Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 40 : Bertemu Lembayung.


__ADS_3

Ken bertemu Beno di sebuah cafe yang buka selama dua puluh empat jam. Mereka berbincang banyak mengenai pertemuan Ken dengan Tanu Lavin.


“Kamu benar-benar nggak sayang menolak tawaran itu?” untuk kesekian kalinya Beno menanyakan hal ini.


“Mau kamu tanya seribu kali juga jawabanku bakal sama Ben, aku nggak akan terima tawaran itu. Aku kan udah rekrut staf exim dan juga semua persyaratan untuk menjadi perusahaan dan produk ekspor udah aku kantongi, jadi kenapa harus lewat orang lain kalau aku sendiri aja bisa?” Ken menyeruput espresso-nya.


“Emm.. iya deh Ken semangat, aku dukung apapun langkah yang kamu jalani Ken.”


“Apartemenku selesai di dekorasi besok siang, tolong diurus ya Ben. Kamu juga sekalian mindahin barang-barang milikmu ke sana.” Ken membeli sebuah apartemen untuk dirinya, dia juga mengajak Beno sebagai orang kepercayaan untuk tinggal bersama.


“Siap Pak Bos! Kalau gitu besok malam bisa party nih sama Aira dan Ares?” 


“Bisa dong! Ajak mereka ke apartemenku! Kita syukuran di sana.” 


“Emm.. tadi aku, Ares dan Aira makan bareng Ken. Emm.. ternyata kamu nggak bilang ya ke Aira kalau kamu mau ketemu papanya Sarah?”


“Iya Ben, aku takut Aira mikir yang nggak-nggak kalau tau aku ketemu papanya Sarah.” Ken sudah menghabiskan satu porsi espresso, dia memesan lagi pada pelayan.


“Kalau kamu nggak bilang dan akhirnya Aira tau dari orang lain malah bikin Aora semakin mikir yang nggak-nggak Ken!” 


“Huft..” Ken menyandarkan kepalanya di kursi. “Oke, besok aku ceritakan ke Aira setelah aku  turun gunung Mbiru.”


“Kamu mau naik gunung??” Beno bingung kenapa Ken tiba-tiba ingin naik gunung.


“Air mata gunung udah menipis Ben, aku harus minta lagi sama Lembayung.”


“Lembayung? Siapa dia? Emm.. semacam makhluk astral gitu kah? Atau robot AI kayak Sibot? Atau…?” Beno menggantungkan kata-katanya.


“Entahlah, yang pasti aku melihatnya dia seorang nenek, tapi kalau kata Sibot dia tuh aslinya cantik.”


“Eh.. jangan suka loh Ken! Bahaya!”


Ken dan Beno tertawa bersama.


......................


Ken bangun saat mendengar suara adzan subuh, matanya benar-benar masih lengket karena baru tidur dua jam. Ken memaksakan diri untuk bangun lalu mengambil air wudhu, dia berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah.


Ken juga tidak lupa berinfaq, lalu pulang ke kost. Hari ini Ken akan pindah ke apartemen barunya, dia sudah mengemas barang-barangnya dan sudah memesan jasa pengiriman barang.


Ken melihat kamar kosnya lalu tersenyum, “Nggak menyangka hidupku bisa begitu drastis berubah. Ken membersihkan lensa kacamata super lalu memakainya.

__ADS_1


Hologram muncul


...[Selamat datang kembali user 802 KEN!]...


...[Selamat! Reward tambahan sebesar sepuluh juta sudah masuk ke akun anda! Teruskanlah berbuat baik.]...


“Hah.. padahal aku cuman memasukan dua juta ke kotak infaq, aku nggak sistem masih memberiku reward tambahan ini. Aku harus mulai memikirkan bagaimana harus membantu orang secara lebih serius.” Ken merasa tidak enak mendapatkan banyak uang cuma-cuma dari sistem.


...[Soal teka-teki hari ini : Warnaku hitam namun akan menjadi merah saat digunakan dan berubah menjadi putih saat sudah selesai digunakan. Apakah aku?]...


Meski sudah berkali-kali mendapatkan teka-teki namun Ken masih saja kesulitan menjawabnya, perlu waktu beberapa menit untuk menemukan jawabannya.


