Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 49 : Kebodohan Ken!


__ADS_3

Ken berkendara tanpa tujuan, dia hanya ingin melihat suasana kota saat sunyi dan gelap seperti saat ini.


"Kalau malam hari suasananya lebih tenang, nggak banyak orang-orang yang mengejar duniawi." gumam Ken sambil menikmati berkendara.


Ciiiiiiiit..


Tiba-tiba seseorang melompat ke tengah jalan, seperti sengaja menabrakan diri ke mobil Ken.


Namun Ken berhasil menghentikan mobil secara mendadak.


"Apa itu tadi? Orang? Hantu?" Ken syok nafasnya memburu.


Ken segera keluar dari mobil, dia melihat seorang wanita tak berdaya tergeletak di depan mobilnya. 


Wanita itu hanya menggunakan pakaian dalam. Ken merasa risih dia membuka kemejanya lalu menutupi badan wanita itu.


"Mbak terluka? Ada yang cidera nggak mbak?" tanya Ken, wanita itu menggeleng sambil terisak.


"Saya antar pulang mbak." Ken menolong wanita itu berdiri, menatihnya masuk mobil.


"Alamat rumah mbak dimana?" tanya Ken.


"Di rumah susun sejahtera bersama mas." jawabnya lirik.


"Oke mbak, saya antar kesana." Ken fokus mengemudi, dia tidak bertanya ataupun melirik wanita itu.


Hanya butuh waktu lima belas menit hingga sampai ke rumah wanita itu.


"Disini mbak?" tanya Ken.


"Iya mas, tapi kaki saya kayaknya terkilir mas, dan unit rumah saya ada di lantai tiga, dan nggak ada lift mas." keluh wanita itu.


Hologram muncul.


...[Pendeteksi perasaan aktif! Wanita ini berbohong!]...


Ken awalnya hendak menggendong wanita itu tapi sistem memberikan peringatan, ia berpikir sejenak, merasa galau harus membantu atau tidak.


"Emm.. maaf mas, menyusahkan, saya turun deh." wanita itu keluar dari mobil namun terjatuh. Ken segera keluar mobil.


"Saya bantu jalan mbak." Ken yang memang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi tidak bisa membiarkan wanita lemah yang terlihat membutuhkan bantuan. (Author : Tapi kadang Ken agak oon juga sih orangnya, gampang ditipu.)


"Kayaknya kaki saya semakin lemah deh mas." wanita itu merintih kesakitan.


Ken terpaksa menggendongnya hingga ke lantai tiga. Meski masih ragu dan mulai merasakan firasat buruk akan terjadi namun Ken tetap membantu wanita itu.


'Semoga cuman perasaanku aja, bismillah.. Aku niatnya membantu.' batin Ken.


"Disini mbak rumahnya?" Ken menurunkan wanita itu tepat di depan unit rumah susun dengan nomor 307.


Setelah diturunkan wanita itu bisa berdiri tegap dan terlihat sangat sehat.


Tiba-tiba wanita itu membuka kemeja yang menyelimuti tubuh sexynya.

__ADS_1


"Tolong.. tolooooooong.. ada yang mau mencoba jahat Pak.. Bu! Tolong saya penghuni unit 307." wanita itu membuang kemeja Ken hingga terjun bebas ke lantai dasar.


Kini wanita itu mengacak-acak rambutnya sambil terus berteriak minta tolong.


Kini wanita itu hanya berpakaian dalam sedangkan baju atasan Ken saat ini hanyalah kaos singlet. Jadi sudah jelas ini adalah jebakan!


"Eh! Mbak! Mau kamu apa sih?" Ken panik, beberapa penghuni rumah susun lainnya mulai keluar menghampiri mereka.


"Ya ampun mbak, bajunya kemana?" tanya seorang wanita paruh baya.


Penghuni rumah susun melihat Ken dan wanita itu dengan tatapan aneh.


Ken berdecak kesal, 'Sial! Dasar cewek hina! Cewek gatel!' Cewek nggak bener!' Ken hanya bisa mengutuk wanita itu dalam hati.


"Lelaki ini yang membuangnya! Lelaki ini memaksa saya.. Hikss.. Hikss.." wanita itu menunjuk Ken sambil berakting memela.


Ken tidak habis pikir orang yang dia selamatkan ternyata sedang menjebaknya.


"Wah.. nggak benar nih laki satu ini, ayo bawa ke kantor polisi!" kata seorang penghuni.


"Tunggu pak tunggu biar saya jelaskan!" Ken mencoba membela diri tapi gagal, beberapa orang menyeretnya. Ken dibawa masuk ke mobil salah seorang penghuni rumah susun.


