
Lembayung masuk ke ruang interogasi, Ken dan Hendra sudah bersama duduk berhadapan.
“Saya kuasa hukumnya, saya datang untuk menjemput dia.” Lembayung melemparkan surat keterangan kunjungan ke Badan Intelijen Negara.
Hendra memandang sinis Lembayung.
“Hmm.. Bapak Rudi dari Badan Intelijen Negara sudah menghubungi kami. Silahkan.” Hendra dengan berat hati mempersilahkan Ken dibawa oleh Lembayung.
“Ayo pulang.” Lembayung menarik tangan Ken, mereka keluar dari ruangan itu.
“Apa yang terjadi kenapa kamu cepat banget bisa keluarkan aku dari sini?” bisik Ken.
Lembayung menghentikan langkahnya secara mendadak. “Gimana sih? Kamu nggak mau pulang? Kamu udah betah disini atau gimana?” Lembayung kesal hingga matanya membulat besar.
“Nggak, bukan itu sih maksudku. Jelas aku ingin keluar dari sini. Tapi.. bagaimana dengan kacamata super?” tanya Ken.
“Akan aku ceritakan di dalam mobil. Wartawan di luar sedang berkumpul menunggu kamu! Kamu harus pasang wajah memelas dan minta maaf dengan tulus walau kamu nggak salah. Sekarang nama kamu udah bersih, semua orang menganggap kamu pahlawan, jadi kalau kamu minta maaf dengan tulus image kamu bakal sempurna plus plus Ken! Kamu paham kan maksudku?” Lembayung menjelaskan panjang dan lebar pada Ken.
“Hmm..”
“Paham nggak?!” gertak Lembayung.
“Iya.. iya, minta maaf dengan muka memelas kan?”
“Makanya kalau diajak ngomong jawab yang benar!” Lembayung menarik tangan Ken hingga keluar dari kantor polisi.
Seketika wartawan berkumpul, kilatan lampu flash dari kamera langsung menyambut Ken dan Lembayung. Wartawan berebut menanyakan berbagai macam pertanyaan, Lembayung mengangkat tangannya seketika semua wartawan diam.
“Saya Ayu, sebagai kuasa hukum dari saudara Ken Shankara akan menjelaskan penyelesaian kasus ini. Klien saya dinyatakan tidak bersalah untuk kedua tuduhan yang ditujukan padanya. Seperti yang sudah dikatakan oleh Monica, dia dibayar oleh seseorang bernama Tanu Lavin. Dengan kebaikan hati klien saya memaafkan dan tidak akan membawa kasus itu ke jalur hukum. Kedua mengenai kacamata perekam itu sudah dijelaskan kan oleh Badan Intelijen Negara? Jadi saya rasa kasus klien saya sudah clear! Saudara Ken Shankara ada yang ingin kamu katakan?” Lembayung mempersilahkan Ken untuk bicara.
“Pertama-tama saya minta maaf kepada teman-teman dan karyawan saya yang menjadi susah karena saya. Saya juga minta maaf kepada seluruh masyarakat negara ini yang mengikuti kasus ini, saya minta maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir.” Ken membungkukkan badan selama tiga puluh detik untuk meminta maaf.
“Oke, semua sudah jelas kan? Kalau begitu permisi, klien saya harus segera pulang untuk istirahat dan kembali beraktivitas.” Lembayung menuntun Ken berjalan menuju mobilnya.
“Wah.. keren!” Ken tepuk tangan memberi penghargaan untuk Lembayung.
“Ken.. kamu benar-benar harus berhati-hati kedepannya. Kamu udah nggak ada kesempatan lagi untuk seperti ini.” Lembayung mulai menyetir.
“Apa konsekuensinya dari kejadian ini?” tanya Ken.
“Kamu nggak akan ketemu Sibot lagi.”
“Apa??”
__ADS_1
“Iya, itu hukuman karena kamu kehilangan kacamata super.”
“Dimana kacamata supernya?”
“Ada di dashboard depan mu itu.” kata Lembayung.
Ken segera membuka dashboard, dia mengambil tempat kacamata lalu membukanya. “Ini? Ini bukan kacamata super.”
“Aku menukar framenya, karena Badan Intelijen Negara menahan kacamata sebelumnya.” jelas Lembayung.
Ken segera memakai kacamata super dengan frame baru.
Hologram muncul.
[Selamat datang User 802 Ken! Check-in hari pertama berhasil!]