Ken mondar-mandir untuk menemukan jawaban.


TING!


Bak mendapatkan ide saat sedang menulis novel, begitu saja Ken mendapatkan jawabannya. “Arang?”


...[Benar! Reward sebesar lima ratus juta rupiah telah masuk ke akun anda! Misi hari ini : Mengumpulkan sampah sepanjang mendaki gunung Mbiru dan memberi makan dan minum untuk semua orang yang anda temui! Reward : Kemampuan berbahasa asing tingkat awal.]...


“WOW! Itu hal yang aku butuhkan!” Ken segera bersiap untuk mendaki gunung.


......................


Ken merasa tidak enak dengan pandangan orang-orang, dia mulai membagikan makanan  dan minuman pada petugas penjaga gunung dan beberapa pendaki.


Setelah mendaftarkan diri Ken mulai mendaki pukul enam pagi, tak lupa dia memungut sampah yang dia temui. Ken berhenti sejenak di pos dua, dia bertemu dua orang penjaga.


“Wah.. akhirnya mas Ken kembali naik gunung. Saya kira setelah sukses jadi bos muda nggak lagi naik gunung loh mas.” salah satu penjaga ternyata adalah penjaga yang Ken temui saat pendakian terdahulu.


“Nggak kok Pak, saya tetap bakal mendaki, hehe..” Ken meneguk air minumnya.


“Dan yang membuat saya kagum adalah mas Ken tetap mau mengumpulkan sampah selama mendaki.”


Ken merasa tidak enak dipuji atas hal itu, karena dia melakukannya untuk menyelesaikan misi. “Sampahnya semakin banyak saja Pak.” keluh Ken.


“Iya mas Ken, yang mendaki semakin banyak yang nyampah juga semakin banyak. Manusia itu memang susah untuk tertib dan bersyukur mas. Hal remeh seperti membuang sampah saja susahnya bukan main.” kata salah seorang penjaga.


Ken hanya tersenyum.


“Pak, saya izin lanjut mendaki ya. Permisi.” Ken melanjutkan perjalanan mendaki gunung Mbiru.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia sampai di puncak, kali ini tidak ada pendaki sama sekali. “Sepi sekali.” kata Ken sambil mengedarkan pandangannya.


“Mencari aku?” Lembayung muncul dengan wajah aslinya, seorang wanita cantik berpakaian kebaya dan jarik jawa, dengan rambut terurai.


Ken sempat tidak berkedip, terpesona dengan wajah Lembayung.


“Hmm.. benar-benar reaksi yang membosankan.” kata Lembayung sambil menyibakkan rambutnya. “Bagaimana rasanya setelah jadi orang kaya?” tanyanya pada Ken.


Ken baru sadar, “Oh.. emm.. ya menyenangkan.” jawab Ken tergagap.


Lembayung terkekeh melihat reaksi Ken. “Mau minta air mata gunung ya?”


Ken mengangguk.


“Ini.” Lembayung memberikan sebuah kendi berukuran kecil.


“Segini aja?” 


“Hish.. dasar manusia rakus! Air mata gunung akan diberikan sesuai dengan bagaimana kamu membantu orang lain. Kamu tanya kenapa cuman segitu? Tanya pada dirimu sendiri!.” Lembayung menyilangkan tangannya di dada.


“Jadi semakin banyak aku berbuat baik untuk orang lain maka semakin banyak air mata gunung yang aku dapat?” 


“Iya, begitu rumusnya! Kamu tetap harus berbuat baik, uangmu kan semakin banyak? Kenapa hanya berbuat baik sedikit?” sindir Lembayung.


Ken merasa tertohok, dia memang tidak begitu banyak berbuat baik.


“Sudah sadar sekarang?” tanya Lembayung.


Ken mengangguk.


“Ya sudah kalau gitu sana pergi, perbanyak berbuat baik ya!”


CLING!


Lembayung menghilang begitu saja.


Ken memandang kendi kecil yang berada di tangannya, seketika perasaan bersalah memenuhi hatinya. Dia merasa seperti orang jahat, dia tidak tahu diri, setelah diberi kemudahan dan kekayaan dia malah tidak banyak membantu orang lain.


***Bersambung..


Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih🙏***

__ADS_1


__ADS_2