Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Gelap Mata


__ADS_3

Selama dalam perjalanan sering kali Rangga mendapati Ayana mencuri pandang dengannya. Tatapan yang ia sendiri pun tidak tahu apa artinya. Perasaan aneh jelas Rangga rasakan selama perjalanan. Entah ketika berdekatan dengan Ayana saat ini ia merasa tak penasaran sama sekali. Berbeda ketika melihat gadis itu marah padanya. Rasanya dada Rangga bergemuruh menuntut untuk bisa membawa gadis itu pergi bersamanya.


"Aku harus bisa mendapatkan pria ini. Aku akan jadi Nyonya besar dan dia begitu sangat tampan." gumam Ayana penuh rencana dalam hatinya.


Tak di sangka jika perjalanan mereka saat ini justru membawanya ke sebuah tempat perbelanjaan yang cukup besar di kota itu. Rangga tak berniat membawa gadis ini ke kota tempatnya sebab jarak yang cukup jauh. Ia tidak ingin menjadi lampiasan amarah seorang ayah ketika mengetahui anaknya di bawa pergi tanpa izin. Berbinar wajah Ayana melihat tempat di depannya saat ini. Mobil mewah yang mengantarnya pun memasuki mall tersebut hingga Rangga turun bersama Ayana di loby.


"Beli lah apa yang kau suka." pintah Rangga mengusap kepala gadis itu. Sekali lagi ia meyakinkan jika dirinya begitu tertarik pada gadis di depannya.


"Aneh rasanya hanya perasaan biasa. Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Mengapa terlalu mudah berubah-rubah seperti ini?" gumam Rangga merasakan respon dadanya yang biasa saja saat menyentuh kepala Ayana.


"Tuan akan menemaniku berkeliling?" tanya Ayana dengan wajah tersenyum lebarnya tanpa takut ia melingkarkan tangan pada lengan Rangga saat itu juga. Sedikit kaget dengan keberanian Ayana yang lagi-lagi menyentuhnya.


"Apa dia memiliki kepribadian ganda?" gumamnya heran. Wanita yang ia sukai sangat tak mau di sentuh olehnya namun apa yang terjadi saat ini sangat berbanding terbalik dengan yang terjadi sebelumnya.


Keduanya berjalan kesana kemari dengan beberapa anak buah Rangga yang sudah berhasil membawa paper bag hasil belanjaan Ayana. Gadis itu tak mau melepaskan sedikit pun tangannya pada Rangga. Sungguh Ayana lupa diri, ia tak mengingat statusnya yang saat ini adalah kekasih dari Berson. Jelas baginya Rangga jauh dari segalanya. Berson hanya pria yang unggul jika di bandingkan dengan pria di desa.


"Aku makan di sana, Tuan. Boleh kan?" tunjuknya pada restauran yang ada di depan mall.


Belanja, makan dan kini waktunya mereka untuk pulang. Sepanjang jalan Ayana begitu menikmati kesempatan memeluk lengan kekar pria tampan di sampingnya. Tak perduli bagaimana respon dari Rangga yang merasa biasa saja tak ada perasaan senang seperti yang ia harapkan.


"Jika aku tidak menyukainya tak apa. Pilihan ini bisa menguntungkan aku dalam bisnis. Setidaknya dia akan menutup mulutnya," pilihan terakhir akhirnya di ambil oleh Rangga.


Setelah lama bersama Ayana, Rangga kini sadar jika ia hanya penasaran dengan gadis yang pertama kali ia lihat ini. Dan kini Rangga memahami jika itu hanya sekedar rasa penasaran bukan rasa ingin memiliki. Sudah waktunya mereka sampai di desa. Saat itu juga Rangga bergegas pulang ke hotel enggan berlama-lama dengan Ayana.

__ADS_1


"Aku minta biarkan pembangunan itu berjalan lancar di desa ini. Jika itu terjadi aku sangat berterimakasih padamu." Ayana mengangguk mengiyakan dengan wajah tersenyum. Dalam hati ia merasa geli sebab apa pentingnya dirinya setuju atau tidak. Sama sekali tak ada pengaruhnya untuk desa tersebut.


"Aku sangat setuju, Tuan. Terimakasih banyak untuk semuanya." ujar Ayana hendak mendekatkan wajah pada Rangga namun pria itu dengan cepat memalingkan wajahnya tanda menolak.


Sungguh malu rasanya Ayana mendapat penolakan. Wajahnya tersenyum kikuk dan bergegas turun dari mobil. Semua barang yang ia beli sudah di letakkan di depan rumahnya. Hari tak terasa sudah malam, Ayuna keluar setelah mobil mewah itu pulang. Kening Ayuna mengerut dalam melihat banyaknya barang-barang mahal di beli sang kakak.


"Belanja dalam rangka apa ini, Kak?" tanyanya penasaran sebab setahunya sang kakak hanya memiliki uang dua juat bahkan itu jika di hitung tentu sudah habis dengan belanjaan waktu lalu.


Senyum Ayana menghilang kala mendengar pertanyaan sang adik. Inilah biang masalah yang harus ia selesaikan saat ini. Tak perduli jika berkat Ayuna pula ia bisa mendapatkan barang mewah dan banyak seperti ini.


"Pokoknya mulai besok kamu tidak boleh kemana-mana. Ingat Ayuna, kamu di rumah bersihkan kamarku sampai aku bilan beres." Mendengar perintah itu Ayuna menggeleng tak setuju.


