
Ken masuk ke ruang staf, ada Aira dan Najwa duduk di kursi masing-masing.
Ken mencoba setenang mungkin menghadapi Yoga, dia tidak ingin membantah. Yang akan dia lakukan hanya menerima semua cacian lalu pergi.
Aira melihat Ken berjalan menuju meja Yoga.
BRAK!
Yoga membanting tas koper di meja kerjanya, melonggarkan dasinya. Melihat Ken membuatnya merasa gerah dan emosi.
"Ken! Setelah bermalas-malasan kirim barang kemarin kamu malah nggak masuk? Kamu benar-benar menganggap remeh saya ya?!" Yoga melotot, kedua tangan dipinggang.
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Tingkat kemarahan Yoga 85%!]...
'Hemm.. pasti aku bakal dipecat nih.' Batin Ken..
"Kenapa kamu menghembuskan nafas kasar begitu?! Kamu kesal sama saya?!"
BRAK!
Yoga menggebrak meja.
"Maaf pak." Hanya itu yang keluar dari mulut Ken.
"Kalau sampai akhir bulan ini performa pengiriman kita jelek kamu harus tanggung jawab! Kamu harus siap bikin surat pengunduran diri!"
"Baik pak." Ken menunduk, dia tidak berani melihat wajah Yoga.
"Terus kenapa masih disini? Kerja sana! Benar-benar malas ya kamu ini Ken! Sukanya menyia-nyiakan waktu!"
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Tingkat kemarahan Yoga 95%!]...
"Permisi pak." Ken undur diri.
Aira berjalan mendekari Ken, lalu menarik lengan baju Ken, mengajaknya berjalan lebih cepat keluar dari ruangan itu.
"Nggak sekalian gandeng tangan tadi Ra?" Sindir Ken saat mereka sudah di luar ruangan.
__ADS_1
"Tadi mau begitu Ken, tapi takut kamu ge-er Ken." Kata Aira.
Ken tersenyum.
"Emm.. performa pengiriman cabang ini menurun Ken. Kita ada di nomor lima dari bawah dibanding cabang lain." Aira memberi informasi penting pada Ken.
"Emm.. iya Ra, terima kasih udah kasih tau aku soal ini, jadi aku bisa siap-siap cari kerjaan lain, hehe.. Tapi setidaknya aku nggak langsung di pecat tadi Ra." Kata Ken pasrah.
"Diauruh bikin surat pengunduran lebih parah dari dipecat Ken! Dipecat dapat pesangon tapi kalau dipaksa biki surat pengunduran diri nggak ada kompensasi apapun." Aira benar-benar mengkhawatirkan Ken.
"—ada lowongan kurir di si oren, coba cari tau deh Ken."
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira mengkhawatirkan mu!]...
"Iya Ra, terima kasih."
"Emm.. Ken—"
"Apa Ra?"
"Nggak jadi, sana kerja nanti dimarahin pak Yoga lagi. Semangat ya Ken!" Aira menyemangati Ken.
Ken melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dia membawa barang kiriman lebih banyak dari biasanya. Ken bekerja keras untuk mengirim barang sebanyak mungkin pada pagi hari, karena dia berencana pergi ke rumah darah nasional pada jam makan siang. Jadi setidaknya 30% kiriman harus selesai sebelum itu.
"Ada yang bisa saya bantu mas?" Tanya seorang rsepsionis.
"Saya mau donor darah pak." Jawab Ken.
"Mohon diisi dulu ya mas." Resepsionis memberikan sebuah formulir pendonor darah pada Ken.
Ken mengisi dengan teliti, lalu dia mengembalikan lagi pada resepsionis.
"Mohon ditunggu ya mas."
Ken menunggu di ruang tunggu. Ada beberapa orang yang menunggu antrian.
"Ternyata banyak juga yang mau donor darah. Masih banyak juga ya orang baik di dunia ini." Gumam Ken.
Dua puluh menita berlalu.
__ADS_1
"Atas nama pendonor Ken Shankara." Akhirnya Ken dipanggil juga.
"—silahkan masuk ke sini mas." Seorang staf kesehatan mengarahkan Ken ke sebuah ruangan. Ken yang baru pertama kali mendonorkan darahnya sedikit terkejut melihat banyaknya pendonor darah yang ada.
"Silahkan kesini untuk cek tekanan darah mas." Ajak staf kesehatan.
Setelah beberapa tahap cek kesehatan akhirnya Ken lolos untuk menjadi pendonor darah.
Ken berbaring, tak lama jarum yang disambungkan ke selang masuk ke kulitnya, darahnya keluar memenuhi selang yang berakhir di kantong darah.
Lima belas menit berlalu Ken di perbolehkan menunggu untuk obsevasi setelah pendonoran.
Ken merasa sedikit pusing, dia diberi susu kotak dan roti. Dalam sekejap semua habis.
Tiga puluh menit berlalu Ken diperbolehkan pulang.
"Huft.. yang diambil darahnya kenapa aku berasanya kayak yang diambil dosanya ya? Enteng banget badannya." Gumam Ken sambil berjalan menuju tempat parkir.
Hologram kembali muncul.
...[Selamat misi 07 selesai. Reward berhasil di dapatkan! Teka-teki dan misi selanjutnya akan hadir kembali besok. Teruslah berbuat baik tanpa pamrih dan jangan lupa untuk selalu check-in setiap hari. Terima kasih Ken! ]...
Ken meneruskan tugasnya hingga pukul delapan malam.
Ken dan Beno berjanji bertemu di sebuah warung masakan padang.
Mereka makan sebelum membicarakan hal penting ini.
"Alhamdulillah." Ucap Beno setelah selesai makan.
"—oke Ken sekarang aku udah siap mendengarkan semua yang bakal kamu ceritain. Aku harap kamu bilang yang sejujurnya tanpa ada yang tutupi." Beno terlihat lebih santai dari tadi pagi tapi tetap saja masih memasang wajah serius.
Ken melepaskan kacamata super, memerikan pada Beno.
"Kenapa? Kamu suruh aku pakai kacamata ini? Buat apa?" Beno bingung.
"Nanti kamu juga bakal tau, pakai aja dulu."
Beno mengangkat sebelah alisnya, tidak tahu apa yang dimaksud temannya.
Beno memakai kacamata itu dan….
__ADS_1
***Bersambung..
Jangan lupa komen, like, vote dan nilainnya, terima kasih🙏***