“Jadi aku mulai dari hari pertama lagi ya?” Ken merasa kecewa.
“Heh! Udah untung kamu masih bisa jadi pemilik kacamata super itu, jangan ngeluh! Bersyukur Ken!” Lembayung kesal Ken berubah, dia seperti orang yang haus kekayaan instan, tidak bersyukur seperti dulu lagi.
“Alhamdulillah.” Ken mengucap syukur.
“Kalau sampai kejadian lagi kacamata super jatuh ke tangan orang lain maka end game untuk kamu Ken.” jelas Lembayung.
“Iya, begitu peraturannya.”
“Kalau sampai hal itu terjadi apa aku akan kehilangan semua harta yang sudah aku dapatkan selama ini?” tanya Ken.
“Nggak akan, semua sudah hak kamu sepenuhnya. Tapi.. apa kamu bisa menjalankan bisnismu tanpa bantuan kacamata super?” Lembayung menyeringai.
“Hah.. iya aku bakal berusaha keras untuk melindungi kacamata ini.”
“Makanya kamu jangan mengutamakan wanita!”
“Siapa yang mengutamakan wanita sih? Aku selama ini nggak menempatkan wanita di top list kok!” Ken tidak terima dikatai oleh Lembayung.
“Ya itu karena kamu belum pacaran sama Aira. Sekarang kan kalian pacaran, pasti bakal beda!”
“Apa aku bakal membahayakan Aira?”
Lembayung mengangkat kedua bahunya, memberi isyarat bahwa dia tidak menjamin hal itu.
Ken terdiam sesaat.
__ADS_1
“Bayangkan! Kalau Aira tau kamu selama ini menjalankan bisnis dari keajaiban kacamata super, apa dia tetap akan menilai kamu sama seperti sekarang?” pertanyaan Lembayung membuat hati Ken sedikit goyah.
Lembayung menghentikan mobilnya di depan kantor Ken. “Udah sampai, turun sana!”
“Terima kasih ya Lembayung. Aku bakal menjaga baik-baik kacamata ini.” Ken mengulurkan tangannya meminta Lembayung bersalaman.
“Nggak terima jabatan tangan!” Lembayung memukul telapak tangan Ken. “Ingat baik-baik ya Ken apa yang aku katakan tadi.”
Ken mengangguk pelan, “Aku turun dulu, sampai bertemu lagi Lembayung!” Ken melambaikan tangan.
“Malas!” Lembayung pergi dengan mobilnya.
Ken terkekeh melihat sikap Lembayung yang menurutnya cukup unik. Ken berjalan masuk ke kantor dan ternyata semua karyawan menyambutnya, terompet dan confetti kerlap-kerlip dihamburkan ke arah Ken.
“Selamat datang kembali pak bos!” Beno memeluk Ken.
“Hah.. akhirnya kamu kembali Ken!” Ares ikut memeluk Ken, sedangkan Aira berdiri dihadapan Ken sambil menahan air mata harunya.
“Maaf ya semua aku udah membuat kalian khawatir dan susah.” Ken membungkukkan badan meminta maaf.
“Nggak apa Pak, yang penting sekarang bapak sudah kembali. Selamat datang kembali Pak!” sambut manajer HRD.
“Terima kasih semua!”
“Udah.. bubar! Bubar! Kerja lagi!” Ares mengusir semua karyawan.
“Bro! Kita menyingkir dulu yuk! Nyonya bos udah menanti kangen-kangenan sama pak bos.” Ares merangkul Beno lalu mengajaknya menjauh dari Ken dan Aira.
“Eh.. tapi ada banyak hal yang harus aku bahas sama Ken! “ Beno penasaran dengan banyak hal.
“Nanti aja nanti! Nggak peka banget sih kamu!” Ares menarik paksa Beno keluar dari kantor.
Ken tersenyum kaku, “Maaf ya.” banyak kata yang seharusnya terucap tapi hanya itu yang keluar dari mulut Ken.
Aira menarik tangan Ken untuk masuk ke ruang kerja pribadi milik Ken. Aira lalu memeluk erat Ken, dan air matanya tak bisa lagi ditahan dia menangis karena lega dan merasa bersyukur.
“Maaf ya Ra.” Ken membalas pelukan Aira.
Kini di hatinya timbul banyak keraguan akan masa depannya, tak terkecuali masa depan hubungannya dengan Aira!
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, favorit dan jejak lainnya, terima kasih***...
__ADS_1