Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Tamat


__ADS_3

Kedatangan yang ia pikir adalah tamu pertama ternyata salah, Ayuna melihat sosok wanita yang paling berperan besar dalam hidupnya. Senyuman hangat ia dapatkan dari wanita yang selama ini selalu membantunya.


"Bu Putri?" Ayuna mendekat meninggalkan Rangga yang menggandeng pinggang langsing itu. Ia memeluk wanita di depannya dan Putri pun turut membalas pelukan sang calon menantu.


Melihat kedekatan dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya, tentu saja Rangga sangat bahagia.


"Jadi lamaran anak Ibu di terima nggak, Yuna?" tanya Putri menatap Ayuna yang di depannya saat ini. Malu-malu Ayuna hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia tersenyum kikuk.


Sepertinya semua yang Rangga lakukan tak lepas dari pengetahuan sang ibu tentunya. Dimana rumah yang akan mereka tinggali pun sudah di ketahui oleh wanita itu.


Ayuna tak bisa berkata apa pun lagi. Rasanya ia terlalu sangat bahagia mendapatkan kebaikan ibu dan anak ini. Hari itu dari rumah megah yang masih baru Rangga membawa Ayuna dan sang ibu menuju butik. Ayuna kembali di buat takjub ketika kedatangan mereka sudah di sambut dengan pemilik butik tersebut. Sebuah gaun putih dan satu lagi berwarna nude di perlihatkan oleh pemilik butik tersebut.


"Pesanan anda sudah selesai, Tuan. Dan mungkin untuk gaun pilihan dari Nona Ayuna bisa silahkan di pilih desain terbarunya..."


Ayuna membuka mulut lebar tak percaya mendengar jika ia akan memilih gaun lagi sedangkan dua gaun di depannya sudah sangat sempurna.


"Em Rangga, gaun untuk apa lagi yang harus ku pilih. Dua ini sudah cukup kan?" tanyanya heran.

__ADS_1


Bukan Rangga yang bersuara melainkan sang ibu. Putri nampak mengusap lembut kepala Ayuna yang berambut panjang.


"Sayang, bagaimana mungkin hanya dua gaun? Acara kalian tiga hari tiga malam." Saat itu juga kedua bola mata Ayuna membulat sempurna mendengar penuturan wanita paruh baya itu.


"A-apa? Tiga hari, Bu?" tanya Ayuna.


Segera Putri pun menemani Ayuna memilih desain terbaru begitu pun Rangga yang ikut memilih warna yang cocok dengan sang calon istri. Mereka begitu kompak, Ayuna setiap kali memilih model gaun ia akan mengikut sertakan pendapat sang calon suami.


Kelembutan Ayuna dalam berbicara selalu menjadi pusat perhatian pemilik butik itu. Ia tersenyum paham mengapa seorang Rangga jatuh hati pada wanita cantik ini.


Singkat cerita, tibalah waktu yang sangat di nantikan banyak orang. Seluruh keluarga besar nampak hadir di acara perdana keluarga Wijaya. Pengantin pria dan wanita nampak berdiri menatap semua tamu undangan yang hadir. Hari pertama memang Rangga tetapkan sebagai undangan para keluarga. Dan esok untuk para rekan di kantor yang terdiri dari beberapa cabang termasuk perusahaan sang ibu. Dan hari ketiga adalah acara untuk para pembisnis.


"Ngga, katanya tiga hari tiga malam. Tapi, ini kan cuman tiga hari?" tanya Ayuna ketika acara sudah selesai dan mereka sudah di kamar yang ada di rumah baru itu.


Rangga tersenyum saat ia memainkan ponsel sejenak untuk mematikan benda pipih itu. Di letakkan ponsel tersebut pada nakas di sisi ranjang. Lalu pria tampan itu mendekat.


"Malamnya kan acara untuk kita berdua di kamar. Sudah lengkap kan acara tiga hari tiga malamnya." Ayuna terkekeh melihat godaan sang suami tampannya yang sudah menggendong kembali tubuh langsing itu naik ke atas ranjang.

__ADS_1


Jeritan erangan kembali menggema untuk ketiga malamnya. Keduanya saling melepas rindu setelah seharian menerima tamu undangan.


Akhirnya setelah perjalanan singkat penuh derita Ayuna kini berakhir dengan kebahagiaan bertemu seorang pria yang begitu sempurna di matanya. Rangga adalah pria paket lengkap yang Tuhan sediakan untuk Ayuna. Begitu pun sebaliknya. Tak ada di dunia ini yang beruntung hanya salah satu. Keduanya sama-sama beruntung memiliki pasangan dengan Ayuna yang pandai dalam segala hal termasuk memanjakan sang suami di atas ranjang mau pun di dapur.


"Ayah, Ibu, anakmu kini sudah bahagia. Ayuna sudah mendapatkan tempat berlindung yang tepat. Doakan Ayuna bisa hidup bahagia selalu dengan suami Ayuna." Di sinilah mereka berada saat ini setelah hari ke lima pernikahan keduanya. Pemakaman yang menjadi tempat Ayuna melepas rindu pada keluarganya yang telah tiada.


Ia menatap nisan dua yang berdampingan itu. Nisan kedua orangtuanya yang telah tiada.


"Ayuna rindu kalian, Ayah, Ibu." Usai memeluk dan mencium nisan keduanya, kini Ayuna beralih pada nisan sang kakak.


"Kak, maafkan Ayuna. Maafkan Ayuna belum bisa menjadi adik yang baik. Kakak sudah bertemu Ayah dan Ibu. Jaga mereka yah, Kak. Kalian sudah sama-sama dan di sini tinggal aku bersama Rangga dan Bu Putri. Semoga kelak kita di pertemukan kembali..." Rangga memeluk tubuh sang istri dengan erat.


"Sudah siap?" tanya Rangga. Ayuna mengangguk menuju mobil. Hari ini juga mereka akan liburan ke luar negeri.


Pesawat terbang dengan tenang saat mengudara di atas awan. Ayuna menggenggam tangan sang suami dengan sangat erat. Tak pernah terpikirkan hidupnya akan seindah ini.


"Andai aku bisa menulis hal indah ini di awan putih itu. Aku ingin semua orang yang lewat di sini akan tahu betapa aku bahagianya memiliki suami saat ini." gumam Ayuna memejamkan mata usai menatap awan putih yang seperti kapas lembutnya.

__ADS_1


The End


__ADS_2