
Ken baru saja mematikan mesin mobilnya di tempat parkir di rumah orang tua Sarah.
Ken keluar dari mobilnya mengamati rumah dengan gaya eropa tersebut, pilar-pilar yang tinggi, lampu temaram di taman, dan air mancur dengan patung menjulang tinggi menghiasi halaman rumah.
"Wah.. besar sekali rumahnya, halamannya aja luas. Tipe rumah orang banyak uang nih." gumam Ken sambil berjalan menuju pintu rumah.
"Hai Ken! Akhirnya mampir juga ke gubukku." sambut Sarah di ambang pintu rumah.
Ken hanya tersenyum masam mendengar Sarah menyebut istananya dengan kata 'gubuk'.
"Ini buat kamu Sarah." Ken memberi buket bunga mawar putih pada Sarah.
Sarah tampak senang menerimanya, dia mencium aroma bunga tersebut, "Wangi Ken, seperti kamu." katanya sambil merona.
"Ehem.."
Suara berdehem ayah Sarah membuat Ken dan Sarah langsung menoleh.
Ken memberi salam.
"Selamat malam bapak Tanu Lavin." Ken dan Tanu bersalaman.
"Akhirnya bisa bertemu Ken si bos muda yang baru naik daun." canda Tanu.
"Aduh pak, saya seperti ulat bulu dong kalau begitu." Ken, Sarah dan Tanu tertawa, mereka masuk ke rumah.
Beberapa saat mereka berbincang agar akrab, lalu acara berlanjut ke makan malam, setelah itu mereka menikmati teh.
"Sungguh pemuda baik dan alim juga ternyata." Tanu mengomentari Ken yang tidak mau diajak minum wine.
"Maaf tuan Tanu karena dalam agama tidak boleh mengkonsumsi alkohol." kata Ken.
Tanu hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Jadi bagaimana Ken apa kamu setuju untuk melimpahkan wewenang ekspor barang ke perusahaanku?" Tanu sejak awal memang bertujuan mengundang Ken untuk mendesak pelimpahan kekuasaan ekspor Miracle Glow pada perusahaannya PT. Tanu Berjaya.
Ken menyeruput tehnya. "Maaf tuan Tanu saya belum bisa melakukan hal itu. Saya memang berencana melakukan ekspor namun akan saya tangani sendiri. Sebelumnya terima kasih atas tawarannya."
TUK!
Tanu meletakan gelas di meja sedikit keras untuk menggertak Ken.
"Ken Shankara, kamu itu pemain bisnis kemarin sore. Dan aku ini Tanu Lavin adalah pebisnis sejak dua puluh lima tahun lalu! Kamu tahu kan kalau perusahaanku sudah berpengalaman ekspor alat-alat medis dan obat ke berbagai negara? Jadi kamu yakin mengabaikan tawaranku?!" Tanu merasa harga dirinya direndahkan oleh Ken karena ditolak begitu saja.
"Saya tahu pasti tuan Tanu adalah pebisnis yang hebat. Saya juga tahu sepak terjang PT. Tanu Berjaya, maka dari itu saya belajar dari tuan Tanu untuk membangun kerajaan bisnis dengan usaha saya sendiri." Ken sangat yakin dengan keputusannya menolak tawaran Tanu karena dia sudah memiliki rencana sendiri untuk ekspor.
"Emm.. Ken, sebaiknya kamu pertimbangkan dulu tawaran Papa." Sarah menengahi Ken dan Tanu.
"Maaf Sarah."
Sarah melirik pada ayahnya yang terlihat marah.
"Emm.. kalau begitu saya mohon pamit tuan Tanu, Sarah. Terima kasih atas undangannya ke sini, menu makan malamnya sangat nikmat. Permisi, selamat malam." Ken undur diri.
Sarah mengejarnya hingga tempat parkir.
__ADS_1
"Ken!" Sarah menahan tangan Ken.
"Iya Sarah?"
"Aku rasa kamu salah menolak tawaran Papa, aku mohon minta maaf pada Papa dan pertimbangkan lagi. Ini kesempatan emas buat kamu loh." bujuk Sarah.
"Maaf Sarah." Ken melepaskan tangan Sarah dari tangannya lalu masuk ke mobil dan pergi dari rumah itu.
"Dasar pebisnis maruk, memangnya aku tidak tau kalau kamu cuman mau memanfaatkanku buat cari untung sendiri? Akan aku buktikan kalau aku bisa melakukannya sendiri." gumam Ken sambil mengemudikan mobilnya.
