Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kemarahan Ayuna


__ADS_3

Iring-iringan mobil mewah tampak melaju menuju ke desa. Semua tentu dengan bantuan Rangga. Ayuna hanya duduk menangis di dampingi oleh Bu Putri sepanjang prosesi pemakaman. Rumah yang kosong mendadak ramai dengan kedatangan para tetangga. Mereka ikut mendekati Ayuna untuk menyampaikan bela sungkawa pada gadis baik hati itu. Ayuna memeluk jenazah sang ayah sebelum prosesi pemandian jenazah.


“Yuna…” panggilan dari wanita yang tak lain adalah tetangga dekatnya. Wanita yang selama ini membantu Ayuna merawat ayahnya.


“Kamu sudah melakukan yang terbaik selama ayahmu ada. Ayahmu pasti senang melihatmu sukses saat ini.” Ayuna mengangguk dengan air mata yang sulit ia hentikan lagi.


Bibirnya bergetar menahan suara tangis yang ingin pecah. Sakit rasanya belum saja kepedihan kehilangan ibu sembuh setelah sekian lama kini Ayuna harus merasakan hal yang sama lagi dari sang ayah.


“Dimana Ayana? Apa dia tidak pulang?” Melihat gelengan kepala dari Ayuna tentu saja membuat wanita itu tak tega untuk banyak bertanya.


Satu persatu tetangga datang memberikan semangat pada Ayuna. Mereka bahkan ikut duduk bergabung mengelilingi jenazah yang sebentar lagi akan di mandikan.


“Kamu kuat yah?” Putri mengusap lengan Ayuna.

__ADS_1


Di luar sana Rangga sibuk membantu persiapan nisan untuk calon ayah mertuanya. Sayang, belum sempat banyak waktu ia bertemu pria itu. Dan kini ia sudah pergi lebih dulu.


“Ayah!” Teriakan menggema tiba-tiba di halaman rumah sederhana ini. Wanita cantik dengan penampilan modern berjalan cepat memasuki rumah. Dia adalah Ayana. Rangga yang menyadari segera membuang pandangan.


Sementara Ayana yang tahu apa yang terjadi di rumahnya masih sempat melirik ke arah pria tampan itu.


“Rangga, dimana Ayuna?” tanyanya justru mendekati pria tampan itu.


Nada bicara yang tak enak di dengar sontak membuat gadis itu segera melangkah menuju rumah. Disana ia melihat saudara kembarnya tengah menangis dengan banyak orang yang memberikan semangat.


“Ayah! Yuna, apa yang kau lakukan pada ayah? Ayah sehat-sehat saja, mengapa bisa seperti ini? Kau apakan ayah?” Pertanyaan dari Ayana membuat semua pandangan mata mengarah padanya.


Ayuna hanya menangis di pelukan Bu Putri tanpa berniat merespon ucapan itu. Ia tak lagi perduli. Kesedihan hatinya benar-benar membuat tenaganya hilang sekedar untuk bersuara.

__ADS_1


“Ayah! Apa yang terjadi? Sudah ku duga pasti Ayuna akan melakukan ini pada ayah. Ayah tolong jangan tinggalkan aku…”


Sepanjang waktu Ayana berakting menangis memeluk sang ayah. Bibirnya tak henti membicarakan sang adik. Entah apa yang ada dalam rencana gadis itu yang jelas tidak satu kata pun Ayuna layangkan untuk membalas ucapan sang kakak.


Hingga prosesi pemakaman pun usai, kini mereka semua kembali dengan Putri yang membantu Ayuna berdiri dari jongkoknya.


Ayana sendiri merasa tak senang dengan wanita yang selalu bersama sang adik.


“Apa kau yang ikut andil dalam rencana Ayuna? Kalian sekongkol bukan untuk melenyapkan ayahku?” Teriakan dan tuduhan dari Ayana pada Putri membuat Ayuna tak bisa diam seperti tadi.


Bagi Ayuna tak apa jika dirinya yang terus di cerca oleh sang kakak. Itu adalah hal biasa. Tapi jika untuk wanita yang sangat baik padanya sungguh Ayuna tak bisa tinggal diam.


“Hentikan, Kak. Kau telah kelewat batas berucap. Bukankah ini semua adalah rencana kakak?” Tatapan tajam penuh kemarahan jelas terpancar dalam wajah cantik Ayuna yang sembab.

__ADS_1


__ADS_2