
Keesokan harinya..
Pagi hari sebelum berangkat ke kantor Ken menyempatkan diri datang ke kantor ayah Sarah, Tanu Lavin.
Ken berniat menggertak Tanu.
"Saya mau bertemu bos kamu! Bapak Tanu!" kata Ken seraya berkacak pinggang.
"Maaf pak apa sudah membuat janji bertemu?" tanya seorang resepsionis wanita.
"Bilang aja Ken Shankara mau bertemu." kata Ken dengan nada arogan.
"Tapi pak.."
BRAK!
Ken menggebrak meja resepsionis.
"Telepon dia! Telepon bosmu sekarang! Aku yang ngomong!"
"Ta.. tapi.. maaf pak, saya.."
"Permisi bapak Ken, silahkan ikut saya." seorang lelaki berbadan tegap datang dan meminta Ken mengikutinya.
"Siapa kamu?" tanya Ken.
Lelaki itu menerima panggilan telepon masuk ke ponselnya.
Lalu memberikan kepada Ken.
"Halo?" sapa Ken.
"Aku mohon jangan buat keributan di lobi, ikuti saja lelaki itu, dia asisten pribadiku." suara Tanu dari ponsel asistennya.
Ken mengembalikan ponsel lalu mengikuti lelaki berbadan tegap itu, menuju ke ruangan Tanu.
"Akhirnya kita bisa bertemu." sapa Ken sambil duduk di kursi, berhadapan dengan Tanu.
"Mau apa kamu kesini?"
"Awalnya aku mau kamu memohon maaf sama aku. Tapi.. sepertinya mustahil untuk sekarang."
"Hahaha.. minta maaf? Konyol! Lucu sekali, hahaha.." sesuai dugaan Ken, lelaki paruh baya itu tidak akan meminta maaf padanya
Ken semakin kesal, dia mengepalkan tangan, ingin rasanya dia menonjok wajah Tanu tapi ia urungkan, karena malas berurusan dengan polisi.
"Berhenti berbuat licik! Aku tahu kamu masih berencana melakukan hal jahat untukku!"
"Hahaha.. pintar juga ternyata otakmu! Hahaha.."
BRAK!
Ken berdiri sambil menggebrak meja.
"Kalau kamu masih melakukan hal-hal licik seperti kemarin aku nggak akan tinggal diam! Aku bakal rusak bisnismu!" gertak Ken.
__ADS_1
"Haha.. Oya? Coba saja! Bisa apa kamu pebisnis kemarin sore?" sindir Tanu.
Ken menyeringai. "Jangan kamu kira semua kelicikan bisnismu nggak ada yang tahu! Aku bakal bongkar semuanya! Jadi.. kalau masih mau bisnismu selamat jangan bertingkah bodoh! Jangan lagi mengusikku! Aku nggak akan memaafkan orang untuk kedua kalinya!" Ken pergi begitu saja dari ruangan Tanu.
Sekarang Ken menuju ke kantor Sarah, dia harus menemui gadis yang mulai tergila-gila padanya itu.
"Ken?" Sarah langsung memeluk Ken saat dia masuk ke ruang kerja pribadinya.
"Maaf Sarah." Ken menarik badan Sarah menjauh darinya.
"Maaf Ken aku terlalu senang kamu datang. Duduk Ken, mau minum apa?" tanya Sarah.
"Nggak perlu repot-repot Sarah aku sibuk, aku cuman mau mampir sebentar."
Sarah terlihat kecewa.
"Mengenai kerjasama antara perusahaan kita, apa kamu masih mau melanjutkan?" tanya Ken.
"Tentu saja Ken. Kamu kenapa tanya seperti itu?"
"Kalau begitu aku tegaskan Sarah. Kita adalah rekan bisnis, nggak lebih dari itu. Dan satu lagi yang perlu aku tegaskan! Jangan libatkan Papamu untuk melakukan hal-hal licik untuk menggangguku!" Ken menekuk kedua tangannya di dada, meski kata-katanya menggebu tapi sikapnya terlihat santai.
Mata Sarah mulai berkaca-kaca, dia membendung air matanya
"Ken.. aku suka kamu lebih dari rekan bisnis." akhirnya Sarah menyatakan perasaannya.
