
Sudah sekitar empat jam sejak Ken selesai operasi kakinya yang digigit oleh anjing, dia mulai sadar. “Hah.. aku pikir aku udah mati.” Ken duduk dan merasa kakinya terasa sakit.
Ken memaksakan diri untuk berdiri, dia melepas paksa selang infusnya lalu perlahan berjalan keluar kamar. Ken berjalan sambil meraba tembok karena masih terasa badannya lemas.
Ken menengok kamar pasien untuk mencari dimana kamar Aira. Akhirnya kamar Aira ketemu, kedua orang tua Aira sedang menunggu di sebelah ranjang pasien, sedangkan Aira tertidur pulas.
Ken tersenyum, dia merasa lega Aira selamat.
“Ken?”
“Ssst!” Ken meminta Beno untuk diam, dia menarik Beno menjauh dari kamar Aira.
“Kamu kenapa udah keluar dari kamar sih Ken? Balik.. balik!” Beno menarik tangan Ken, tapi ditepis.
“Aku mau balik ke apartemen Ben, ini aku titip kartuku tolong urus pembayaran pengobatan ku dan Aira ya Ben. Emm.. aku baru butuh waktu sendiri Ben, maaf ya buat sementara kamu jangan balik ke apartemen dulu.” Ken melarang Beno datang ke apartemennya.
“Eh.. Ken kamu tuh baru sakit! Kamu masih perlu dirawat, nanti setelah itu kamu mau menyendiri atau mau usir aku dari apartemen juga nggak masalah, tapi sekarang kamu harus disini dulu Ken.” Beno mencoba merayu Ken agar tidak meninggalkan rumah sakit.
“Ben, aku nggak akan melakukan hal-hal aneh kok, aku cuma butuh ketenangan aja kok. Kalau dalam dua puluh empat jam aku nggak ada kabar kamu boleh masuk ke apartemen.”
Beno menatap Ken dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
“Please ya Ben! Kali ini aja!” Ken memohon pada Beno, akhirnya Beno luluh juga.
“Dua belas jam! Bukan dua puluh empat jam, aku bakal datang kalau dua belas jam lagi kamu nggak ada kabar.”
“Iya deh iya!”
“Ayo aku bantu cari taksi.” Beno akhirnya malah komplotan Ken untuk kabur dari rumah sakit.
“Thanks Bro!” Ken duduk di dalam taksi.
“Hmm.. awas aja kalau kamu berani aneh-aneh!”
“Hmm.. berangkat Pak!”
Taksi membawa Ken menuju apartemennya, di dalam perjalanan Ken hanya diam, pikirannya kosong. Sesampainya apartemen, Ken juga masih terdiam, dia duduk di sofa ruang tamu tanpa menyalakan lampu.
TIK!
Lampu menyala dalam satu jentikan jari Lembayung.
“Kamu lagi?”
“Wah.. sambutan macam apa nih?” sindir Lembayung.
“Aku mau menghilang dari sini.” kata Ken dengan nada datar.
Lembayung mengerutkan dahinya, “Mau bunuh d*ri? Nggak bisa! Pemilik kacamata super harus mencari pemilik baru untuk menggantikan tugasnya.” jelas Lembayung.
__ADS_1
“Aku mau pergi keliling negara ini untuk melakukan perbuatan baik. Aku akan meninggalkan semua harta dan orang-orang yang aku sayang.”
Lembayung tepuk tangan, “BRAVO! Itu baru benar! Memang itu yang seharusnya kamu lakukan!”
“Kalau aku pergi dari sini semua orang yang aku sayang akan amankan?”
“Iya!”
“Lalu air mata gunung bagaimana?Aku masih ingin perusahaan tetap jalan dibawah kendali Beno.”
“Tenang aja! Aku bakal selalu refil sesuai di gentong yang kamu siapkan di kamar itu. Semakin banyak kamu berbuat baik akan semakin banyak aku refillnya. Jadi perusahaanmu masih tetap bisa berjalan.”
Ken mengulurkan tangannya “Deal!”
Lembayung dan Ken bersalaman.
Ken berdiri lalu berjalan masuk ke kamarnya, Lembayung mengikutinya. “Kenapa ikut kesini?” tanya Ken.
“Jangan bilang kamu mau pergi sekarang?” tanya Lembayung.
“Lebih cepat lebih baik kan?”
“Hah.. nih pakai!” Lembayung melemparkan selendangnya.
Ken tersenyum, dia memungut selendang kuning milik Lembayung lalu membalutnya ke kaki dan seketika rasa sakitnya hilang. “Terima kasih ya Lem..”
Ternyata Lembayung sudah menghilang.
Ken mengemas baju, dan barang-barang lainnya, tujuannya adalah pergi ke markas Atap Belajar. Namun sebelumnya Ken menuliskan surat wasiat untuk Beno, dia menyerahkan semua kuasa perusahaan kepada Beno.
Ken juga menuliskan pada Beno untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Aira dan Ares. Ken juga meminta Beno untuk tidak mencarinya.
