Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Sibuk Dengan Peran Masing-Masing


__ADS_3

Tak menemukan keberadaan sang kekasih di kampus, pria itu berlalu menuju kos dimana Ayana tinggal sebelumnya. Menghubungi melalui panggilan pun tak juga mendapatkan hasil. Hingga akhirnya kemarahan semakin memuncak. Sebagai kekasih, ia merasa tak terima di tinggal begitu saja apalagi ketika mendapat kekerasan dari Ayana. Tanpa ia tahu jika wanita yang bersamanya kemarin adalah Ayuna, bukan Ayana. Namun sejauh ini Berson belum juga menyadari keduanya bertukar posisi. Sebab mata dan pikirannya telah di tutupi dengan nafsu yang sudah ingin di lepaskan. Di depan kos Berson bertemu dengan gadis-gadis yang kemarin menolongnya.


"Ayana nggak ada di sini. Kan kemarin semua barangnya sudah di bawa. Tuh ibu kos lagi bersihin kamarnya buat di tempati orang baru." salah satu teman kos Ayana pun memberi tahu. Mereka semua ada yang satu kelas dengan Ayana ada juga yang berbeda jurusan.


"Kemana dia? Apa kalian benar-benar tidak tahu kemana Ayana?" tanya Berson yang bingung harus mencari kemana lagi.


Tak biasanya Ayana menghilang seperti ini bahkan tak mau mengangkat telepon darinya. Keduanya selalu bersama kemana pun pergi.


Akhirnya Berson bergegas meninggalkan kos itu setelah mendengar jawaban teman kos yang tidak tahu dimana Ayana saat ini. Sepertinya besok ia harus menunggu di kelas Ayana kuliah. Hanya itu saut-satunya cara untuk menemukan sang kekasih.


"Awas kamu, Yana. Aku tidak akan memberimu ampun." geram Berson yang sangat kesal. Bahkan saat ini kepalanya pun masih nampak di perban kecil sisa luka kemarin.


Tanpa ia tahu jika gadis yang ia cari hari ini tengah sibuk mencari kerja. Ayuna mendatangi satu persatu tempat makan hingga salon-salon wanita untuk menawarkan tenaga kerjanya. Menjadi guru les seperti di kampung tentu tidak mudah ketika berada di kota. Ada ketentuan yang harus ia miliki sebagai guru. Dan itu membuat Ayuna memilih bekerja yang jauh lebih keras. Yang terpenting ia sudah bisa mendapatkan uang untuk biaya makan dan tempat tinggal lebih dulu.


Tak terasa hari kedua kuliah kini datang lagi. Ayuna bangun dan membersihkan kos kemudian membantu ibu kos memasak di dapur. Mereka semua duduk usai memasak dengan kerja sama. Sarapan lalu pergi berangkat ke tempat tujan masing-masing. Ada beberapa yang kerja dan juga ada yang kuliah, namun berbeda kampus dengan Ayuna.


"Yan, nanti jadikan ke perpus?" tanya teman Ayuna yang janjian dengannya sejak kemarin. Ayuna pung mengangguk. Ada perasaan aneh setiap kali orang harus memanggilnya dengan nama sang kakak.


"Iya, jadi dong." ujarnya tersenyum.


Ayuna tidak sadar jika di belakangnya ada seorang pria yang tengah mengintainya saat ini. Selama jam kuliah berlangsung Berson nampak terheran-heran sebab Ayana begitu fokus kuliah. Sibuk menulis semua yang menurutnya penting. Tak biasanya wanita itu sangat rajin belajar. Berkali-kali Berson di buat heran. Hingga tak terasa jam perkuliahan pun akhirnya usai. Buru-buru Ayuna bergegas keluar bersama sang teman. Namun, di depan kelas tangannya justru di cengkram begitu kuat oleh Berson.


"Berson?" tanyanya tak percaya pria itu di kelas entah sejak kapan. Ia sendiri tidak tahu.

__ADS_1


"Ayo ikut." Berson menarik kasar tangan Ayuna hingga menyeret wanita itu keluar dari kampus.


Liana, teman yang bersama dengan Ayuna hanya menatap takut. Pasalnya ia tahu Berson adalah pria yang sangat kasar dengan wanita. Selama ini perilaku Berson tentu di dukung oleh Ayana. Namun, sekarang justru terlihat wanita itu tak berdaya ketika di tarik kuat oleh kekasihnya sendiri.


Berson menarik paksa Ayuna hingga tiba di parkiran kampus. Ia tak perduli bagaimana banyak mata yang memandang. Hingga akhirnya pria itu menyalakan motor dan hendak membawa Ayuna ke kos.


"Ayana!" teriaknya saat melihat Ayana sudah berlari menjauh. Wanita itu berhasil kembali kabur saat ini. Berson tak habis pikir apa yang terjadi dengan kekasihnya saat ini? Ia sendiri pun belum sempat berbicara apa-apa dengan gadis itu. Ayana begitu tampak ketakutan ketika bertemu dengannya.


Hari itu Ayuna pun berhasil lolos dari cengkraman Berson. Ia tampak fokus di perpustakaan. Setidaknya di sini ia akan jauh lebih aman. Hingga kuliah kedua ia begitu was-was ketika ingin masuk ke kelas. Meski pun Liana sudah mengatakan jika tak ada Berson di kelasnya.


