
Pagi hari di mana Ayuna begitu bersemangat untuk bekerja sebelum akhirnya ia bergegas kuliah, namun pergerakan itu terhenti kala ponsel milik gadis cantik itu berdering. Kening Ayuna mengerut dalam melihat tetangga di desa yang tidak biasanya menghubunginya Jika di hitung uang yang ia berikan masih banyak untuk makan sang ayah. Segera ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, Bu." sahut Ayuna lembut.
"Yuna, ayahmu sakit. Kemarin sudah ibu bantu bawa urut tapi sampai pagi ini demamnya nggak turun-turun juga." ujar wanita paruh baya itu nampak cemas terdengar dari suaranya.
Ayuna seketika diam mematung. "Ayah..."
"Baik, Bu. Saya segera pulang hari ini juga setelah mendapat ijin dari atasan saya." panggilan pun terputus begitu saja. Ayuna segera menuju ke kantor dimana Bu Putri sebagai pemilik perusahaan tersebut. Yang sesungguhnya adalah pemilik aslinya yaitu Rangga. Entah bagaimana jadinya Ayuna jika mengetahui semua ini.
"Kamu mau ijin hari ini saja kan, Yuna? Tidak masalah. Pekerjaan memang sangat banyak tapi ayah kamu lebih utama." Ada perasaan bersalah di hati Yuna mendengar ucapan sang atasan. Bagaimana pun juga Yuna sudah banyak di bantu oleh wanita di depannya ini. Dan ia bekerja saja belum genap satu bulan bagaimana mungkin ia meminta izin. Sungguh Ayuna merasa serba salah sekali.
__ADS_1
"Saya ijin langsung pulang hari ini juga, Bu. Ayah biar saya bawa ke sini saja. Sebab saya juga harus kuliah." mendengar ucapan Ayuna, Bu Putri tampak tersenyum. Ia mendukung keputusan Ayuna yang memang sangat tepat. Tak baik meninggalkan sang ayah sendiri di desa sana.
"Baik, segera kabari ibu jika sudah sampai kembali di kota yah? Dan biarkan supir mengantarmu untuk menjemput ayahmu juga." Ayuna kaget mendengarnya, ia gelagapan ketika mendengar permintaan Bu Putri yang lagi-lagi terlalu baik.
"Jangan repot seperti itu, Bu. Saya bisa naik angkutan umum saja kok, Bu." sahut Ayuna yang sungkan namun bukan calon mertua yang baik namanya jika membiarkan sang menantu pulang tanpa di antar dengan mobil mewah dan pengawalan yang ketat.
"Pergilah dengan supir, Ayuna. Jangan menolak niat baik saya." Ayuna pun hanya bisa menurut saja tanpa berkata apa pun lagi.
Setelah mendapatkan izin, ia pun bertolak menuju desa siap menjemput sang ayah. Tanpa Ayuna tahu jika lagi-lagi di sini bu Putri sudah menyiapkan sebuah rumah yang tidak begitu besar namun sangat mewah di dalamnya. Tentu akan sangat nyaman di tinggali. Mengetahui sifat Ayuna yang sederhana sudah yakin jika pemberian ini pasti akan di tolaknya, namun ia akan tetap mengusahakan agar Ayuna menerima.
"Huh ada apa lagi sih, Rangga?" tanya Putri kesal karena kesibukannya harus terganggu oleh panggilan telepon dari sang anak yang sudah tak pernah lagi menampakkan wajahnya.
__ADS_1
"Mah, sudah belum waktunya aku keluar? Aku juga mau terlihat seperti orang baik di depan Ayuna." ujarnya yang tak sabar setelah mendapatkan laporan dari sang ibu jika Ayuna akan di berikan rumah untuk tinggal bersama sang ayah.
Mendengar rengekan sang anak, Putri memutar malas kedua bola matanya. "Kamu ini kok gitu sih? Sabar napa? Mamah lagi usaha yang terbaik. Sudah duduk diam manis, kerjakan kerjaan kamu majukan perusahaan makin kaya lagi. Mamah sudah bantu kamu banyak. Mamah mau minta bagian keliling dunia setelah misi ini selesai." Rangga yang tak sempat bicara lagi ketika panggilan sudah terputus begitu saja akhirnya hanya bisa menggaruk keningnya pusing.
Lain halnya dengan keadaan di kos milik Ayana. Tepat jam sepuluh menjelang siang, dimana kedua manusia yang bertubuh polos itu baru saja bangun. Ketika di luar sana orang-orang sudah nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, di sini mereka justru membuang-buang waktu dengan bermalas-malasan saja.
"Sayang, laper. Beli makan dong." ujar Ayana merengek pada Berson yang masih mengorok.
"Ambil aja uang di celana tuh. Beli sana." pintah pria itu dengan malasnya membuka mata.
Ayana pun bergegas meninggalkan kamar untuk membeli makan tanpa membersihkan tubuhnya lebih dulu sebab perutnya sudah berdemo ingin di isi segera.
__ADS_1