Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Perjanjian Bertukar Identitas


__ADS_3

Pagi harinya Ayuna nampak berkumpul menjelaskan pada warga yang tengah bersedih. Satu-satunya cara mereka memulai berkebun adalah membeli tanah di luar desa. Namun, dengan uang yang di berikan Rangga rasanya tak akan cukup. Sedangkan tanah mereka pun sudah di beli tanpa mereka dapatkan uangnya. Yah, semua sudah berlalu begitu lama dan sekarang ini baru jelas siapa yang sudah melakukannya. Rangga sebagai penerus usaha keluarga tak tahu menahu perihal jual beli tanah itu. Ia hanya meneruskan untuk mengelola tanah yang sudah di sediakan. Ayuna rasanya tak tega melihat semua orang bersedih pagi ini. Namun, ia sendiri tak bisa berbuat banyak.


Tiba-tiba saja terpikir akan tawaran gila yang Rangga berikan padanya. "Jadilah milikku, maka aku akan memberikan mereka tanah di desa sebelah yang juga sudah kami beli." itulah ucapan Rangga yang muncul di benaknya.


"Astaga, ada apa denganku?" ujar Ayuna dalam hati menggelengkan kepala.


Tak ada lagi yang bisa di perjuangkan jika sudah seperti ini. Ayuna pun memilih pergi dengan perasaan sedih. Ia menuju tempat mengajar para anak-anak. Satu persatu warga pun mulai pergi dari tempat mereka menatap kebun yang sudah rata itu. Untuk sementara waktu mereka hanya bisa bekerja sebagai buruh sawah di tanah milik pak lurah. Hanya itu satu-satunya tempat mereka meneruskan pekerjaan.


Di tengah keadaan Ayuna yang sibuk mengajar, tiba-tiba saja Rangga datang membawa beberapa makanan untuk ia bagikan pada anak-anak kecil yang sibuk belajar. Tak di sangka jika kedatangannya membuat Ayuna kesal.


"Ini waktunya belajar, Tuan. Bukan waktunya piknik." ujar Ayuna yang merasa terganggu. Dimana seharusnya ia sudah bisa menyelesaikan semua pelajaran, justru konsentrasi anak-anak teralihkan pada makanan yang Rangga bawa.


Rangga hanya terus membagikan makan tanpa perduli dengan ucapan Ayuna. Pria itu nampak menatap Ayuna dengan tatapan hangatnya. "Aku datang kemari untuk niat baik-baik. Bukan mencari musuh. Bisa turunkan pandanganmu itu?"


Ayuna memilih memalingkan wajah, namun tanpa sadar ia justru menatap sang kakak yang berada di sekitar sana. Terlihat bagaimana Ayana begitu marah padanya. Tidak. Ayuna tidak mau jika ia harus di laporkan pada sang ayah lagi hanya karena pria itu. Segera Ayuna pun berpamitan pada anak-anak dan meninggalkan Rangga yang memanggil namanya terus menerus.


"Yuna, hei Yuna! Tunggu." panggil Rangga buru-buru mengejar Ayuna. Ketika pria itu berhasil menggenggam tangannya, Ayuna menghempaskan kasar.

__ADS_1


Rangga tak ingin semakin membuat Ayuna marah. Ia memilih membiarkan saja gadis itu pergi darinya. Sontak kejadian tersebut membuat Ayana mulai paham. Jika sang adik berlaku kasar pada Rangga. Dan itu yang akan ia lakukan berikutnya ketika bertemu Rangga. Pakaian yang mereka kenakan saat ini sudah sama. Tak ada yang berbeda. Senyuman licik pun terbit di wajah Ayana kala melangkah pergi dari sana. Ia menuju ke arah jalanan yang mengarah keluar desa.


Duduk di dekat sawah yang memiliki tempat bersantai. Ayana nampak diam seolah tengah memikirkan sesuatu. Tak ada polesan di bibir lagi seperti biasanya. Ayana  benar-benar tak ada bedanya dengan Ayuna saat ini. Ide licik yang sudah ia susun saat ini nyatanya benar-benar menjadi keberuntungan. Sebab, tak lama setelah itu deretan mobil mewah pun sudah melewati jalanan hendak keluar dari desa. Yah, kedatangan Rangga saat ini hanya untuk menemui Ayuna tanpa ada kepentingan lainnya.


