
Tiba-tiba Ken ingat ayah dari wanita yang pernah dia tolong. Tama, si wakil kepala kepolisian kabupaten.
“Benar juga!” Ken mengeluarkan ponselnya mencari kontak Tama di ponselnya.
“Hey! Kamu kenapa seenaknya sendiri sih?! Saya sudah benar-benar nggak bisa toleransi lagi sama kamu! Siapa suruh anda bisa seenaknya pakai telepon di ruang interogasi!” Hendra semakin marah.
“Maaf bapak Tama tengah malam mengganggu istirahatnya.” tidak peduli dengan kata-kata Hendra, Ken tetap menghubungi Tama.
“Iya mas Ken nggak papa. Kebetulan saya sedang dinas malam kok. Ada apa ya mas?” sahut Tama dari ponsel.
“Maaf Pak sekali lagi, tapi saya nggak tau harus minta bantuan siapa lagi kalau bukan bapak. Saya sedang berada di kantor polisi.”
“Hey! Matikan! Kamu ini sedang di interogasi!” bentak Hendra.
“Ada urusan apa mas Ken di kantor polisi tengah malam begini?” tanya Tama.
“Saya menolong seorang wanita yang mau di perk*s* dua lelaki hidung belang. Tapi saya berakhir di meja interogasi, seorang polisi bilang bisa saja jadi tersangka.” jelas Ken
“Mas Ken sekarang kantor polisi mana? Saya segera datang ke situ.”
“Polsek tanjung harum pak.”
“Saya ke situ mas, tunggu saya.” panggilan telepon berakhir.
“Hubungi siapa kamu?” Hendra semakin marah.
“Tunggu aja, nanti anda juga bakal tau sendiri siapa yang saya hubungi.” Ken menyeringai.
“Jangan berlaga sok hebat kamu!”
“Maaf bapak polisi yang terhormat saya akan diam sambil menunggu tamu yang saya undang khusus untuk bapak.” Ken menekuk kedua tangannya di dada.
“Wah.. benar-benar minta di kurung nih orang.” gumam Hendra.
Beberapa kali Hendra menanyai Ken namun tidak direspon, Ken hanya diam sambil memasang wajah datar.
BRAK!
Hendra kaget melihat wakil kepala kepolisian kabupaten datang. Hendra segera berdiri dan memberi hormat.
Ken menyambut Tama dengan senyuman.
“Ada apa ini?” tanya Tama.
__ADS_1
“Ah.. tidak pak, pemuda ini main hakim sendiri, dia memukul dua pemuda hingga pingsan.” jelas Hendra.
“Kalau kasih informasi yang lengkap dong pak, jangan di potong begitu!” Ken tidak terima.
“Sebelumnya saya minta maaf pak mengganggu bapak malam-malam begini. Saya menolong wanita yang mau di perk*s* pak oleh dua pemuda di tengah sawah. Saya memang memukuli kedua pemuda itu, karena merasa emosi pak, pemuda sampah seperti mereka patut mendapat pelajaran.” jelas Ken.
“Lalu masalahnya apa?” tanya Tama pada Hendra.
“Emm.. tidak ada kok pak, saya hanya menjalankan SOP, mengintrogasi saksi.” sikap Hendra langsung berbeda seratus delapan puluh derajat, dia seperti anjing yang buas terhadap orang lain namun akan jadi jinak jika sudah bertemu pemiliknya.
Ken menyeringai.
Hologram muncul.
...[Selamat datang kembali User 802 Ken! Check-in berhasil!]...
...[Teka-teki hari ini : Aku adalah binatang yang kaya, siapa aku?]...
Ken mengerutkan dahinya, ‘Karena udah ganti hari teka-tekinya muncul, aduh.. gimana nih? Suasananya lagi panas gini? Apa aku izin ke kamar mandi sebentar ya?’ batin Ken.
Ken melirik ke pojok ruangan itu, Tama sedang memarahi Hendra.
“Hendra ini bukan kali pertama saya dengar kamu seperti ingin memutar balikan fakta atas sebuah kasus! Tahun lalu kamu sempat mau meloloskan seorang guru yang jelas-jelas berniat menculik muridnya! Saya dengar waktu itu kamu sempat menerima uang, tapi saya masih berbaik hati tidak melanjutkan urusan itu karena akhirnya tersangka dihukum sesuai dengan kejahatannya.” Tama membawa-bawa kesalahan Hendra terdahulu, urusan ini akan jadi panjang rupanya.
