
Sosok gadis yang harus menerima semua konsekuensi atas apa yang sudah ia perbuat. Air matanya berjatuhan melihat tayangan cctv yang tidak menampilkan satu waktu. Dimana semua kejahatannya di pertontonkan ulang di depan saat ini. Bukan hanya dia yang menangis. Namun, ada gadis lain yang juga menangis menyaksikan ini semua hingga teriakannya menggema di ruangan saat ini.
"Apa salah ayah padamu, Kak? Apa salah ayah? Dia orangtua kita!" serangan tiba-tiba pada Ayana membuat gadis itu tak bisa menghindar lagi. Ia kewalahan mendapati serangan tiba-tiba. Ayuna tak lagi bisa menahan diri untuk sabar seperti biasa. Saat ini orang yang menjadi korban bukan lagi dirinya. Tapi satu-satunya orang tua yang tersisa.
"Bagaimana mungkin kamu tega pada ayah kita sendiri, Kak? Kamu sangat jahat. Ingat dengan ucapanku. Aku tidak akan tinggal diam!" satu jari telunjuk milik Ayuna ia perlihatkan pada wajah sang kakak. Menandakan jika tak akan ada namanya perdamaian lagi antara mereka.
"Ayuna, ayo kita pergi. Semua sudah di urus sampai selesai. Kita tinggal menunggu persidangan saja baru ke sini." Rangga merangkul kedua bahu Ayuna dimana ia sempat mendapat tatapan menyedihkan dari Ayana.
Namun, sekali lagi. Pria itu sama sekali tak tertarik untuk melirik wanita berhati iblis sepertinya. Di kantor polisi Ayana duduk mendengarkan berbagai pertanyaan dari pihak kepolisian. Lama gadis itu menjalani proses pemeriksaan sebab ia terus saja menangis. Tak pernah terpikirkan jika dirinya akan sampai di kantor polisi. Sepertinya Ayana lupa jika di samping sang adik saat ini ada orang-orang hebat yang akan melindungi Ayuna.
__ADS_1
"Ayah, tolong aku. Aku takut, Ayah." tangis Ayana dalam hati bergetar tubuhnya membayangkan ini adalah malam pertama dimana ia akan tidur di penjara.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan setelah melihat semua bukti dengan jelas sudah menjeratnya ke dalam penjara. Bahkan barang yang di bawa anak buah Rangga pun sudah menjadi barang bukti dimana sidik jari Ayana menempel di sana.
***
Hari ini adalah tepat satu minggu setelah kepergian ayah gadis kembar itu. Dimana Putri harus kembali ke kota untuk mengawasi perusahaan dengan Rangga yang tetap di desa mengawasi Ayana serta tanah yang sudah ia lepaskan kembali pada warga. Rangga teringat dengan perjuangan Ayuna untuk tanah di desa itu. Di saat keadaan Ayuna terpuruk dengan kepergian sang ayah, begitu banyak warga yang bersimpati padanya. Mereka semua datang sampai menemani Ayuna tidur di rumah. Sontak hal itu membuat hati Raga tersentuh dengan kebaikan para warga.
Ia melepaskan semua dengan cuma-cuma pada warga tanpa meminta apa pun di kembalikan padanya.
__ADS_1
"Sini biar Ayuna sama Ibu saja." wanita paruh baya itu pun menyambut Ayuna dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Rangga sendiri masuk ke kamarnya. Kini ia tak lagi perlu khawatir jika terjadi sesuatu padanya dan Ayuna. Sebab gadis yang kerap kali menjebaknya itu sudah dalam pengawasan polisi.
"Terimakasih banyak, Bu Putri." lirih Ayuna berucap saat keduanya duduk saling berhadapan.
"Berterimakasih untuk apa sih? Ibu tidak melakukan apa-apa. Berterimakasih lah pada Rangga. Dia yang mengutus ibu membantumu, Yuna." senyuman tulus wanita paruh baya itu membuat Ayuna terdiam beberapa saat.
Rangga adalah pria yang sangat ia benci, bagaimana mungkin justru menjadi orang pertama yang menolongnya di dalam keadaan terpuruk seperti ini. Ayuna hanya meneteskan air mata hingga akhirnya Putri membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1