Si Kembar Bunga Desa

Si Kembar Bunga Desa
Menjalani Peran Masing-Masing


__ADS_3

Suara pecahan kaca di dalam kamar sontak membuat semua orang berlari mendekat ke arah kamar Ayuna saat itu. Saat itu pula Ayuna berhasil melarikan diri dari pelukan Berson. Ia membuka pintu kamar dengan cepat lalu melihat beberapa temannya berdiri di hadapannya. Ayuna tampak berantakan air matanya berjatuhan begitu derasnya bahkan wajah cantiknya sangat terlihat pucat saat ini. Di dalam sana Berson tampak terduduk memegang kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Keterlaluan kamu, Ayana." teriak Berson dari dalam.


Melihat kejadian tersebut beberapa teman Ayuna pun masuk ke dalam dan membantu Berson berdiri. Mereka membawa pria itu keluar untuk mengobati lukanya. Sedangkan Ayuna masa bodoh dan memilih mengemasi pakaian dan semua barangnya. Saat itu juga ia memutuskan untuk pindah, meski sebenarnya Ayuna ingin pindah dua hari lagi. Tapi, melihat kejadian tadi ia sama sekali tak berani berlama-lama tinggal di lingkungan seperti itu.


"Ayana, mau kemana? Nih pacar lu gimana?" salah satu teman Ayuna berteriak sembari menunjuk pada Berson yang masih belum sadar dari rasa mabuknya.


Acuh, Ayuna bergegas pergi dengan membawa semua barangnya mencari taksi yang berlewatan di pinggir jalan besar. Kebetulan kosan mereka tak begitu jauh dari jalan besar. Semua teman kos menatapnya bingung namun Ayuna tak mau tahu. Yang terpenting saat ini dirinya aman dari Berson.


Sepanjang jalan Ayuna terus berucap syukur. Entah keajaiban dari mana yang datang, tiba-tiba saja tenaganya begitu kuat melepaskan pelukan Berson hingga melayangkan botol minuman itu pada kepala pria tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih, Bu. Pasti ibu juga yang membantu Ayuna kan?" gumamnya dalam hati benar-benar sangat bersyukur. Di awal Ayuna merasa hampir menyerah dengan sikap kurang ajar Berson.


Di sini Ayuna berdiri, kos baru yang sudah ia pilih untuk tinggal seterusnya. Bukan sebuah kos yang bebas seperti tempat tinggal sang kakak sebelumnya, Ayuna justru memilih kos yang tinggal bersama sang pemilik. Di sini hanya ada perempuan saja. Rasanya akan jauh lebih aman jika ia tinggal dengan orang-orang yang juga baik. Bahkan biaya yang harus ia bayar jauh lebih murah dari kos sebelumnya.


"Loh, Ayuna? Katanya tadi besok lusa baru pindah?" tanya sang ibu kos yang menyambutnya dengan ramah di depan rumah. Ayuna nampak tersenyum canggung.


"Nggak apa-apa, Bu Lasmi. Lebih cepat rasanya lebih baik." ujar Ayuna.


Keadaan yang berbeda terjadi di desa. Ayana yang kembali bekerja di desa menggantikan posisi sang adik nampak sangat kesal. Pasalnya pekerjaan Ayuna sangat membosankan di kantor tanpa bertemu siapa pun.


Ayana bahkan rela meninggalkan sang kekasih dan juga sekolahnya demi mengambil hati Rangga, sang pangeran muda, tampan, dan juga kaya raya. Biarkan Ayuna yang melanjutkan sekolah itu. Selama kuliah bahkan Ayana tak benar-benar serius untuk bersekolah. Tujuannya ke kota hanya ingin merasakan hidup yang nyaman berbeda dari keadan di desa yang begitu monoton baginya.

__ADS_1


"Mau kemana, Yuna?" tanya salah satu pekerja di kantor desa itu.


"Yah mau cari angin lah. Bosan di ruangan terus." ketus Ayana menjawab tanpa perduli bagaimana tatapan orang-orang padanya saat ini.


Ayuna yang lama bekerja dengan mereka tak pernah berbicara seperti itu sebelumnya. Belum waktunya pulang, tetapi Ayana dengan santainya berlenggak lenggok meninggalkan kantor desa menuju ke rumah, rasanya ia sangat ingin bersantai di kamar yang bahkan jauh dari kata rapi itu. Baru beberapa meter ia melangkah, tiba-tiba saja suara mobil terdengar membunyikan klakson.


Ingin tersenyum, namun saat itu juga Ayana sadar. Dia harus bersikap ketus seperti Ayuna. Yah, dirinya harus bisa memenangkan hati pria yang turun dari mobil saat ini.


"Yuna?" panggilan yang Rangga sematkan sungguh terdengar begitu akrab. Sedikit kesal mendengar panggilan itu sebab Ayana saja sadar jika pria itu tidak tahu namanya. Rangga hanya tahu nama sang adik.


Sadar akan posisinya yang harus berakting, Ayana memilih melangkah pergi hendak meninggalkan Rangga. Meski hatinya benar-benar berat untuk melangkah. Takut rasanya jika pria itu kembali akan membiarkannya pergi bukan menahannya.

__ADS_1


"Yuna? Yuna, tunggu. Tolong dengarkan aku"


Yeah berhasil. Ayana berhasil mencuri perhatian Rangga. Tangannya justru saat ini sudah di genggam erat oleh pria itu.


__ADS_2