“KAMU DENGAR SAYA NGGAK SIH?” Tama meninggikan suaranya.
“De.. dengar pak, ma.. maaf. Waktu itu saya..” Hendra menjelaskan kejadian terdahulu.
‘Aduh, nggak bisa disela ternyata.” batin Ken.
“Beruang.” bisik Ken, namun tidak ada respon dari sistem, rupanya Ken harus menyebutkan jawaban secara lantang. “Duh.. beruang.. beruang..” beberapa kali Ken berbisik.
“Emm.. ada apa mas Ken?” Tama merasa mendengar Ken bicara tapi tidak jelas.
“Hehe.. nggak kok pak, saya mau izin ke kamar mandi pak.” akhirnya Ken ada kesempatan keluar dari ruangan itu.
“Silahkan mas Ken, tunggu saya di luar.” Tama mempersilahkan Ken keluar dari ruang interogasi.
“Terima kasih pak. “ Ken melewati Hendra, dia mengangkat kedua alisnya seraya memasang wajah tengil, membuah Hendra semakin benci pada Ken.
Ken pergi ke kamar mandi untuk menjawab pertanyaan teka-teki.
“Beruang!” jawab Ken mantap.
__ADS_1
...[Benar! Reward sebesar lima ratus juta telah masuk ke akun anda! Misi hari ini : Berbaikan dengan Aira dan Ares, reward : Kemampuan berbahasa Inggris tingkah menengah.]...
“Hah..” Ken menghela nafas, bukan karena dia tidak ingin berbaikan dengan Aira dan Ares, namun pikirannya masih kusut, bahkan semakin kusut.
Ken keluar dari kamar mandi, ternyata Tama sudah menunggunya di ruang tunggu.
“Maaf ya mas Ken anak buah saya memang kadang seperti itu, saya harap mas Ken nggak tersinggung. Saya minta maaf sebagai atasannya.” Tama memberi hormat pada Ken.
“Nggak apa pak, yang penting tersangka dapat hukuman setimpal.” Ken melihat sekeliling.
“Mencari siapa mas?” tanya Tama.
“Korban udah pulang pak?”
“Dia ada di ruang interogasi bersama orang tuanya karena dia terlihat syok.” jelas Tama.
“Kalau begitu saya pulang dulu pak.” Ken izin pulang.
“Tunggu mas Ken, ada yang mau saya tanyakan.”
Ken mengerutkan dahi, “Ada apa ya pak?”
“Saya dapat laporan beberapa kali mas Ken menyelamatkan korban kejahatan, saya heran aja mas kenapa bisa sesering itu anda bertemu dengan orang yang butuh bantuan.” ternyata Tama mendapat laporan dari anak buahnya mengenai Ken yang sering menyambangi kantor polisi karena menyelamatkan korban kriminalitas.
Ken menggaruk kepalanya, “Emm.. iya pak, saya juga bingung kok sering bertemu korban kriminalitas. Tapi nggak apa pak, saya senang bisa menyelamatkan orang yang sedang butuh bantuan.”
“Mas Ken ini seperti superhero loh.” puji Tama.
“Waduh.. nggak juga pak.” wajah Ken memerah mendengar pujian dari Tama. “Emm.. lain kali kalau saya berurusan dengan polisi dan butuh bantuan boleh menghubungi bapak lagi?” tanya Ken.
“Tentu aja mas, saya berhutang budi sama mas Ken karena sudah membantu anak saya waktu itu. Jadi kapanpun mas Ken butuh bantuan hubungi aja. Saya siap membantu.”
“Baik pak, kalau begitu saya pergi dulu pak, permisi.” Ken undur diri, dia segera masuk kedalam mobil.
Sudah pukul 01:25 AM.
Ken merasa kepalanya semakin terasa sakit dan mual juga kembali datang. Ken sekuat tenaga memaksakan diri menyetir hingga sampai akhirnya sampailah dia di apartemennya.
Bersambung..
Jangan lupa like, komen, dan jejak lainnya, terima kasih..
Mampir juga ke novel baru author berjudul 'Kehidupan kedua dengan sistem.' terima kasih lagi...
__ADS_1