
Setelah Rangga menjelaskan semuanya awal pemilihan desa itu barulah Ayuna kini paham. Jika semua bukanlah salah pria di depannya saat ini. Rangga juga bisa di katakan berhak melakukan itu semua. Namun, yang membuat Ayuna tak habis pikir bagaimana ini semua bisa terjadi? Ia bekerja di kantor desa belum cukup lama sebab itu tak banyak yang ia tahu. Satu persatu sertifikat kepemilikan tanah pun menjadi bukti jika Rangga lah pemilik sesungguhnya saat ini. Itulah sebanya ia tidak mau tahu apa yang terjadi di desa.
"Sekarang kau mengerti bukan?" pertanyaan Rangga seketika membuat Ayuna tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengangguk mengiyakan ucapan Rangga.
"Lalu bagaimana dengan nasib para warga desa? Apa kau tega membiarkan mereka hidup tanpa masa depan seperti itu, Tuan? Kasihanilah mereka." ujar Ayuna memohon. Sikap kerasnya yang ingin datang memaki Rangga pun melemah saat tahu kebenaran memang berpihak pada Rangga.
"Bukankah aku sudah begitu baik memberikan mereka kompensasi? Bahkan setelah tanah mereka aku bayar dengan harga tinggi sebelumnya hingga menjadi milikku. Saat ini aku harus kembali mengeluarkan uang dalam jumlah tak sedikit untuk membantu mereka." Bungkam Ayuna tak bisa berkata apa pun lagi.
Benar yang Rangga katakan jika tidak seharusnya ia mengeluarkan uang lagi saat ini setelah membeli tanah itu dengan harga yang cukup tinggi. Kini Ayuna tak tahu harus berbuat apa saat tak ada lagi yang bisa ia pertahankan. Lemas rasanya kepergiannya ke kota tak membuahkan hasil sama sekali. Kini Ayuna memilih untuk segera kembali ke desa. Tak ingin mendapatkan fitnah yang tidak-tidak jika pulang larut malam. Tak perduli jika dirinya akan tiba pagi di desa nanti. Bahkan amukan sang ayah pun tak ia pikirkan saat ini. Hanya wajah orang-orang di desa yang sedih terus terbayang di benak Ayuna.
"Jadilah milikku, maka aku akan memberikan tanah di desa sebelah untuk mereka bertanam." mendengar itu Ayuna mengangkat wajahnya menatap heran pria di depannya. Apa segitu rendahnya ia sampai dengan mudahnya Rangga meminta dirinya.
Ayuna yang semula sudah membaik, kini tampak kesal lagi. Ia memutar tubuh hendak meninggalkan hotel tersebut. Rangga mengejar dan memegang pergelangan tangannya. Wanita yang ia cari tak boleh lepas begitu saja darinya.
"Bisa biarkan aku yang mengantarmu? Hari sudah sangat malam. Bahaya."
"Aku akan lebih bahaya lagi jika dengan pria sepertimu." Ayuna menghempaskan tangannya kasar meninggalkan Rangga.
__ADS_1
Tak akan perduli bagaimana penolakan Ayuna, Rangga memilih mengangkat tubuh wanita itu dengan paksa yang sedang berjalan menjauh. Di bawa Ayuna menuju loby dan masuk ke mobil. Teriakan Ayuna tentu menjadi pusat perhatian banyak orang malam itu. Ia terus meronta di gendongan Rangga, namun tak ada hasil yang ia dapatkan juga.
"Turunkan aku!" teriaknya dan saat itu juga tubuhnya bersandar pada kursi mobil.
"Duduklah dengan tenang. Aku akan mengantarmu baik-baik. Tolong dengarkan aku, kita akan langsung pulang. Sungguh aku tidak berniat apa pun." ujar Rangga memohon.
Mendengar nada bicara yang lembut dan meyakinkan, barulah Ayuna diam saat mobil itu melaju meninggalkan kota. Malam yang gelap membuat Ayuna sedikit was-was. Jujur ia sangat takut jika Rangga ternyata orang yang berniat jahat padanya.
"Apa tidak ingin berbelanja dulu?"
