Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 43 : Sudah jatuh tertimpa tangga, masuk selokan pula!


__ADS_3

Ken menghentikan mobilnya di pinggir jalan sepi, di dekat jembatan yang tidak banyak dilewati orang. Ia keluar dari mobil, berjalan mendekat ke bibir jembatan, pemandangan malam kota ini begitu indah.


Kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung tinggi menjulang, ditambah hembusan angin malam, suasana yang lengkap untuk kekusutan otak Ken.


Ken menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, matanya terpejam. Bayangan wajah ibunya terlintas, selalu saja wajah ibunya yang terlintas setiap pikirannya sedang kacau.


Secara tidak langsung otak Ken menampilkan orang yang paling ia butuhkan berada di sampingnya saat sedang tidak baik.


“Andai ibu masih hidup, aku pasti akan berangkat ke tanah suci bersama ibu. Membelikan ibu baju bagus, mengajak ibu makan enak, huft.. tapi nyatanya itu semua cuman hayalan belaka, ibu sudah tenang di surga.” Ken mendongakan kepalanya menatap langit yang bertabur bintang, dia merindukan ibunya.


“Ibu.. anakmu ini sekarang menjadi orang yang banyak uang. Sebuah sistem merubah hidupku bu, apa sistem ini ibu kirimkan untukku?” Ken tersenyum, dia bisa melihat wajah ibunya di langit, dia benar-benar merindukan ibunya.


Drrt.. drrrt..


Ken mengambil ponsel dari sakunya.


(Pesan dari Beno : Ken kamu baik-baik aja kan? Aku nggak pulang ke apartemenmu malam ini, kamu pasti butuh waktu untuk menyendiri kan? Tapi jangan sungkan hubungi aku kalau butuh teman ngobrol atau butuh sesuatu.)


Ken menghembuskan nafas kasar lagi, kenangan bercanda bersama Beno, Ares dan Aira terlintas. Tiba-tiba rasa bersalah yang begitu besar merasuki hatinya.


“Apa aku terlalu kasar ya tadi? Huft..” lagi-lagi Ken menghembuskan nafas kasar, pikirannya memang sedang kacau balau.


“Lebih baik aku pulang deh, udah malam.” Ken masuk ke mobilnya, dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya.


Ken menyetir pelan menikmati perjalanan, entah mengapa rasanya ingin menikmati suasana lain, bukan hanya di kantor dan apartemen seperti belakangan ini.


Hologram muncul.


...[URGENT ALERT]...


...[Maps menuju ke TKP]...


Tanpa pikir dua kali Ken langsung mengikuti peta yang muncul di layar hologram. Peta menuju ke sebuah jalanan sepi. Ken keluar dari mobil, sayup-sayup Ken mendengar suara wanita minta tolong. 


Ken berlari ke arah suara di tengah-tengah pematang sawah. Ken melihat seorang wanita yang hampir telanjang, dua orang laki-laki tengah berusaha menodainya.


...[Mode berkelahi aktif!]...


BUG!


BUG!


Ken memukul bagian vital milik seorang laki-laki hidung belang itu. “Kurang ajar! Siapa kamu?!” seru lelaki lainnya.


Ken melepaskan jasnya, melempar pada wanita yang sedang ketakutan. “Lari mbak! Cari tempat aman!” teriak Ken, wanita itu berusaha lari namun tertangkap oleh lelaki hidung belang lainnya saat Ken sedang menghajar temannya.

__ADS_1


“Hish.. dasar sampah!” Ken menghajar lelaki kedua, Ken melampiaskan emosinya. “Mati saja orang seperti kalian ini!” Ken tanpa ampun menghajar kedua lelaki hidung belang itu hingga pingsan.


“Ayo mbak saya antar masuk ke mobil saya.” Ken menatih korban, badannya terasa dingin dan gemetar. Ken memberi air minum yang ada di mobilnya.


Ken kembali lagi ke tengah pematang, dengan mudahnya dia bisa mengangkat kedua lelaki pingsan itu ke dalam mobil.


“Mas mau bawa mereka kemana?” tanya wanita itu.


“Ke kantor polisi mbak, orang seperti mereka harus di kurung kalau boleh dikebiri sekalian mbak. Kalau membunuh orang nggak dosa, sudah pasti mereka saya bunuh mbak.” Ken menyalakan mesin mobil.


Wanita itu melihat Ken sedikit ngeri, dia memeluk badannya sendiri. 


