
Ken membawa mobilnya melaju kencang, dia menuju bank untuk mengambil uang tunai.
Ken berencana untuk memberikan bantuan tunai untuk beberapa panti asuhan.
Dia ingin menebus rasa bersalahnya karena terlalu sibuk mengejar bisnisnya, dia lupa bahwa seharusnya dia melakukan hal baik untuk sesama.
Ken memasukan uang tunai empat ratus juta yang hanya terbungkus kresek hitam ke dalam mobilnya.
Drrt.. drrrt..
Panggilan masuk dari Beno.
"Apa Ben?"
"Udah turun gunung?"
"Udah, kau di tempat parkir bank, habis ambil uang untuk dibagikan ke panti asuhan."
"Eh.. eh.. tunggu Ken! Harus diabadikan supaya bisa dijadikan dokumentasi perusahaan kita melakukan CSR. Aku susul ya."
"Nggak Ben! Aku nggak mau orang lain tau kalau aku membagi-bagikan uang ini. Udah ya Ben buru-buru nih. Minta tolong handle apartemen dan kantor ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ken pergi ke panti asuhan pertama. Dia mencari secara acak, dimana panti asuhan terdekat.
"Eh? Masuk ke gang kecil ini?" Ken menghentikan mobilnya saat mesin navigasi mengarahkannya masuk ke sebuah gang sempit yang tidak dapat dilewati mobil.
Ken turun dari mobilnya, masuk ke gang untuk menemukan panti asuhan dengan nama Melati Indah.
Ken berhenti tepat di depan papan nama panti asuhan Melati Indah.
Panti asuhan itu terlihat sangat sederhana. Beberapa anak lelaki menghampirinya.
"Mas mau cari siapa?" tanya salah seorang anak lelaki.
"Cari bapak ya?" tanya seorang lagi.
"Atau ibu?"
Ken hanya mengangguk dan tersenyum. Dia tahu siapa 'bapak' dan 'ibu' yang mereka maksud.
"Bapak.. Ibu! Ada yang mencari nih." seorang anak lelaki itu berteriak sambil berlari masuk ke rumah.
Seorang lelaki paruh baya keluar dari rumah sederhana itu.
"Assalamualaikum Pak, maaf mengganggu." Ken menyapa terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam. Iya mas tidak apa, silahkan masuk." lelaki itu tampak ramah.
Ken masuk, dia diikuti empat anak lelaki.
__ADS_1
"Hayo sudah mau sore loh, siapa belum mandi?" tanya lelaki itu pada anak-anak kecil yang menempel pada Ken seperti magnet.
Keempatnya menggeleng lalu bersembunyi di belakang Ken.
"Maaf ya mas, kebanyakan anak-anak disini menjadi manja dan mencari perhatian saat ada orang yang datang kesini." jelas lelaki itu
"Nggak apa pak. Saya Ken." Ken mengulurkan tangannya.
"Saya Hamid mas, pemilik panti asuhan ini." bersalaman dengan Ken.
"Saya mau memberi sedikit bantuan pak, mohon diterima." Ken memberi lima gepok uang pecahan seratus ribu.
Hamid menerima dengan tangan gemetar. "Masyaallah, te.. terima kasih banyak mas." Hamid hampir meneteskan air mata, tidak menyangka mendapatkan rezeki nomplok.
"Sama-sama pak, saya izin lanjut perjalanan ya Pak. Semoga bermanfaat."
"Sangat bermanfaat mas. Panjang umur, sehat selalu, sukses buat mas Ken."
"Amin.. terima kasih Pak. Kakak pergi ya, kalian yang akur dan dengarkan kata bapak dan ibu." Ken mengelus kepala salah satu anak panti asuhan lalu pergi dari tempat itu.
Ken melanjutkan kunjungannya ke empat panti asuhan hingga uang yang di ambil dari bank habis.
Ken melirik jam tangannya, 09:30 PM.
Ken pulang ke apartemennya.
“Baru pulang Bro?” sambut Beno.
“Ternyata nggak semua berjalan sesuai yang aku bayangkan Ben.” Ken memejamkan mata, tangan kanannya ditempelkan di dahi.
“Minum dulu Ken.” Beno membawa sebotol air mineral.
“Air mata gunungnya cuman dapat sedikit Ben karena aku cuman melakukan perbuatan baik sedikit.” gumam Ken.
Beno memiringkan wajahnya, “Jadi jumlah air mata gunung sesuai dengan perbuatan baik yang kamu lakukan ya?”
Ken mengangguk.
“Aku baru aja membagi uang ke beberapa panti asuhan. Aku jadi ingat bahwa aku memang sudah keterlaluan karena melupakan bagian terpenting dari sistem ini.”
