua terjadi."
__ADS_1
Ayuna menggelengkan kepalanya pelan. "Ini bukan salah siapa pun. Kakakku memang seperti itu kerasnya. Dia tidak akan bisa menerima hukuman atas apa yang ia perbuat. Sejak kecil pikirannya selalu menentang keras apa yang tidak ia sukai." Ayuna sebagai adik yang hidup selalu menjadi korban tentu tak bisa mengelak pikirannya yang buruk tentang sang kakak. Sebab memang begitulah adanya Ayana.
Namun, ia tak sampai menduga jika sang kakak berani senekat ini bunuh diri. Sepanjang jalan dengan setia Rangga menggenggam tangan gadis sang pujaan. Ia sedih melihat Ayuna yang ketakutan saat ini. Sejahat apa pun kakaknya tetap saja mereka adalah saudara. Dan sekarang Ayuna hanya berdua dengan Ayana tanpa ada kedua orang tua lagi. Tentu rasanya tak akan mudah.
"Maafkan aku, Ayuna. Aku tidak sanggup jika harus mengatakan ini semua padamu." gumam Rangga yang menatap Ayuna dalam diam. Hingga beberapa saat kemudian mobil pun tiba di rumah sakit.
Rangga menggenggam tangan Ayuna berlari menuju ruangan di mana Ayana mendapat pelayanan. Namun, langkah keduanya terhenti ketika berada di depan ruangan yang di jaga oleh polisi.
"Kakak!" teriakan yang keras dan lantang saat itu juga seakan meluruh lantahkan isi bumi bagi Ayuna.
__ADS_1
Rangga mendekatinya dan mengusap punggung gadis yang sudah menangis memeluk saudara kembarnya yang terbaring dengan bibir dan wajah pucat. Tubuh itu terasa masih hangat namun mulut yang mengeluarkan busa sudah di ikat dengan kain putih pertanda jika Ayana sudah tak lagi bisa tertolong.
"Kasihan sekali kamu, Ayuna. Hidupmu benar-benar seorang diri. Aku berjanji akan menjagamu sepenuh hatiku." Itu janji Rangga dalam hati untuk gadis yang tengah menangis pilu di depannya saat ini.
Ayuna sampai menggoyangkan tubuh sang kakak berharap ini hanya mimpi. Hingga beberapa kali goyangan itu tak membuahkan hasil barulah Ayuna memutar tubuh menghadap pada Rangga.
"Kakakku sudah nggak ada, Rangga? Aku tinggal sendirian?" air mata itu kembali berjatuhan menyusul pipinya yang sudah basah.
Rangga tak bisa berkata apa pun selain mengangguk dan membawa Ayuna ke dalam pelukannya. Seharusnya hukuman penjara yang pantas untuk Ayana, bukan hukuman seperti ini.
__ADS_1
"Kakakmu menusuk perutnya dengan sendok makan setelah gagal meminum obat pembersih kamar mandi, Ayuna. Petugas kepolisian salah satunya menjadi korban dari kakakmu. Dan saat ini sedang di rawat di ruangan lainnya juga."