“Jangan takut mbak, saya bukan lelaki seperti mereka.” Ken menunjuk kedua lelaki hidung belang yang masih pingsan di kursi penumpang belakang.


Ken melaju menuju kantor polisi terdekat. Ken segera menyerahkan kedua lelaki hidung belang itu ke kantor polisi.


“Pak, maaf saya capek sekali, boleh nggak saya pulang nggak ikut introgasi?” Ken sudah muak dengan interogasi, melelahkan.


Polisi itu mengangkat sebelah alisnya. “Enak baget ya mas ngomongnya? Seperti nggak merasa bersalah aja?”


Ken memiringkan wajahnya, “Tapi saya memang nggak bersalah, saya yang menolong korban.” jelas Ken.


“Oya?” 


Ken melihap name tag di seragam polisi itu, Hendra / Kepala kantor polisi.


“Yang benar saja pak? Tersangka??” Ken tidak mau kalah, dia juga berpose persis seperti yang Hendra lakukan.


“Seret orang ini masuk ke ruang interogasi!” perintah Hendra ke anak buahnya.


“Eh? Apa-apaan ini?” dua polisi menarik Ken masuk ke ruang interogasi. Ken dipaksa duduk di ruangan sempit dan remang-remang itu.


Ken memijar pinggir jidatnya, dia melirik jam tangan.


00:40 AM.


BRAK!


Hendra membanting pintu ruangan itu, membuat Ken terperanjat.


“Siapa nama saudara?” tanya Hendra sambil membanting formulir introgasi dan pena.


“Ken, Ken Shankara.”


“Punya kartu identitas?” 

__ADS_1


Ken merasa geli dengan pertanyaan Hendra, jelas saja dia punya kartu identitas, dia bukan seorang imigran gelap.


Ken membuka dompetnya, mengeluarkan kartu identitas. Hendra melihat dompet Ken yang penuh dengan uang kertas pecahan terbesar. Hendra menelan ludah.


“Pekerja swasta? Perusahaan apa mas?”


“Miracle Glow.”


Hendra berpikir sejenak merasa tidak asing dengan nama itu tapi dia tidak begitu tahu.


“Jabatannya?”


“Maaf ya pak apa hubungannya jabatan saya dengan introgasi kasus pemerk*s*an ya? Tolong pak introgasinya yang benar, saya capek!” Ken merasa ada yang tidak beres dengan polisi satu ini.


...[Pendeteksi perasaan aktif! Hendra mengincar uangmu Ken!]...


Ken menyeringai. “Pak, butuh uang berapa sih? Bilang aja, saya bakal kasih!” kata Ken tanpa rasa sungkan sedikitpun. 


Mendengar perkataan itu membuat Hendra naik pitam, harga dirinya merasa diinjak-injak.


“Hey! Dasar lelaki nggak punya tata krama! Kamu kira saya ini apa? Saya ini kepala kantor polisi! Saya melakukan interogasi seperti biasa tapi kamu pikir saya bakal minta uang dari anda? Tolong dijaga ya mas omonganya!”


BRAK! 


Hendra memukul meja dengan kencang.


Ken menekuk kedua tangannya di dada, “Pak, saya ini nggak sengaja lewat jalan itu lalu saya mendengar suara orang minta tolong, ternyata di tengah sawah ada wanita yang mau diperk*s* dua lelaki hidung belang tadi!”


“Tapi anda memukul mereka sampai pingsan! Anda main hakim sendiri! Belum tentu kedua orang itu tersangka! Bisa saja mereka memang sama-sama mau!”


Ken tertawa, lucu sekali pemikiran polisi bodong ini. “Pak, kalau orang mau melakukan hubungan badan mending di hotel nggak sih? Masa iya di tengah sawah pak? Mana enak?” 


“Apapun itu! Yang pasti anda telah melakukan kekerasan dan bertindak main hakim sendiri!”


Ken menggaruk kepalanya, rasanya otaknya hampir meledak, dia merasa mual dan pusing.


Dia muak sekali hari ini, dan nasib buruk mempertemukannya dengan polisi bodong!


Ini yang dinamakan sudah jatuh tertimpa tangga, masuk ke selokan pula!


***Bersambung...


Jangan lupa like, komen, subscribe, dan jejak lainya, terima kasih..


Sekali lagi author minta dukungannya untuk novel baru author yang ikut lomba di Noveltoon berjudul Kehidupan kedua dengan sistem.'

__ADS_1


Terima kasih orang-orang baik, sehat-sehat semua***.


__ADS_2