"Tidak." sahut Ayuna. Mendengar itu Rangga tersenyum. Yah, dia tidak salah mencintai wanita ini. Berbeda dengan sikap wanita yang satunya. Tanpa di tawari Ayana akan dengan antusiasnya meminta ini dan itu. Sementara Ayuna tidak pernah mengatakan apa pun yang ia mau. Bahkan kalau bisa ia akan pergi sendiri menjauh dari Rangga.
"Saya bukan orang jahat. Tidurlah jika lelah setelah sampai saya akan membangunkan mu." Sontak kedua mata Ayuna mendelik mendengar ucapan Rangga.
Tentu tidak semudah itu mempercayai pria ini. Mereka baru saja kenal bagaimana mungkin Ayuna tidur tanpa ada yang menjaganya. Ayuna pun hanya diam tak bersuara sama sekali. Sepanjang perjalanan rasanya mata itu sangat berat ingin terpejam. Lagi-lagi Ayuna mengerjapkan mata berusaha menahan kantuknya. Hingga di pertengahan jalan pun akhirnya ia tumbang juga. Kepalanya tersandar di sandaran kursi dan membuat Rangga pun memilih menjalankan mobil dengan pelan. Ia tidak ingin jika Ayuna terbangun karena jalanan yang mulai tidak begitu bagus.
Matanya sesekali melirik Ayuna dengan tersenyum. Bibir mungil yang begitu indah di matanya. Wajah polos yang sangat cantik di matanya sungguh tak kuasa Rangga menahan diri untuk memilikinya.
__ADS_1
"Kau harus menjadi milikku," gumamnya mantap.
Entah bagaimana caranya, Rangga tak mau tahu ia harus bisa mendapatkan gadis cantik ini. Hingga terbesit pikiran untuk membelikan sesuatu orang di rumah Ayuna. Yah cara yang terkesan sangat basi namun hanya itu yang bisa Rangga bawa di awal perkenalan dengan keluarga Ayuna. Ia ingin mengambil hati keluarganya.
Beberapa kue dan buah pun pria itu beli di toko yang ada di pinggir jalan. Kepulangan yang sangat malam membuat Rangga tak bisa mencari toko yang begitu bagus. Di mobil Ayuna begitu sangat pulas tertidur sampai tak sadar jika mobil sudah berhenti saat ini.
"Permisi yah, aku ingin memasangkan seatbelt untukmu." bisik Rangga merasa tak enak jika Ayuna akan salah paham padanya.
Sebelumnya Rangga sudah ingin melajukan mobil kembali namun saat melihat gadis itu hampir terjatuh dari tidurnya. Segera Rangga merebahkan sedikit kursii mobil yang Ayuna duduki dan memasangkan seatbelt di tubuh Ayuna.
"Mau apa anda?" Ayuna yang tak sengaja membuka mata tiba-tiba bersuara lantang. Kedua matanya membulat sempurna melihat Rangga sangat dekat dengannya.
"Tidak lihat? ini sedang apa?" tanya Rangga yang menunjukkan tangannya memegang kunci seatbelt di samping. Ayuna meliriknya dan benar saja Rangga sedang tidak berniat yang aneh-aneh.
Malu, tentu saja Ayuna malu sebab telah salah sangka padanya. Ia pun memilih diam membiarkan Rangga memasang sabuk pengaman itu di tubuhnya dan merapikannya. Melihat kursi mobil yang kurang pas, Rangga pun mendekati Ayuna semakin dekat lagi dari sebelumnya. Ia membenarkan kursi mobil sampai nyaman.
Berdekatan dengan pria tampan sepertinya sungguh membuat Ayuna kesulitan bernapas tanpa sadar. Ia mematung menahan napas dan menatap wajah tampan itu yang sangat dekat.
__ADS_1
"Bernapaslah, aku tidak mau ada yang meninggal di mobil ku."
Ayuna menunduk malu, bagaimana mungkin pria ini tahu dirinya sedang menahan napas, pikirnya. Setelah memastikan semua aman, mobil pun kembali melaju saat itu melanjutkan perjalanan. Keadan gelap di dalam mobil membuat wajah Ayuna tak nampak jika menahan malu saat ini. Gugup ia rasakan sangat meresahkan selama di perjalanan.