Keesokan harinya, Ayuna pun berjalan mencari kerja setelah hari kemarin tak mendapatkan hasil sama sekali. Kini ia kembali menelusuri jalan yang belum ia lewati kemarin.


"Bagaimana bisa belum dapat. Ini sudah sabtu sore. Nanti malam cafe kita akan sangat ramai. Tenaga yang biasa kita pakai seharusnya bisa mencari ganti dong. Kita kan sudah bayar lebih untuk satu bulannya. Kalau tidak bisa, yah berarti kalian harus bekerja lebih cepat lagi. Apa kalian sanggup?" suara seorang pria marah-marah pada beberapa karyawannya terdengar hingga di jalan tempat Ayuna menatap sekeliling mencari tulisan barangkali ada lowongan kerja.


"Permisi, Pak." Ayuna datang mendekat pada beberapa orang yang berdiri berkumpul.


"Ada apa?" ketus pria itu menjawab, sebab emosinya nampak belum stabil.


"Apa bapak membutuhkan tenaga kerja? Saya bisa, Pak. Melakukan apa saja yang penting kerja di sini saya mau. Saya butuh pekerjaan, Pak." Dengan polosnya Ayuna mengungkapkan keinginannya.


Semua nampak terdiam. Meski yang mereka butuhkan ada tiga tenaga kerja tambahan di malam minggu, satu dari Ayuna rasanya bukanlah pilihan yang begitu buruk. Pria itu pun mengangguk menerima kedatangan Ayuna.


"Oke. Kamu di terima. Bagian waiters yah? Tinggal mencari bagian cuci piring lagi." sahut sang bos yang melihat jika penampilan dan tampang Ayuna memang cocok untuk melayani pengunjug.

__ADS_1


"Boleh saya bantu carikan, Pak?" usul Ayuna lagi saat mengingat ada salah satu teman kosnya yang juga ingin mendapatkan pekerjaan.


Sang bos pun mengiyakan saat itu juga. Ayuna begitu senang, ia nampak berkenalan dengan beberapa pekerja di sana. Mereka semua menerima kedatangan Ayuna dengan baik. Setelahnya Ayuna menghubungi sang teman untuk segera datang. Satu tenaga lagi di dapatkan hari itu.


Di malam minggu akhirnya Ayuna bekerja dengan teman satu kosnya. Mira, namanya. Ia begitu berterimakasih pada Ayuna yang dengan baiknya ikut memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan. Sungguh kini Ayuna merasakan hidupnya sangat tenang berada jauh dari kakak dan juga ayahnya. Namun, sedih tentu ia rasakan tak bisa mengurus sang ayah lagi. Sejahat apa pun sang ayah padanya, Fikram tetaplah pria yang menjadi pelindung Ayuna sejak pertama kali ia di lahirkan. Sangat sedih rasanya melihat jarak mereka yang saat ini sudah semakin jauh. Terlebih, Ayuna tak hentinya memikirkan apa yang di makan sang ayah di desa ketika sang kakak mengurus rumah.


Ayuna yakin Ayana tak akan mengurus sang ayah sebaik yang ia lakukan selama ini ketika di rumah. Memasak pun sang kakak tak pernah mau melakukannya.


"Eh, Yun. Jangan melamun. Nanti bos lihat di marah loh." tegur salah satu teman kerjanya yang meliha Ayuna melamun saat membersihkan meja pengunjung.


"Iya. Maaf yah." ujar Ayuna tersenyum canggung.


Berbeda dengan peran yang di lakukan oleh Ayana saat ini di desa. Rumah yang berantakan di biarkan begitu saja. Bahkan sang ayah kelaparan harus memasak mie sendiri.


"Buatkan ayah kopi, Ayana. Sejak pagi ayah makan mie tanpa nasi. Penghasilan juga belum ada." ujar Fikram berbicara dengan lembutnya pada sang anak.


"Itu kan tadi aku sudah masak nasi, Ayah. Cuman masih mentah gara-gara gagal. Ini Rangga mau jemput katanya. Udah nggak sempat mau buatin ayah kopi lagi. Di warung depan kan ada tuh. Ayah kesana saja." Ayuna nampak sibuk memakai baju. Meski malam ini ia harus tak memakai apa pun di wajahnya.


"Huh muka kampungan banget begini. Gara-gara si Yuna ni. Harusnya aku tampil cantik malam ini." Sepanjang berdiri di depan cermin Ayana tak hentinya mengomel pada sang adik yang bahkan tidak tahu apa-apa saat ini.


Sesuai janji Rangga, sebagai permintaan maafnya ia ingin membawa Ayana bertemu dengan keluarga untuk membicarakan solusi para warga yang sudah tertipu dengan perangkat desa di waktu lalu. Setidaknya Rangga akan menebus kesalahan yang sebenarnya bukanlah kesalahannya saat ini.


 Fikram hanya menghela napasnya merasa tak nyaman di bagian perut. Rasanya seperti kembung lantaran tak terisi makanan dengan baik.

__ADS_1


"Biasa Ayuna selalu sediakan makan di meja." gumam pria itu tiba-tiba mengingat sang anak kedua yang sudah tak ada di rumah saat ini.


__ADS_2