
Kini Ayuna tinggal berdua saja dengan sang ayah di ruangan rawat. Bu Putri sudah pamit undur diri setelah memastikan pelayanan untuk sang calon besan yang terbaik. Fikram nampak menatap sang anak dengan tatapan sedih dan penuh penyesalan. Gadis yang sering ia perlakukan dengan kasar kini berubah menjadi malaikan tak bersayap untuknya. Sungguh penyesalan tiada akhir membuat pria itu justru menangis.
“Ayah, ada apa? Apa yang sakit?” tanya Ayuna yang berbalik dan mendekati Fikram. Semula gadis itu berberes barang-barang yang ia bawa dari desa. Serta makanan yang di bawakan oleh Bu Putri tadi.
“Maafkan Ayah, Yuna. Ayah sangat banyak bersalah padamu.” Ayuna menggeleng mendengar penuturan sang ayah.
“Semua sudah lewat, Ayah. Yang terpenting sekarang ayah sehat. Besok Ayuna harus kerja dan kuliah, ada suster yang akan menjaga ayah. Tidak apa kan?”
“Tidak perlu di jaga. Ayah baik-baik saja, Ayuna.” sahut Fikram yang tidak ingin sama sekali merepotkan sang anak. Terlebih ia tahu pasti biaya yang di keluarkan Ayuna akan jauh lebih besar jika ada perawat yang menjaganya.
Ayuna tetap kekeuh untuk memberikan satu orang perawat pada sang ayah. Malam itu ia pun tidur di ruang rawat menemani Fikram meski ayahnya meminta untuk kembali ke tempat tinggalnya.
Tak habis pikir dengan keadaan yang sangat di luar dugaan. Di saat dirinya terpuruk seperti ini justru anak yang ia sia-siakan selama ini yang menjaga dan merawat sepenuh hati. Sedang Ayana yang ia agungkan selama ini kini tengah sibuk menikmati suasana malam di sebuah club.
Frustasi membuat gadis itu kembali mencari pelarian. Sejak bertemu dengan Rangga sampai malam ini pun ia terus menantikan kabar dari Rangga namun tak ada tanda-tanda sama sekali. Bahkan untuk meminta nomor ponsel, Ayana tak sempat.
“Kemana aku harus mencarinya?” gumam Ayana bertanya-tanya. Sosok Rangga yang sangat sulit di temukan. Kalangan atas memang tak selalu berkeliaran di luar. Sebab ia memiliki kesibukan yang super padat.
Bukan hanya pekerjaan, namun Rangga sibuk menantikan ijin dari sang ibu untuk muncul di hadapan sang pujaan hati.
Di kediaman megah milik Rangga, kini sang ibu menikmati makan malamnya dengan satu-satunya anak kesayangannya itu.
“Mah,” sahut Rangga memulai bersuara.
“Belum waktunya, Rangga.” ujar Putri yang tahu apa kelanjutan dari ucapan sang anak.
“Keburu di ambil orang nanti.” ujar Rangga kesal.
__ADS_1
“Yah berarti bukan jodohmu.” Dengan mudahnya Putri berkata dan itu sukses membuat Rangga mendelikkan matanya.
“Besok, datang ke kantor saat mamah minta.” Wah bukan kepala senangnya Rangga mendengar ucapan sang mamah hingga wajah tampan yang semula menekuk itu berbinar bahagia.
“Tapi ingat, jangan melewati batas. Mamah akan ke luar kota besok. Kamu yang akan menggantikan mamah menemui klien bersama Ayuna.” Sungguh Rangga benar-benar tak menyangka sang mamah memberikannya kesempatan dengan waktu yang tak ia duga.
Meski di perusahaan pusat milik Rangga saat ini sedang sibuk-sibuknya, saat itu juga Rangga menghubungi sang sekertaris.
“Batalkan semua pertemuan besok.” Itulah pesan yang ia sampaikan sebelum panggilan kembali ia matikan. Rangga lebih memilih untuk menggantikan posisi sang mamah besok.
Usai makan malam, Putri memberikan file pada sang anak untuk pembahasan besok dengan sang klien. Ayuna pun juga sudah memegang salinannya.
“Kerja yang bagus. Jangan mikir lain-lain,” pintah wanita paruh baya itu yang tak di jawab oleh Rangga.
Sepertinya Putri membuat anaknya tanpa sadar menjadi sindrom senyum. Satu malaman itu Rangga tak hentinya menebar senyum di wajah sampai ia berbaring di tempat tidur pun terus saja tersenyum. Tak sabar rasanya bertemu Ayuna.
Keesokan harinya jam kuliah pagi dimana Ayuna dan Ayana datang bersamaan. Kelas yang kala itu sudah penuh membuat semua teman-teman mereka bingung membedakan keduanya. Hanya penampilanlah yang bisa mereka jadikan patokan.
“Permisi, Pak.” ujar Ayuna lembut dan duduk di deretan kursi depan. Hal itu pula yang menjadi pembeda keduanya. Jika Ayana akan langsung masuk dan duduk dengan sombongnya.
“Nggak bisa apa kayak saudara kembar lu? Sopan sedikit napa?” sahut salah satu teman di samping Ayana.
“Sewot sih?” ketus Ayana acuh.
Perkuliahan pun di mulai dengan absen yang tak pernah di tinggalkan. Hingga akhirnya dosen pun memanggil Ayana.
“Ayana, tugasnya mana?” Mendengar namanya di panggil Ayana justru hanya memutar mata malas.
__ADS_1
“Besok, Pak. Saya lupa.” ujarnya membuat sang dosen jengah.
“Nilai kamu masih kosong di beberapa tugas kuliah. Kalau kamu tidak juga segera mengumpulkan dalam minggu ini jangan harap ada kesempatan.”
Semua hening mendengar dosen di depan berbicara. Ayuna heran dengan sang kakak. Hanya perkara tugas saja ia tak memikirkannya.
Dan siang harinya setelah perkuliahan usai, akhirnya Ayuna bergegas keluar kampus. Tak ia sadari jika sang kakak justru menguntitnya sampai ke rumah sakit.
“Ngapain di ke sana? Paling mentok juga jadi tukang bersih-bersih.” ujar Ayana yang enggan mencari tahu dan memilih pergi.
Merasa kegiatan sang adik begitu membosankan, tanpa ia tahu jika di dalam sana ada sang ayah yang sedang di rawat.
Memastikan sang ayah makan dengan cukup, barulah gadis baik hati itu pamit untuk bekerja. Malam ini Ayuna akan mengambil jam lembur sebab siang ia berkuliah cukup padat sampai setengah hari.
Gedung yang tidak begitu besar di bandingkan perusahaan utama milik Rangga, kini Ayuna sudah tiba di depan sebuah ruangan sang bos.
“Em Yuna, maukah kau berdamai denganku?”
“Yuna, maaf. Aku adalah anak dari bossmu,”
“Huh…kenapa begitu!”
“Ayuna, kita akan kerja sama mulai sekarang.”
Berulang kali di dalam ruangan Rangga menyusun kata hingga akhirnya suara pintu di ketuk dan terbuka membuat pria itu terdiam mematung.
Hanya mata saja yang mampu Rangga gerakkan ketika melihat sosok Ayuna berdiri di ambang pintu dengan wajah syok.
__ADS_1
Bibir mungil itu membentuk huruf O begitu besar. Keduanya sama-sama terdiam mematung tak ada yang bergerak atau pun bersuara.