
Semua mata menatap tajam kedatangan Ayana saat itu. Sebuah ballroom menjadi tempat yang di pilih oleh Rangga untuk makan malam. Kedatangannya di sambut hangat dengan semua keluarga namun tidak pada gadis desa yang menjelma menjadi bidadari malam itu. Ayana memiliki paras yang begitu sangat cantik, tak di ragukan oleh mereka. Tapi satu hal yang mereka tahu dia adalah gadis yang tidak memiliki pendidikan baik bahkan berasal dari desa yang bisa saja hanya memanfaatkan kekuasaan keluarga Wijaya. Rangga tahu kedatangannya membawa Ayana tidaklah mudah di terima keluarga. Tetapi wanita cantik ini sudah mencuri seluruh hatinya dimana Rangga tak bisa lagi melepas wanita yang sudah memikat hatinya sampai seperti ini.
"Ayo," ajaknya menggenggam tangan Ayana saat itu menuju kursi yang masih kosong. Ayuna nampak menundukkan kepala tanda hormat pada semua anggota keluarga. Disana keadaan masih hening tak ada yang berbicara.
Sekali pun Ayana sedang berakting, rasanya malam ini sungguh mematikan baginya. "Harusnya Ayuna yang menghadapi ini semua. Huh menyebalkan, jika tidak karena Rangga sudah ku tatap mereka satu persatu. Enak saja menindasku seperti ini." gumam Ayana kesal sekali. Sebisa mungkin ia bersikap lembut.
Biarlah mereka semua tidak menyukai Ayana. Yang terpenting ia berhasil mencuri hati Rangga sepenuhnya. Sungguh membayangkan menikah dengan pria tampan di sampingnya begitu membuat Ayana lupa akan siapa dirinya sebenarnya.
"Yuna, kenalkan ini Mamah saya, Mamah Putri. Ini Paman Jemy kakak mamah saya. Dan ini Paman Sandi. Keduanya adalah istri mereka." Rangga memperkenalkan semua anggota keluarganya yang memang tidak begitu banyak.
Sang ayah sudah pergi bersama kakek dan nenek. Sementara para sepupu sedang bekerja dan ada juga yang sibuk dengan kuliah mereka. Kedua paman inilah yang membantu Rangga untuk mengurus segala anak perusahaan yang mereka miliki.
Ayana pun tersenyum mengangguk. "Perkenalkan saya Ay-una Zahira." ia dengan lembut sedikit memelankan suara mengatakan namanya.
Semua tak ada yang merespon ucapan Ayana. Sungguh menyebalkan sekali memang namun mau bagaimana lagi tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain bersabar menerima semua tatapan sinis para keluarga Rangga.
"Mamah, paman, dan tante. Saya harap kalian semua bisa menerima kehadiran Yuna di keluarga kita. Sebab saya tidak akan mengulur waktu untuk meresmikan hubungan kami." Rangga berkata demikian lalu menoleh menatap Ayana dengan teduh.
__ADS_1
Lagi dan lagi Ayana harus berakting. "Hah meresmikan?" ujarnya seolah terkejut bukan main. Meski dalam hati rasanya Ayana ingin berteriak kegirangan. Namun, ia sadar dirinya tak boleh gegabah dengan senang menerima. Jika tidak, Rangga akan curiga dan membatalkan niatnya.
Malam itu juga Rangga meminta Ayana untuk menjawab, sayang Ayana justru meminta waktu untuk berpikir. Yah, dia harus bermain cantik untuk memuluskan jalannya menjadi wanita pendamping konglomerat ini.
Sejak malam itu pula para warga desa sudah mulai kembali mengolah tanah yang Rangga berikan secara cuma-cuma. Meski begitu memang kualitas dan lokasinya sedikit kurang baik di bandingkan tanah sebelumnya. Namun, para warga merasa bersyukur telah mendapat kemurahan hati Rangga pada mereka.
Kebhagiaan para warga kembali terlihat kala itu. Sedangkan Ayana tampak semakin bertingkah ketika bekerja di kantor desa. Kapan pun ia ingin pulang ke rumah maka akan ia lakukan. Semua para pekerja di kantor desa nampak membicarakan tingkahnya yang terlalu seenaknya. Bahkan Ayana tak perduli bagaimana sang ayah memberi tahu dirinya yang tidak bisa seenaknya seperti itu.
