
"Emm...em...em." suara gumaman itu membuat Rangga seketika melepaskan pandangan dari wajah Ayuna. Ia berdehem demi memecahkan suasana. Rangga menoleh senang melihat Fikram sudah membuka mata. Namun, satu yang menjadi pusat perhatiannya, ingatan tentang penjelasan dokter kini benar terjadi. Fikram menderita stroke hingga tak bisa berbicara. Pria itu nampak menggerakkan tangannya seolah memberi peringatan pada Rangga. Entah apa yang ingin ia katakan, yang jelas Rangga mengerutkan kening tak mengerti.
"Em, Pak Ranga anda sekarang boleh pergi untuk istirahat. Saya akan menjaga ayah sendiri di sini." ucap Ayuna namun Rangga menggeleng tak setuju. Ia tidak akan meninggalkan Ayuan sendiri menjaga ayahnya di rumah sakit ini.
"Eem...emmm" gumaman serta tangan yang bergerak seolah meminta Rangga menjauh dari Ayuna segera pria itu turuti.
"Baik, Pak. Saya tidak akan dekat-dekat anak anda lagi." Rangga tersenyum melihat bagaimana pria paruh baya ini begitu posesifnya pada Ayuna. Yah memang Ayuna adalah berlian yang harus di jaga dengan sangat baik. Wanita baik, cantik, dan cerdas tentu saja akan sangat berharga dan menjadi incaran banyak orang jika tidak di jaga dengan baik.
"Ada apa dengan tatapannya?" gumam Rangga yang bingung melihat bagaimana Fikram menatap putrinya dengan penuh ketidak sukaan. Berbeda sekali ketika ia melihat tatapan itu sebelum kejadian meninggalkan rumah sakit.
Malam itu Rangga terpaksa tidur berjauhan dengan Ayuna demi membuat Fikram tenang di ranjang rawat. Hingga pagi menjelang akhirnya Rangga berpamitan harus kembali ke kantor. Ia sebenarnya sangat enggan meninggalkan Ayuna, namun rasanya tak mungkin harus di situ terus menerus.
"Pak, anda akan pergi berapa lama? Anda akan kembali lagi bukan?" pertanyaan dari Ayuna membuat Rangga tersenyum mengusap kepala wanita itu. Ia mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Aku akan segera kembali secepatnya." ujar Rangga.
Keduanya berpisah di depan pintu ruangan rawat milik Fikram. Ayuna masuk menjaga sang ayah bahkan Rangga mengatakan jangan memikirkan tentang pekerjaan sebab ia akan mengurus semuanya.
Satu hari, dua hari hingga seminggu lamanya keadaan Fikram masih tak juga ada perkembangan. Dimana Rangga merasa heran, ia sampai mengutus dokter terbaik untuk menangani calon mertuanya itu sebagai bentuk perdulinya dengan sang kekasih dan keluarga.
Ketika meeting berjalan di ruangan salah satu perusahaan pintu di gedor dengan sangat kuat. Dimana semua yang tengah fokus harus teralihkan dengan suara itu.
"Ada apa..." pertanyaannya menggantung kala melihat sosok wanita yang tak lagi cantik berdiri sangat menyedihkan di depannya.
"Ayuna," bibir Rangga bergerak lirih mengucap nama itu.
Wajah berantakan, baju robek-robek, dan bibir yang pecah terlihat begitu sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Tuan, tolong ayah saya. Saya tidak menemukan ayah saya. Tolong selamatkan ayah saya..." Manik mata Rangga sampai berkaca-kaca menyaksikan Ayuna menjatuhkan tubuhnya di depan kaki Rangga.
"Ayah di bawa kabur dari rumah sakit xx. Aku tidak tahu siapa yang membawanya, Tuan?" kening Rangga yang semula kencang mendadak mengernyit bingung.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya kala mendengar ucapan Ayuna saat ini. Pria itu nampak menggeleng menolak isi pikirannya yang menduga sesuatu buruk terjadi.
"Ayuna, berdirilah. Ayo ke ruanganku. Katakan semuanya di sana." Rangga dengan jalan tergesa meminta gadis itu mengikutinya.
Ia akan memastikan semuanya dahulu baru akan bertindak. Ayuna duduk di sofa dengan Rangga yang membersihkan wajah Ayuna. Beberapa luka di wajah Ayuna bahkan pria itu obati sendiri saat ini.
"Apa dugaanku benar jika selama beberapa hari ini yang bersamaku bukanlah dirimu?" pertanyaan Rangga seketika membuat Ayuna menoleh heran.
"Maksud anda, Tuan?"
__ADS_1