Ken menghubungi Beno melalui.
"Ben, ngopi yuk." ajak Ken.
"Boleh, dimana?" suara Beno keluar dari speaker yang ada di dalam mobil.
"Dimana aja, kamu kirim aja alamat cafenya nanti aku kesitu."
"Oke bos." pembicaraan selesai.
Hologram tiba-tiba muncul.
...[URGENT ALERT🚨]...
...[Maps menuju TKP!]...
"Wow.. udah lama aku nggk dapat misi menyelamatkan orang." Ken melaju kencang dengan mobilnya mengikuti peta yang ada di hologram.
Peta menuju sebuah jalanan sepi di pinggir kota, lampu jalan mati dan sepi orang lewat. Dari dalam mobil Ken melihat seorang wanita dan anak kecil yang diganggu dua orang preman berbadan besar.
Hologram muncul.
...[Mode berkelahi diaktifkan!]...
Ken berlari mengambil ancang-ancang untuk menendang salah satu preman.
BOOM!
Berhasil, satu preman tersungkur kesakitan.
"Kurang ajar! Siapa kamu?" teriak preman yang satunya.
"Aku? Aku orang yang bakal membawa kamu ke penjara!" Ken menyeringai.
Baku hantam antara Ken dan kedua preman di mulai.
Ken sempat terkena pukul di pipi kirinya. "Kurang ajar!"
Bug!
Bug!
Bug!
Dalam sekejap Ken berhasil membuat kedua preman itu pingsan.
__ADS_1
Ken menyeka darah yang keluar dari mulutnya. "Hah.. sial!"
Ken mendekati ibu dan anak kecil lelaki yang sedang menangis.
Anak kecil itu menghindari Ken, dia bersembunyi di belakang badan ibunya.
"Jangan takut, kakak bukan orang jahat seperti mereka." Ken berjongkong untuk melihat wajah anak lelaki itu.
"Terima kasih mas atas bantuannya, kalau nggak ada mas mungkin anak saya udah dibawa kabur preman itu." sang ibu masih gemetar ketakutan.
"Sepertinya anak ibu masih trauma." Ken melihat anak lelaki itu menunduk tidak berani melihatnya.
Mobil polisi datang, beberapa polisi membawa kedua preman itu ke dalam mobil.
"Terima kasih tuan Ken. Maaf sebelumnya boleh ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." kata seorang polisi.
"Hmm.. oke deh." Ken masuk ke mobilnya, mengikuti mobil polisi menuju kantor polisi.
Ken juga tak lupa menghubungi Beno agar dia tidak menunggunya.
Ken menjalani interogasi hingga tengah malam. Ken juga tak lupa mengantar korban ke rumah.
"Terima kasih mas Ken." kata sang ibu yang menggendong anaknya.
"Bu.. ini ada sedikit uang untuk ibu dan anak ibu." Ken memberi seluruh uang cash yang ada di dalam dompetnya.
"Eh.. nggak usah mas." Ibu itu menolak, tapi Ken memaksanya.
"Nggak apa bu, ibu orang baik. Lain kali kalau mau pengajian yang jauh tolong berangkat dengan teman-teman ibu ya, supaya nggak terjadi hal seperti ini lagi." Ken menasehati wanita tersebut.
"Iya mas, biasanya saya kalau pengajian ke kota bareng tetangga saya. Tapi kali ini mereka nggak pada ikut mas jadi saya cuman berdua dengan anak saya karena saya seorang janda."
Ken merasa semakin iba.
"Hati-hati ya bu, saya permisi dulu." Ken pamit undur diri.
Drrt.. drrr..
(Pesan dari Beno : Udah selesai belum Ken urusan di kantor polisinya? Perlu aku kesana nggak?)
Ken langsung menghubungi Beno.
"Udah kok Bro! Tenang aja!"
"Syukurlah, jadi ngopi nggak? Aku nggak bisa tidur nih!"
"Haha.. yuk! Kirim alamat cafenya ya." Ken memutus pembicaraan.
Hologram muncul.
[Selamat! Misi menyelamatkan korban berhasil! Reward sebesar seratus juta sudah masuk ke akun anda! Jangan lupa untuk tetap berbuat baik tanpa pamrih Ken!]
Ken tersenyum melihat nominal reward yang dia dapat. Ken segera masuk ke mobil dan melaju menuju cafe yang sudah ditetapkan oleh Beno.
***Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejaknya kakak, terima kasih atas dukungannya***..