Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Kedatangan Ayuna


__ADS_3

Ketika waktu sudah nampak gelap dimana sinar matahari mulai berwarna jingga menjadi pemandangan yang seharusnya sangat menyenangkan di lihat oleh mata. Sayang hal tersebut tak berlaku untuk saat ini. Kala sinar mentari yang sudah hampir tertutup menyinari hamparan tanah yang rata di depan sana. Sudah tak ada lagi pemandangan kebun yang menampakkan buah-buah segarnya. Ayuna sedih sekali melihat ini semua. Sekali pun lahan itu bukanlah miliknya, namun khas desa yang ia tinggali seperti lenyap terbawa gusuran kebun tersebut. Sore hari setelah semua selesai barulah Fikram mengeluarkan sang anak dari kurungan kamarnya. Meski pun lahan tersebut sangat luas, perusahaan mengirim alat berat tak tanggung-tanggung. Satu hari semua sudah selesai di kerjakan.


"Mereka benar-benar orang jahat. Aku akan menemui pria tidak punya hati itu." ujar Ayuna melangkah pulang dengan wajah sangat marah.


Banyak warga desa yang duduk di depan rumah mereka dengan wajah sedih. Tak ada lagi yang bisa mereka harapkan selain uang di tangan mereka. Ketika uang itu habis entah mereka akan berharap dengan penghasilan apa lagi. Menjadi pekerja di pabrik yang akan di bangun tersebut, rasanya tidak mungkin. Usia mereka sudah banyak yang tak memiliki peluang untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hanya berkebun dengan lahan sendiri lah yang bisa mereka andalkan sampai akhir hidupnya.


"Ayuna," kedatangan gadis itu kini di sambut hangat oleh kepala desa.


Wajah kepala desa nampak begitu puas saat melihat Ayuna yang menghampirinya. Semua sudah berjalan dengan lancar dan Ayuna akan kembali bekerja di kantor desa, itulah yang ia pikir saat ini.


"Pak Kodir, bisa saya minta nomor kontak pemilik pabrik yang akan di bangun itu?" tanya Ayuna dengan wajah dinginnya.


"Untuk apa, Ayuna? semua sudah bereskan. Ayahmu sudah memberikan kamu uang kompensasi bukan?" tanya Pak Kodir yang masih basa basi.


"Justru itu saya mau mengucapkan terimakasih, Pak. Dan saya akan meminta maaf pada beliau untuk penolakan kemarin." Pak Kodir pun tersenyum senang mendengarnya.


Segera pria itu memberikan kontak Rangga. Dan malam itu juga Ayuna menaiki angkot untuk mencari taksi menuju kota. Setelah mendapat alamat Rangga dari orangnya sendiri, Ayuna bergegas pergi. Untuk pertama kalinya ia keluar kota bahkan tak ada meminta izin pada sang yah. Hanya bermodal amarah, Ayuna berubah menjadi gadis yang sangat berbeda saat ini.


Jika bukan dirinya lalu siapa lagi yang bisa mengasihani warga yang tak memiliki apa pun lagi. Perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam pun telah usai ia lewati, Ayuna nampak di jemput seorang anak buah Rangga di depan loby hotel malam itu juga. Dengan pakaian sederhana kedatangannya tentu saja mengundang banyak mata di hotel itu menatap aneh padanya.

__ADS_1


Sebutan wanita panggilan mungkin bisa sedikit lebih tepat sebab memasuki hotel. Namun, penampilan wanita panggilan setidaknya sedikit lebih menarik dari pada Ayuna saat ini.


"Selamat malam, Tuan." sapa sang asisten yang membuka pintu di mana di belakangnya ada gadis cantik yang berdiri dengan menatap tajam pada Rangga.


Di dalam nampak pria tampan dengan tubuh tegapnya memakai kaca mata kerja tengah berhadapan dengan laptop di meja kerja. Padahal waktu malam sudah begitu larut namun ia masih bekerja saja. Semula Rangga melirik kedatangan gadis yang sudah tak lagi membuatnya penasaran. Namun, saat baru saja menundukkan kepala fokus pada laptop tiba-tiba saja Rangga mengangkat wajah dan melihat Ayuna lagi. Kaca mata ia lepas dengan mengerjapan matanya.


Mengapa wanita di depannya membuatnya penasaran kembali?


"Ada apa mencariku?" tanya Rangga yang memulai percakapan.