Dalam hati Ayana begitu tersenyum senang mengetahui mobil mewah itu tak lama lagi melewatinya. Namun, siapa sangka senyuman di dalam hatinya pudar kala mobil itu lewat begitu saja. Berbeda dari hasil pemikirannya jika ia pikir Rangga akan berhenti dan mengejarnya. Namun, pria itu justru lewat tanpa menyapa.


"Sialan. Ada apa ini? Dia tidak mungkin tahu aku siapa kan? Ini semua pasti gara-gara Ayuna." gerutu Ayana kala rencananya gagal total.


Sementara Rangga yang melihat Ayana duduk memilih lewat. Ia baru saja menemui gadis itu dan mendapat pandangan tak suka. Setidaknya Rangga harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara kembali dengannya.


Liburan yang tak terasa sudah hampir berakhir terpaksa membuat Fikram meminta sang anak kembali ke kota. Meski pun rasanya hidupnya lebih berwarna dengan adanya anak gadis dua di rumahnya saat ini.


"Aku malas kembali lagi, yah." ujar Ayana dengan santainya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun pada sang ayah.


Fikram sampai di buat kaget mendengar jawaban sang anak. Sedangkan Ayuna begitu marah mendengar ucapan sang kakak yang sangat meremehkan hal yang mati-matian mereka perjuangkan selama ini. Segera Ayuna keluar dari kamarnya menghampiri sang kakak dan ayahnya.


"Kak, apa-apaan kakak ini? Malas kembali? Apa itu artinya kakak malas kuliah? Lalu uang yang aku kirim buat sekolah kakak apa gunanya selama ini?" Bukan masalah uang sebenarnya, namun Ayuna lebih tak terima dengan kesempatan yang baik di berikan pada sang kakak justr Ayana menyia-nyiakan begitu saja. Bahkan Ayuna sampai harus kerja keras demi memenuhi kebutuhan sang kakak di kota.

__ADS_1


"Diam kamu. Tau apa sih kamu soal kuliah? Oh kamu mau kuliah kan? Yasudah pergi sana. Biarkan aku yang jaga ayah di sini. Aku mau di desa ini saja." jawab Ayana begitu mudahnya tanpa berpikir lagi.


"Ayana, ada apa? Kamu kenapa tidak mau kuliah?" tanya Fikram yang sangat syok mendengar sang anak mendadak enggan melanjutkan pendidikannya.


"Biarkan Ayuna saja, Ayah. Aku ingin menjaga ayah di sini." ujar Ayana dengan penuh kebohongan.


Meksi pun Fikram terlihat senang mendengar ucapan sang anak, tidak dengan Ayuna. Jelas ia sangat tahu apa yang menjadi tujuan sang kakak sebenarnya memilih tinggal di desa ini.


"Oke, kalau kakak mau memilih itu. Baik. Aku akan melanjutkan kuliah. Tapi dengan syarat aku akan yang akan wisuda dan bekerja selanjutnya. Tidak ada ganti-gantian lagi. Aku akan memakai nama kakak dan kakak memakai namaku." ujar Ayuna yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Sebenarnya ia sangat ingin memulai mendaftar kuliah dari awal, namun mengingat biaya yang sudah keluar sangat banyak rasanya sayang. Akhirnya Ayuna memilih untuk memakai kuliah sang kakak. Dengan begitu ia hanya melanjutkan dan tidak perlu mengurus paket C lagi.


Fikram di buat melongo dengan kesepakatan sang anak.


"Satu hal yang perlu kakak ingat. Jika tidak bisa mendapatkan apa yang kakak mau. Jangan pernah mengambil hak ku lagi." Ayuna pun melangkah masuk meninggalkan Ayana yang menatapnya sinis.


Seringai jahat Ayana perlihatkan setelah sang adik pergi. "Siap-siap kamu harus menghadapi si Berson, Ayuna." gumamnya tersenyum licik.

__ADS_1


Kini Ayana pun merasa senang ketika membayangkan dirinya yang di kejar-kejar oleh Rangga. Sungguh rasanya begitu membahagiakan.


__ADS_2