"Ayana, kenapa pulang jam segini? Jangan sampai Pak Kodir memberhentikan kamu loh." ujar Fikram melihat sang anak yang berjalan di sekitar kebun itu dengan ponsel di tangannya.
"Bagus dong kalau di berhentikan, Ayah. Kan sebentar lagi aku juga akan menikah dengan Tuan Rangg." sahutnya begitu sombong.
"Lagi pula siapa yang betah kerja di tempat seperti itu? Sangat bikin bosan sekali." ujar Ayana dengan meninggalkan sang ayah.
Fikram menggeleng melihat tingkah sang anak yang sudah hampir satu bulan ini begitu membuatnya pusing. Pulang kerja bukannya makan dan istirahat, ia justru harus membereskan rumah dan memasak. Belum lagi harus mencuci pakaian. Sungguh kepergian Ayuna baru ia rasakan saat ini membuatnya sangat menderita. Tak ada lagi yang memperhatikan dirinya ketika belum makan atau bergadang di depan rumah. Biasa Ayuna akan datang meminta sang ayah tidur ketika hari sudah larut malam. Alasan demi kesehatan sang ayah.
Seperti yang ia pikirkan, sepulang dari kebun bukannya makan dan istirahat. Fikram menghela napas panjang melihat rumah yang berantakan dan kotor. Pria paruh baya itu terduduk lemas saat melihat keadaan rumah dan mendengar suara musik di kamar Ayana. Di lihatnya sang anak berbaring dengan mata terpejam dan ponsel yang menyala. Tak lupa wajah cantik itu bertutup masker.
__ADS_1
"Dimana kamu, Yuna? Kapan kamu pulang?" tanyanya dalam hati.
Sedangkan orang yang tengah ia pikirkan saat ini tersenyum begitu menerima amplop gaji kerjanya. Berniat kerja hanya di malam minggu, justru sang bos meminta Ayuna dan Mita bekerja seterusnya di cafe tersebut. Cara kerja keduanya yang sangat rajin dan teliti membuat sang boss menyukai keduanya.
"Akhirnya ktia gajian juga, yah Yun?" tanya Mira dengan senangnya.
"Iya. Kamu baru kali ini yah kerja dan gajian?" ujar Ayuna dan Mira pun mengangguk membenarkan.
"Aku mau langsung pulang deh kalau gitu. Mau bayar kos sama nyisihin buat transfer ke ayah." ujar Ayuna.
Mira pun mengikutinya pulang ke kosan untuk mandi. Tak main-main, Ayuna menyisihkan uang dari gajinya separuh untuk sang ayah. Sungguh Ayuna tumbuh menjadi anak yang sangat berbakti pada ayahnya. Sadar jika kehilangan orang tua sangat menyakitkan, itu sebabnya Ayuna tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk memberikan apa pun yang ia bisa berikan pada sang ayah.
"Kamu sayang banget yah sama ayahmu? Sampai separuh gaji gitu kamu kirim. Padahal kan kamu di sini hidup menghemat juga." Mira melihat Ayuna tersenyum mendenga pertanyaannya.
"Yah kalau di tanya pasti sayang banget, Mir. Ayah aku kan satu-satunya orang tua yang aku punya. Lagi pula untuk aku makan kan masih bisa cari kerja sambilan lagi." Ayuna menjawab begitu tenangnya bahkan Mira sampai menggeleng mendengar ucapan Ayuna. Bekerja tanpa tahu waktu tentu akan sangat melelahkan. Sedangkan Mira yang hanya kerja untuk mengisi waktu luang sudah merasa lelah luar biasa di sambil kuliah dan organisasi di kampus.
Tak terbayang lelahnya Ayuna yang sangat aktif kuliah dan organisasi lalu bekerja di sela waktunya. Belum lagi ia harus menghadapi sikap Berson yang sering kali kasar padanya. Ayuna berusaha keras untuk selalu lolos dari pria itu. Sungguh Ayuna ingin sekali rasanya mengatakan jika dirinya bukanlah sang kakak. Namun, Ayuna tak mau sekali lagi mengorbankan pendidikan yang sudah berada di tangannya hancur sia-sia dengan terbongkarnya identitas sesungguhnya jika Berson tahu akan hal itu.
__ADS_1