Ken mengangkat kopernya, melihat sekitar, tiba-tiba air matanya keluar begitu saja. “Hmm.. kamu harus kuat Ken! Ini demi kebaikan orang banyak.” Ken meninggalkan surat wasiatnya di meja ruang tamu agar Beno mudah menemukannya.
Ken benar-benar pergi tanpa jejak.
...----------------...
Lima tahun kemudian…
“Kak Ken!” seorang lelaki berpakaian seragam sekolah dasar melambaikan tangan pada Ken.
Ken yang sedang menikmati teh hangat di teras rumah kepala desa setempat.
“Hati-hati ya!” seru Ken.
Ken menarik nafas panjang, hawa asri terasa sangat menyejukan, kali ini Ken berada di pulau Kalimantan, di salah satu kabupaten di pulau itu. Ken bersama Atap Belajar sedang ada proyek renovasi sebuah sekolah dasar.
“Udah bangun toh?”sapa Agus, manajer Atap Belajar yang kini menjadi teman baik Ken.
__ADS_1
“Udah dong, udah semangat mau cat sekolahan nih.” kata Ken.
“Haha.. dasar kamu! Semangat banget kalau berbuat baik, hmm.. andai negara ini punya satu juta Ken Shankara pasti akan bisa maju mengejar ketertinggalannya dari negara lain.” Agus mengeluarkan rokok dari kantong celananya.
"Aku mandi dulu deh." Ken hendak masuk ke dalam rumah.
"Kamu bakal datang kan Ken ke acara pernikahan mantan kekasihmu itu?"
Ken berhenti sejenak, “Nggak bang! Kita harus cepat-cepat menyelesaikan renovasi sekolah sebelum musim hujan lho, kalau aku pergi nanti tenaganya berkurang bisa molor.” Ken memberikan alasan yang rasional untuk menutupi alasan yang sesungguhnya.
“Tapi aku udah beliin tiket pesawatnya Ken, aku taruh di kasurmu!”
“APA? Lho kenapa dibeliin sih?” Ken protes.
“Ya biar kamu datang! Kalau memang udah nggak ada perasaan sama sekali nggak apa dong datang ke nikahan mantan?” sindir Agus.
“Terserahlah bang! Mau mandi dulu.” Ken meninggalkan Agus, dia masuk ke kamarnya untuk mengambil baju, namun tiket pesawat di atas kasurnya sangat mengganggu.
“Hah.. datang aja gitu?” tanya Ken pada dirinya sendiri. “Entahlah!” Ken memasukan tiket pesawat itu ke dalam nakas lalu pergi mandi.
Tak lama setelah mandi Ken pergi ke sekolah yang sedang direnovasi, Setelah pergi mengasingkan diri bersama organisasi Atap Belajar, Ken tidak tanggung-tanggung dalam membantu sesama. Bukan hanya uang yang dikeluarkan secara cuma-cuma namun juga tenaga dan pikiran yang dia curahkan secara ikhlas.
Hologram tiba-tiba muncul.
...[URGENT ALERT! Ikuti peta, selamatkan korban!]...
“Ada apa lagi nih?” Ken langsung meninggalkan semen yang sedang diaduk, pergi menggunakan sepeda motor mengikuti peta yang muncul dari hologram.
“Wah.. memang benar-benar sistem ini memintaku buat berbuat baik kepada semua makhluk.” Ken turun dari sepeda motor saat melihat target korban yang dimaksud oleh sistem.
Ken berjalan mendekati seekor rusa yang kakinya terjerat ranjau.
“Tenang ya rusa cantik, aku datang untuk menolongmu kok buat untuk berbuat jahat.” Ken dengan tenang mencoba membuka ikatan tali ranjau yang mengikat salah satu kaki rusa kecil itu.
“Oke, clear!” Ken berhasil melepaskan tali, rusa berlari menjauh.
[Misi berhasil! Korban selamat! Reward sebesar seratus juta rupiah masuk ke akunmu!]
“Alhamdulillah bisa buat tambah-tambah renovasi sekolah.” Ken tersenyum, dia kemudian kembali ke sekolah untuk membantu proses renovasi.
Ya.. begitulah kurang lebih kehidupan Ken lima tahun belakangan ini, hidupnya dia curahkan untuk membantu sesama dan menjalankan setiap misi kebaikan yang muncul dari sistem kacamata super.
Sesekali Ken pergi berlibur untuk menikmati uang yang datang dengan mudah kepadanya. Ken juga sesekali bertemu Beno dan Ares secara diam-diam, namun dia tidak pernah mau menemui Aira.
Meski masih menaruh hati pada Aira tapi Ken berpikir hal itu adalah yang terbaik bagi Aira agar tetap aman dari bahaya.
Perusahaan milik Ken juga semakin berjaya dibawah kepemimpinan Beno, pundi-pundi mengalir lancar ke rekening Ken tanpa dia harus bekerja.
Kini Ken semakin mengerti bagaimana harus menghabiskan uang yang diberikan sistem padanya, hampir semua hasil reward dia pakai untuk kegiatan kemanusiaan membantu sesama.
__ADS_1
... - E N D -...
Terima kasih udah membaca cerita yang author buat ini, maaf kalau jelek, terima kasih semua, sehat selalu!