Beno menepuk-nepuk bahu Ken agar perasaan temannya itu membaik.
Ken bangkit, meminum air mineral hingga habis. “Aku mau mandi, sholat lalu tidur. Terima kasih ya Ben kamu mau membantuku mengurus apartemen ini.” Ken meninggalkan Beno, dia masuk ke kamarnya.
“Kasihan Ken, sepertinya dia baru kalut. Huft..” gumam Beno.
......................
Pagi hari, di kantor Miracle Glow.
Ken masih memeriksa berkas-berkas pekerjaan, dia bersikap profesional meski sebenarnya hatinya masih belum membaik.
__ADS_1
“Minggir! Kamu tau kan aku ini siapa?!”
Ken mendengar suara gaduh dari luar ruang kerjanya, suara yang tidak asing. Ken keluar ruangannya dan melihat kakak tirinya sedang berusaha menerobos masuk ke kantor.
“Mbak Karin?” Ken kaget melihat kakak tirinya itu berada di kantornya.
“Ken!” Karin melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum.
Ken tersenyum kecut, “Sejak kapan dia bisa senyum semanis itu sama aku?” gumam Ken.
Ken berjalan mendekati satpam yang mencoba menghalangi Karin. “Lepas pak.” Ken memerintah satpam untuk melepaskan tangan Karin.
“Tuh kan! Udah aku bilang aku ini kakaknya Ken! Ngeyel sih! Apa kabar Ken adik kak Karin yang paling baik?” Karin membuka matanya lebar, menarik bibirnya lebar pula.
“Alhamdulillah baik banget mbak. Semua berjalan semakin baik setelah mbak Karin dan mas Abas mengusirku dari rumah bapak.” Ken memasukan kedua tangannya ke saku celana.
“Hahaha.. kamu ini ada-ada aja! Siapa yang mengusir kamu? Aku? Nggak ada Ken!” Karin menepuk lengan Ken sambil berakting sok akrab, menjijikan sekali.
“Aku nggak mengusir mu Ken. Abas tuh yang mau menguasai rumah bapak, aku sebenarnya nggak setuju waktu Abas meminta kamu keluar dari rumah bapak. Mbak juga masih punya hati nurani Ken.” Karin memegang lengan Ken.
Ken melihat lengannya yang dipegang Karin lalu melepaskan tangan Karin. “Jadi kenapa mbak Karin kesini?”
“Emm.. mau tau aja kantor adik mbak tuh kayak gimana.” Karin melangkah maju, masuk ke kantor melihat-lihat sekitar. “Ruangan kamu itu ya Ken?” Karin menunjuk pintu ruangan Ken.
“Tujuan mbak apa sih?”
“Kita ngobrol di ruangan kamu yuk Ken.” Karin menarik tangan Ken, menariknya masuk ke ruangan Ken. Ken menuruti saja, walau sebenarnya dia sudah muak melihat wajah orang satu ini.
“Mbak Karin senang dan bersyukur Ken sekarang kamu jadi orang sukses.” Karin duduk di sofa di ruang kerja Ken.
“Emm.. mbak maaf ya sebelumnya, bisa langsung ke intinya aja nggak? Aku masih banyak kerjaan.” Ken menunjuk berkas-berkas yang menumpuk di ruangannya.
“Oh.. em.. gini Ken. Suami mbak baru kena PHK, boleh nggak dia kerja disini?”
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Karin merasa sangat malu pada Ken!]...
Ken menyeringai, “Kirim aja mbak surat lamaran dan CV mas Gandhi, biar nanti HRD yang urus. Maaf ya mbak aku nggak mengurus hal seperti itu, ada banyak hal yang lebih penting dari mengurusi orang yang butuh kerjaan disini.” Ken mengangkat kedua alisnya.
“Ken.” Karin tiba-tiba menggenggam tangan Ken, “Mbak mohon Ken!” wajah Karin benar-benar terlihat putus asa.
“Huft.. kalau waktu itu aku memohon seperti ini kepada mbak Karin, apa mbak Karin bakal membiarkan aku tinggal di rumah bapak?” Ken membalik pertanyaan, membuat Karin tidak bisa berkata-kata.
“Oke mbak, kirim aja surat lamaran dan CV-nya, aku bakal bicara dengan HRD. Sekarang aku minta tolong mbak Karin pulang karena aku masih banyak kerjaan.” Ken melepaskan tangannya dari Karin lalu duduk di singgasananya.
Wajah Karin tampak memerah, dia menahan emosi. “Aku pulang.” Karin keluar dari ruangan Ken.
***Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak dan mohon dukungannya untuk novel terbaru author berjudul 'Kehidupan kedua dengan sistem', terima kasih***..
__ADS_1