Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 21 : Aira dan perasaannya.


__ADS_3

Ken menjemput Aira namun, Aira belum selesai berdandan.


Ken menunggu di teras rumah bersama ayah Aira.


Kaki Ken bergerak-gerak, menunggu gadis berdandan memang hal yang menjenuhkan. Ayah Aira tersenyum simpul melihat sikap Ken.


"Sabar ya Ken, Aira memang kalau siap-siap mau pergi lama, mirip ibunya. Bayangin aja nih Ken, kami mau kondangan, undangan jam sebelas siang, Aira dan ibunya dandan dari jam setengah sembilan pagi, tapi tetap ada bapak yang selesai duluan. Kan lucu ya Ken?" Ayah Aira mendongeng, menceritakan kebiasaan keluarga kecilnya.


Ken tertawa. "Yang sabar ya Pak, hehe.."


"Kurang sabar apa lagi aku tuh Ken. Aira sama ibu nya tuh mirip banget, sifatnya, kebiasaannya. Ckck.. wajah memang mirip bapak, tapi lainnya ibunya banget. Jadi bapak tuh selalu tersudut sama dua wanita itu, aduh.. andai bapak punya teman laki-laki buat lawan mereka pasti bakal asik, iya kan Ken?" Terkandung makna yang tersirat dari cerita ayah Aira.


Ken menggaruk kepalanya sambil tersenyum kaku, makna tersirat dari kata-kata ayah Aira tersampaikan di otak Ken secara baik.


Aira terburu-buru keluar dari pintu rumah. "Aaak.." Aira terjatuh saat sedang memakai sepatu sandalnya.


"Hati-hati dong Ra. Ken masih setia nungguin kamu kok." Kata Ayah Aira.


"Nggak papa?" Tanya Ken.


"Enggak." Aira berdiri, lalu menghampiri Ken dan ayahnya.


"Yuk Ken." Ajak Aira.


"Yuk. Pak, saya dan Aira pergi dulu ya, mau makan bareng Beno dan Ares." Ken berdiri.


"Beno sama Ares kok nggak pernah kesini lagi sih?" Tanya Ayah Aira.


"Udah.. udah.. nggak usah dibahas. Bapak tuh suka kalau ngobrol sama kamu Ken, nanti panjang ngobrolnya warungnya keburu tutup. Yuk, Assalamualaikum, pergi dulu ya pak." Aira berjalan menuju motor Ken.


"Permisi ya Pak, kami jalan dulu, assalamualaikum." Ken dan Aira segera menuju restoran yang dimaksud.


"Ramai terus tempat ini." Aira masuk ke restoran mencari tempat duduk yang tidak tersisa banyak.


"Nih.. ada buat empat orang." Aira mendapat tempat di ruang non-smoking area.


"Wah.. bakal nggak betah si Beno sama Ares kalau di ruang ini." Ken ikut duduk.


"Biarin aja, biar sekalian tobat dari merokok." 


Seorang pramusaji datang membawa buku menu, lalu pergi lagi.

__ADS_1


"Pesan apa aja boleh Ra." Kata Ken sambil membersihkan lensa kacamata.


"Asik."


"—Eh.. tadi kamu bilang mau kasih aku sesuatu. Apa?" Tagih Aira pada Ken.


"Oh.. iya." Ken mengambil botol kecil berisi minyak zaitun yang sudah dicampur air mata gunung.


"—Saudara jauhku ada yang baru penelitian skincare. Ini cobain Ra." 


Aira membuka tutup botol, mengendus bau laly menuang pada telapak tangan. Aira menggosok pada kedua tangannya.


"Minyak zaitun ya?" Tanya Aira.


"Iya, campuran daun edelweis." Ucap Ken berbohong.


"Oh.."


"Tangan kamu kena apa itu Ra?" 


"Luka kena kertas."


"Tapi kelihatan dalam lukanya." Ken meraih tangan kiri Aira mengobati luka itu.


"Aku? Hehe.. memang aku kenapa Ra?"  


"Belakangan kamu aneh Ken. Mungkin orang lain nggak merasakan keanehan itu tapi aku merasa begitu." Aira menatap wajah Ken, membuat Ken salah tingkah.


Hologram muncul


...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira mengkhawatirkanmu!]...


"Memang aku kenapa Ra?" Tanya Ken.


"Kamu orang yang paling rajin bekerja. Sakit tipes aja kamu berangkat kerja dan bisa kirim barang tepat waktu. Tapi sekarang kamu sering over time, bahkan bolos kerja mengaku sakit." Aira diam-diam mengamati Ken.


"Mungkin karena aku baru malas dan jenuh dengan kerjaan Ra." Ken mencoba mencari alasan yang logis untuk menjawab keingintahuan Aira.


"Lalu soal traktir. Emm.. maaf ya Ken kalau apa yang bakal aku bilang menyinggung kamu."


"Nggak apa Ra, santai aja sama aku. Biasa juga caci maki aku nggak ada rasa bersalah tuh." Goda Ken.

__ADS_1


BUK! 


Aira menabok lengan Ken. "Kamu memang ada uang dari mana bisa sering traktir aku, Beni sama Ares? Padahal kamu kan baru diusir dari rumah."


"Emm.. Ra, kalau saatnya tiba aku pasti bakal cerita kok sama kamu, Beno dan Ares. Tapi bukan sekarang.* 


Hologram muncul lagi.


...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira mencurigaimu!]...


'Duh! Gimana ini? Aira curiga sama aku, jangan-jangan dia pikir aku dapat uang nggak halal?' Batik Ken, dia tidak ingin citranya di mata Aira jelek, dia masih ingin Aira menyukainya.


"Emm.. jadi gini Ra—"


"Wah.. kalian kenapa milih tempat di sini sih? Nggak asik ah!" Beno baru saja datang dan langsung protes. 


"Iya, ini pasti Aira yang pilih kan?" Ares juga protes.


"Ih.. kan kalian kesini buat makan bukan buat merokok!" Kata Aira.


Beno dan Ares duduk, mereka langsung melihat buku menu.


"Apa Ken? Kamu tadi bilang apa?" Aira kembali menanyakan hal yang tadi ingin Ken sampaikan.


"Aku—"


"Mas Ken?" 


Buka hanya Ken yang menoleh, Aira, Beno dan Ares juga menoleh saat suara wanita memanggil Ken.


"Mbak Sarah?" Ken kaget mereka bisa kebetulan bertemu.


Sarah seorang diri, dia masih memakai baju kantoran, dan menenteng tas dengan merk tas terkenal mahal dari kota Paris.


'Siapa nih cewek? Tumben Ken punya kenalan cewek cantik? Bahaya ini!' Batin Aira.


'Cantik banget Gusti, mau dijodohin sama bidadari satu ini.' Batin Beno.


'Siapa nih? Jangan-jangan tante girangnya Ken?' Batin Ares.


***Bersambung..

__ADS_1


Maaf dikit author kalau weekend ada kesibukan khusus🙏


Semoga besok bisa up lebih dari 1 bab, terima kasih dukungannya🙏***


__ADS_2