'Pantas aja tadi sistem memperingatkan begitu. Hah.. ada-ada saja!' gerutu Ken dalam hati.


Ken kembali ke kantor polisi yang beberapa hari lalu dia datangi, polsek tanjung harum.


Dan..


"Kamu lagi? Kasus yang sama?" sambutan yang pedas dari Hendra saat Ken digiring oleh beberapa penghuni rumah susun.


"Dia mau melakukan tindak asusila terhadap wanita ini Pak." lapor salah satu orang yang membawa Ken.


"Nggak heran! Dia memang brandal!" Hendra menyeringai.


"Bawa dia ke ruang interogasi!" pinta Hendra pada anak buahnya.


Ken diseret masuk ke ruang interogasi. Ponsel, dompet, kunci mobil ditahan oleh Hendra 


"Ah.. sial!" Ken dibiarkan sendiri di dalam ruangan hingga lebih dari satu jam.


KREK..


Hendra masuk dengan gaya sok wibawa.


"Bertemu lagi! Tapi kali ini kamu nggak akan lolos! Hahaha.." Hendra duduk di hadapan Ken.


"Ceritakan bagaimana kejadiannya!" Hendra menanyai Ken seraya membentak.


"Saya melewati jalan mawar melati tiga, tiba-tiba wanita itu melompat ke tengah jalan. Dia hanya memakai pakaian dalam, aku membawanya masuk ke dalam mobil dan memakaikan kemeja yang saya pakai. Karena saya tidak ada pakaian lain terpaksa saya berpakaian begini. Lalu sesampainya di rumah susun dia mengeluh kakinya sakit saya menggendongnya sampai di depan unit rumahnya tapi tiba-tiba dia berteriak-teriak minta tolong." Ken menjelaskan secara rinci kejadian sebenarnya.


"Bohong! Keterangan dari korban kalian sudah melakukan hub*ng*n int*m sekali lalu korban tidak ingin melakukannya lagi! Makanya kamu menyeretnya keluar rumah!" Hendra membeberkan hasil interogasi dari wanita yang menjebak Ken.


'Licik! Dia pasti benar-benar ingin menjebakku! Ada dalang dibalik ini!' batin Ken.

__ADS_1


Hologram muncul


...[File perekaman kejadian berhasil diunduh! Pengiriman file ke email user dalam progres…...


...20%/100%...


...40%/100%...


...75%/100%...


...100%/100%...


...Berhasil mengirim!]...


"Saya ada buktinya! Berikan ponsel saya." Ken meminta ponselnya dikembalikan.


"Halah! Banyak alasan! Kamu cuman mau menghubungi bapak Tanu kan? Kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa padamu! Kau adalah calon tersangka utama! Hahaha.." Hendra tidak akan meloloskan Ken kali ini.


"Saya mohon Pak! Ada bukti rekaman kejadian di ponsel saya!" Ken memohon.


"Hmm.. baiklah." Hendra akhirnya mau mengalah, memberi kesempatan Ken membuktikan bahwa dia tidak bersalah.


"Ini ponselmu." Hendra mengeluarkan ponsel Ken dari dalam kantong celananya.


Ken segera melihat kotak masuk pada emailnya. Ada sebuah email masuk berupa file video, Ken mengunduh lalu memperlihatkan pada Hendra.


File video itu adalah hasil perekaman view kejadian dari kacamata super.


Hendra melihat dengan secara teliti, semua kejadian terekam dengan hasil video yang sangat jernih.


"Dari mana kamu merekamnya?" tanya Hendra.


"Kacamata ini." jawab Ken.


"Kalau begitu berikan kacamata itu!" 


"Apa?!"


"Berikan jika kamu ingin menjadikan file rekaman ini sebagai bukti pembelaanmu." Hendra meminta kacamata yang Ken pakai.


'Gawat! Bagaimana ini?' Ken panik.


"Berikan!" Hendra meminta sambil menggebrak meja.


Ken terpaksa memberikan kacamata super pada Hendra.


"Tunggu disini!" Hendra juga mengambil ponsel milik Ken lagi sebelum keluar ruangan.


"Hah.. Gimana ini? Gimana kalau sampai ada yang tau bahwa kacamata itu bukan kacamata biasa?!" Ken mengacak-acak rambutnya, memukul-mukul kepalanya karena merasa bodoh dan kesal terhadap dirinya sendiri.


***Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan tinggalkan jejak lainnya, terima kasih pembaca yang baik hati, sehat selalu, amiin***..

__ADS_1


__ADS_2