"Sarah, aku udah punya.."
CUP!
Sarah mencium bibir Ken, membuat Ken kaget, dia mundur beberapa langkah.
"—aku akan jadi tempat istirahat untukmu Ken. Disaat kamu lelah dengan pekerjaan, lelah dengan hubungan kamu dan semuanya. Aku bakal memberimu sesuatu yang lain, temui aku disaat kamu butuh penghibur." Sarah mengalungkan kedua tangannya di leher belakang Ken.
Ken melena ludah, kecantikan Sarah memang tiada tanding, membuat sedikit imannya goyah.
Cup.
Sarah kembali mengecup bibir Ken.
"Look at you! Don't lie baby, you want it too!" bisikan seduktif Sarah benar-benar menguji iman Ken.
Ken menarik diri, membuat rangkulan Sarah terlepas darinya.
"Aku pulang." Ken keluar dari ruangan Sarah.
Sarah mengeringai, "Aku nggak akan mengalah dari wanita itu Ken!" kata Sarah sambil memandang punggung Ken.
......................
"Huft.." Ken melonggarkan dasinya. Dia mulai menyalakan mesin mobil.
"Bapak sama anak sama-sama gila!" Ken mengemudikan mobilnya melaju kencang.
Ken mau tidak mau harus melakukan misi mengulang dari awal. Kali ini misinya adalah membeli dagangan penjual yang dagangannya masih banyak.
__ADS_1
"Masih pagi begini jelas pedagang jualannya masih banyak dong!" Ken membeli dagangan setiap pedagang yang ia temui.
Apapun jualannya tidak peduli, Ken pasti membelinya.
"Hah.. aku masih ada kerjaan tapi barang-barang ini harus aku kasih kemana?" Ken berpikir sejenak.
"Hah.. ya udah deh kalo berbuat baik jangan setengah-setengah! Aku bagikan sekalian aja ke panti asuhan." akhirnya Ken membagikan semua belanjaan yang dibeli ke beberapa panti asuhan.
Sepulang dari panti asuhan terakhir Ken melihat sebuah markas organisasi sosial.
"Atap belajar?" Ken membaca papan nama besar di depan gedung itu.
Ken tertarik untuk mengunjungi tempat itu, dia turun dari mobil lalu masuk ke gedung satu lantai itu.
"Permisi." Ken masuk ke gedung organisasi sosial Atap Belajar.
"Iya kak silahkan masuk, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan Ken.
"Emm.. kalau boleh tahu organisasi Atap Belajar ini apa ya kak?" tanya Ken.
"Duduk dulu kak, silahkan." ajak lelaki itu.
"Iya terima kasih."
"Kami organisasi non-profit yang bertujuan membantu sekolah di daerah-daerah terpencil atau yang membutuhkan bantuan kak. Biasanya kami membantu renovasi, membelikan buku, dan peralatan lainnya yang dibutuhkan oleh sekolah." jelas lelaki itu.
"Oh.. gitu ya? Kalau boleh tau dananya dari mana ya kak? Swadaya atau pemerintah?" Ken tertarik dengan organisasi ini maka dia ingin tahu lebih dalam.
"Maaf kak, saya panggil Kak Agus aja ya. Kak Agus adalah manajer umum organisasi ini."
"Oh.. boleh kak boleh."
Lelaki itu pergi masuk ke dalam ruangan, lalu keluar dengan seorang pria dengan gaya necis.
"Selamat malam." sapanya dengan suara lembut.
"Malam, maaf mengganggu. Perkenalkan saya Ken, saya ingin tahu lebih banyak mengenai Atap Belajar." sambut Ken.
"Perkenalkan saya Agus, manajer umum di Atap Belajar. Jadi kami.."
Ponsel Ken berdering, panggilan masuk dari Beno. Ken tidak menerimanya.
"Maaf Pak, silahkan dilanjut." kata Ken.
Namun Beno kembali menghubungi Ken.
"Diterima aja mas nggak apa." kata Agus.
"Iya Pak, sebentar ya." Ken menerima telepon dari Beno.
"Apa sih Ben?"
"Aira diculik Ken!" suara Beno terdengar panik.
"Apa? Diculik??"
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa like dan jejak lainnya, terima kasih***..