"Kembalikan hak semua warga, Tuan. Aku harap anda memiliki hati walau sedikit pun saja. Kasihani kami rakyat kecil yang hanya menggantungkan hidup dengan sepetak kebun saja." tanpa basa basi Ayuna pun mengutarakan niatnya datang malam-malam begini.


"Aku harap kau tidak lupa ingatan. Baru saja kau mengatakan sangat setuju kenapa berubah lagi? Ayolah bukankah aku sudah memenuhi semua kebutuhanmu bahkan aku memberinya dengan lebih bukan?" Mendengar ucapan dari Rangga, Ayuna menatap dalam.


Sementara di desa Ayana begitu panik mencari sang adik. "Ayah, dimana Yuna?" tanya Ayana berteriak kala sang ayah duduk santai di teras dengan kopi dan juga kue yang ia beli.


Nikmat rasanya Fikram tak bekerja satu hari ini. Tubuhnya begitu senang ia bawa bersantai-santai tanpa panas-panasan. Tanpa ia pikirkan bagaimana kehidupan ke depannya ketika uang yang tak seberapa jumlahnya itu habis.


"Paling tidur. Suruh Ayuna masak mie buat ayah." jawab Fikram santai.

__ADS_1


"Ayah, Ayuna tidak ada di kamarnya. Awas saja kalau dia sampai datangi Tuan tampan itu." ujar Ayana tak terima jika posisinya akan di rebut oleh sang adik.


Abai akan perintah sang ayah yang ingin memakan indomie, Ayana justru keluar dari rumah mencari sang adik di beberapa rumah tetangga barangkali Ayuna ada di sana.


"Jangan main-main denganku! Kau baru saja mengatakan setuju akan hal itu." Ayuna bergetar tubuhnya kala Rangga marah mendengar Ayuna tak setuju dengan penggusuran tersebut.  Bahkan saat ini tubuhnya sudah terhimpit oleh dinding hotel mewah itu.


Namun, sekali pun tubuh itu bergetar Ayuna tak mau menurunkan pandangannya pada kedua mata Rangga. "Saya tidak pernah main-main, Tuan. Kembalikan hak mereka yang kau rebut. Satu kali pun saya tidak pernah mengatakan untuk setuju akan hal itu,"


Rangga yang murka mendengar ucapan Ayuna langsung beralih ke meja kerjanya mengambil sesuatu. Sebuah berkas yang tebal dan Ayuna sendiri tidak tahu apa itu.


"Jangan pernah membodohi saya-" Ucapan Rangga pun di hentikan oleh Ayuna.


"Saya tidak pernah membodohi anda. Satu hal yang anda perlu tahu, saya bukan wanita murahan yang bisa anda berikan segalanya dan mengikuti apa yang anda katakan. Saya bukan gadis itu." sahut Ayuna yang membuat Rangga memalingkan wajah dari berkas yang baru saja ingin ia buka. Rangga menatap tajam Ayuna masih tak mengerti maksud ucapannya.


Ayuna tersenyum kecil, untuk pertama kalinya ia bertingka seberani ini. "Dia saudara kembarku. Dan saya bukan gadis yang kau belanjakan banyak barang itu. Sebab sampai kapan pun saya tidak akan mau menerima itu dari anda perebut hak orang kecil."


"Berhenti menjelekkan namaku!" Suara lantang Rangga menggelegar saat itu. Tanganya menarik tangan Ayuna mendekat ke meja dan ia tunjuk berkas di sana. Rangga yang kesal merasa telah di permainkan tak perduli dengan tubuh Ayuna yang hampir terjatuh sebab ia menarik keras sekali.


"Lihat dan baca benar." Satu persatu Ayuna membaca dengan teliti. Keningnya pun mengerut dalam melihat apa yang ia baca saat ini. Ayuna menggelengkan kepala. Satu persatu nama ia baca demi memastikan kembali kebenarannya.

__ADS_1


"Tidak, ini pasti palsu." ujar Ayuna.


Jika Ayuna syok melihat tulisan di depannya. Berbeda dengan Rangga yang juga syok mengetahui jika dia menemukan dua wanita yang sama namun berbeda. Sungguh, kini ia merasakan kembalu getaran hati kala berdekatan dengan sosok gadis yang membuatnya tergila-gila pada pandangan pertama. Namun, entah bagaimana Ayuna padanya. Sedari awal pertemuan, Ayuna begitu menilai buruk pria tampan yang bersamanya saat ini.


__ADS_2