
BRUK..
Seorang nenek terjatuh saat keluar dari aula, Ken sigap membantunya berdiri.
"Bisa jalan Nek?" Tanya Ken sambil membopong nenek itu berdiri.
"Agak sakit." Nenek itu kesusahan berdiri.
"Maaf ya Nek saya gendong boleh?" Tanya Ken dengan sopan.
Nenek yang masih memakai mukena itu mengangguk, "—itu.. itu.." Dia menunjuk lantai, ternyata dia menunjuk ponsel.
Ken mengambilnya, wallpaper pada ponsel itu adalah dirinya dan seorang wanita cantik.
'Eh? Ini kan wanita yang aku lihat di mini market tadi? Siapa tadi namanya? Duh.. lupa padahal kasir tadi menyebut namanya.'
Foto dalam wallpaper ponsel nenek itu adalah Ciara, seorang model yang dulunya adalah arris cilik.
Ken menggendong nenek itu sampai ke kamarnya dibantu oleh Syarif.
"Terima kasih nak." Ucap nenek itu sambil gemetar.
Syarif memberi minum lalu memintanya istirahat. "Nenek istirahat ya, saya bantu lepas mukenanya."
"Nak.." Panggil nenek itu pada Ken."—boleh minta tolong sampaikan pesan buat cucu saya?" Pinta nenek itu dengan wajah memelas.
"Nek, nggak semua orang kenal dengan cucu nenek." Syarif mencoba menenangkan nenek itu.
"Tapi Ciara kan artis, semua pasti kenal!" Nenek itu membentak Syarif. "—Aku cuman mau ditengokin, itu aja. Dia udah nggak sayang sama aku! Kalau aku mati pun dia nggak akan sedih kan pasti?" Nenek itu histeris, dia mulai menangis.
"Maaf mas Ken, silahkan keluar saya takut nenek Ida semakin histeris. Memang sering begini mas Ken nggak perlu khawatir." Syarif meminta Ken untuk pergi dari kamar nenek Ida.
Ken keluar dari kamar Ida, dia merasa kasihan dan iba padanya. Padahal hanya ingin diperhatikan oleh cucunya. Memperhatikan orang tua kita adalah tindakan sederhana namun begitu berat jika seseorang menganggap itu adalah beban.
Hologram muncul
...[Selamat misi 08 selesai. Reward berhasil di dapatkan! Teka-teki dan misi selanjutnya akan hadir kembali besok. Teruslah berbuat baik tanpa pamrih dan jangan lupa untuk selalu check-in setiap hari. Terima kasih Ken! ]...
__ADS_1
"Huft.. akhirnya berhasil juga." Ken pulang ke Kost.
......................
Selesai mandi Ken membalurkan minyak zaitun yang dicampur air mata gunung pada seluruh tubuhnya.
Ddrrt..
Telepon masuk dari Sarah.
"Malam Sarah." Sapa Ken.
"Emm.. Ken, kamu baru apa? Bisa ketemu sekarang?" Suara Sarah terdengar memburu, Ken sempat ragu untuk bertemu mengingat sudah tengah malam, dia tidak terbiasa bersama wanita selarut ini.
"Sekarang? Kenapa memang? Ini udah jam setengah dua belas lho." Ken masih ragu untuk menemui Sarah, tapi dia penasaran.
"Ada yang harus kamu lihat dan jawab. Ini penting Ken!" Lagi-lagi Sarah mendesak Ken untuk segera datang seperti tidak ada hari esok.
"Apa tentang minyak zaitun?" Tanya Ken.
"Aku harus menemuimu dimana? Aku segera kesana Sarah." Semua keraguan hilang saat Ken tahu bahwa alasan Sarah mengajaknya bertemu karena dia ingin membahas soal minyak zaitun yang Ken beri.
"Aku kirim alamat laboratoriumku."
Pembicaraan selesai, Sarah mengirim sebuah alamat dan tak lama Ken pergi ke alamat itu.
"Maaf Ken malam-malam minta kamu datang." Sarah masih memakai jas kerja laboratorium.
"Oh.. nggak apa kok."
"Kamu pasti udah mau istirahat ya?" Sarah terlihat lelah namun kecantikannya masih terlihat memukau.
"Emm.. nggak juga. Jadi apa yang mau kamu bahas?" Ken tidak ingin lama-lama bersama Sarah selarut ini, dia merasa tidak nyaman berdua dengan wanita malam-malam begini.
"Oke.. lihat ini." Sarah mengulurkan kedua tangannya.
Ken memperhatikan dengan seksama, dia tidak begitu paham apa maksudnya.
__ADS_1
"Oke.. mungkin kamu nggak begitu sadar apa bedanya. Sini deh." Sarah mengajak Ken masuk lebih dalam ke laboratoriumnya.
Sarah meminta Ken melihat pada layar besar. Sarah memasukan tangan kirinya pada sebuah alat berbentuk kubus. Alat itu adalah microkop box.
"Aku sengaja pakai minyak zaitun itu hanya pada satu tangan saja. Ini adalah tangan yang nggak aku baluri minyak zaitun itu. Kamu lihat garis-garis lembut itu?" Tanya Sarah.
"Hmm.." Jawab Ken singkat karena sedang memperhatikan layar secara serius.
"Itu tanda penuaan pada kulit, cukup banyak kan?" Sarah memasukan tangan kanan nya pada mikroskop box.
"Ini tangan yang aku beri minyak zaitun, garis halusnya nggak banyak kan?"
Ken kini tahu apa bedanya, memang benar tidak banyak garis-garis seperti tangan yang tidak dibaluri minyak zaitun.
"Aku belum selesai meneliti minyak zaitun ini. Tapi aku yakin minyak zaitun ini bukan minyak bisa. Bayangkan saja dalam waktu beberapa jam dan hanya sekali pakai sudah membuahkan hasil yang signifikan. Aku mau membeli minyak zaitun ini Ken dari kamu. Tentunya dalam jumlah banyak dan kontinyu. Bagaimana?"
Ken berpikir sejenak,
"Itu bukan milikku, itu milik sepupuku, Jadi aku nggak berhak memutuskan Sarah." Ken berbohong, dia akan terus menutupi fakta soal minyak itu.
"Kalau gitu aku harus bertemu sepupumu itu, secepatnya." Desak Sarah.
"Emm.. maaf ya Sarah sepertinya nggak akan mudah. Dia orang pelosok, tinggalnya di gunung Mbiru."
"Nggak masalah dimanapun dia tinggal aku akan datangi."
Melihat reaksi Sarah, Ken jadi yakin bahwa minyak zaitun yang dicampur air mata gunung adalah barang yang sangat bagus untuk dunia kecantikan. Sarah adalah dokter kecantikan dia pasti tahu bahwa minyak zaitun itu adalah aset yang harus diamankan, makanya dia sangat terburu-buru mendesak Ken untuk menemui 'sepupu khayalan' si pemilik minyak zaitun itu.
"Aku nggak bisa putuskan Sarah, kasih aku waktu meyakinkan sepupuku."
"Oke, jangan lama-lama ya? Dunia harus segera tahu ada zat ajaib yang akan menyelamatkan kecantikan wanita." Sarah terlihat begitu semangat.
Ken dan Sarah melanjutkan pembicaraan mengenai minyak zaitun itu hingga ayam berkokok.
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote, nilai dan jejak lainnya ya, terima kasih***..
__ADS_1