Enak saja ia harus bekerja dan banyak hal penting yang harus di lakukan, bagaimana mungkin sang kakak melarangnya keluar. Bahkan gajinya pun untuk kakaknya juga.


"Tidak bisa begitu, kak. Aku harus kerja. Banyak hal yang harus aku lakukan juga." ujarnya menolak perintah sang kakak.


"Ada apa lagi ini Ayana? Ayuna?" tanyanya dengan suara lelah.


"Ini yah, Ayuna aku suruh di rumah saja besok malah melawan. Aku ada tugas banyak aku mau kamarku di bersihkan. Besok aku ada janjian sama Tuan itu." Mendengar sang anak yang menyebut pria tampan itu tentu saja Fikram mendukungnya. Ia melihat pria itu sangat baik dan sopan meski pun tegas.


"Aku tidak bisa, Kak. Besok malam bisa aku bersihkan. Tapi jangan melarangku keluar besok. Aku ada urusan penting dan juga pekerjaanku tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Kalau kakak mau menggantikan aku bisa saja." ujar Ayuna benar adanya.


"Aku kuliah sibuk belajar, Ayuna. Ngerti nggak sih? Kamu itu memang nggak bisa ngerti aku banyak tugas kan kamu SMA saja nggak lulus." Ayana melangkah melewati sang adik dengan menyenggol bahunya. Ia berjalan masuk ke rumah membawa beberapa belanjaan lalu kembali keluar lagi untuk mengambil yang tersisa.

__ADS_1


"Pokoknya aku tida mau tahu. Besok kamu di rumah saja. Jangan pernah berani keluar." titah Ayana tak ingin di bantah.


Ayuna hanya diam. Bagaimana pun ia tidak akan menurut kali ini. Biar memilih diam tanpa berdebat mungkin akan lebih nyaman di lakukan saat ini. Ayuna masuk menuju kamarnya beristirahat. Sedangkan Fikram yang tidak bisa tidur setelah kaget dengan ribut-ribut akhirnya hanya menghela napasnya berat. Ia memilih duduk di teras saja. Rasanya ingin bersantai sejenak dari rasa lelah. Toh uang pembagian sudah ia terima juga dan itu cukup rasanya untuk hidup beberapa waktu ke depan.


Di sini kepulangan Rangga di sambut dengan sang sekertaris. "Bagaimana, Tuan?" tanyanya pada Rangga.


"Aman." jawab Rangga singkat namun cukup jelas jika artinya semua bisa di lanjutkan saat ini.


Keesokan harinya, kemarahan warga semakin berkobar melihat beberapa tanaman mereka nampak di hancurkan. Pagi buta menjadi waktu yang di pilih anak buah Rangga. Bahkan para warga sudah di berikan amplop yang lumayan isinya sesuai dengan tanah yang sudah di gusur. Beberapa masih banyak yang belum di gusur. Hal itu memicu kemarahan Ayuna mendengar laporan warga.


"Benar-benar keterlaluan." umpatnya melihat beberapa warga menangis melihat tanaman mereka yang bertumpuk buahnya lantaran begitu subur kini hancur rata bersama tanah-tanah.


Ayuna geram ia tak suka jika ada orang yang di perlakukan tak adil seperti ini. "Kita bakar saja alat itu, mereka sudah tidak bisa di toleransi lagi." ujarnya meminta warga untuk mengambil bahan bakar.


Tak ada yang tahu apa yang hendak di lakukan warga. Hingga aksi Ayuna yang menyalakan api di depan tanah yang hendak di gusur membuat para anak buah Rangga bergerak mendekat. Mereka menarik Ayuna dan beberapa warga, namun hal itu kembali di serang warga lainnya.


Api menyala dengan besarnya. Dengan terpaksa alat itu pun mundur. Sayang, hal yang seharusnya berhasil kini berbeda dari harapan. Ayuna di tarik paksa oleh sang ayah dan beberapa warga lainnya hanya bisa menangis melihat tanaman mereka habis tergusur saat api di padamkan dan banyak anak buah yang Rangga utus berhasil membuat para warga mundur tak bisa melakukan apa pun.


Sungguh begitu kejam mereka memperlakukan orang kecil bahkan tak perduli dengan keputusan sang pemilik tanah.


Di rumah Ayuna di kurung di kamarnya. Fikram tak perduli bagaimana sang anak berteriak di dalam sana. Yang utama saat ini adalah tugasnya selesai. Ayuna terus memohon pada sang ayah. Harapannya sangat besar untuk desa bisa maju tanpa ada pengganggu seperti Rangga.


Sumpah demi apa pun mereka semua sangat marah pada perlakuan tak adil Rangga dan juga beberapa anggota desa yang turut andil memusnahkan usaha para warga.

__ADS_1


"Ibu, mengapa ayah menjadi gelap mata seperti ini? Ayuna rasa tidak lagi mengenal ayah." tuturnya menangis sedih. Fikram sudah sangat jauh berbeda dari yang dulu. Rasa perdulinya pada sesama tak lagi ada. Dimatanya hanya ada uang dan uang saja.


Rangga yang baru mendengar laporan sang anak buah jika semuanya berjalan lancar begitu sangat puas. Ia tak sabar untuk segera menjalankan proses pembangunan.


__ADS_2