
Ken masih melaksanakan pekerjaannya dengan baik, dia tidak ingin terlihat menonjol agar tidak ada yang curiga padanya. Dia masih bertahan sebagai kurir karena yakin bahwa akhir bulan ini Yoga akan memecatnya.
Malam hari sepulang bekerja Ken bertemu dengan Beno di sebuah warung makan. Ken menceritakan mengenai bisnis yang sedang dia siapkan dan juga mengenai Sibot.
“Apa?? Jadi sistem kacamata super itu ngasih kamu robot AI gitu? Robot yang bisa bantu kamu membangun bisnis? Wah.. seberapa jauh sih Ken sistem itu bisa membawa keajaiban? Aku jadi penasaran?” Beno berbicara sambil menghabiskan mie ayamnya.
“Aku sendiri juga nggak tau sih Ben, tapi yang pasti aku nggak mau menyia-nyiakan hal ini. Mungkin memang sistem ini awalnya memilih aku secara acak dan kebetulan tapi aku ingin membuktikan pada pencipta sistem ini kalau aku layak menjadi pemilik sistem ini.” Semangat membara menyulut Ken, dia mulai mendapatkan kepercayaan diri
“Memang siapa penciptanya?”
“Emm.. nggak tau sih Ben. Emm.. nggak penting juga Ben kayaknya kita bahas itu, ada hal yang lebih penting lagi yang harus kita bahas.”
“Apa?”
“Aku mau minta bantuan kamu beli tanah dan gedung untuk kantor.”
“Budget berapa?”
“Jangan yang mahal-mahal, aku harus beli mobil box juga.”
“Ya berapa Ken?”
“Maksimal tiga ratus juta, lebih baik lagi kalau dapat satu ratus jutaan.”
“Tapi cuman dapat bangunan kecil itu Ken." Kata Beno.
"Nggak masalah, besok aku bakal beli gedung besar bertingkat-tingkat." Ken menghayal menjadi orang yang kaya raya dan memiliki harta yang tak habis tujuh turunan.
"Tapi... Memang kamu ada uangnya?”
“Ada dong." Jawab Ken mantap.
“Hutang bank ya? Hati-hati loh suku bunga bank mengerikan Ken. Kalau usaha kamu nggak jalan gimana hayo?" Beno maaih meragukan keberanian Ken yang terkesan mendadak menjadi pengusaha.
“Nggak dong, ngapain hutang bank? Aku kan memang punya uang segitu.”
“Uhuk.. uhuk..” Beno tersedak mengetahui hal itu, dia tidak menyangka temannya itu punya uang dengan nominal yang cukup banyak.
“Jangan heran temanmu ini sekarang orang yang berduit.” Ken dengan santainya menghabiskan bakso sambil menyombongkan diri pada temannya.
__ADS_1
“Kamu yakin bisa menjalankan perusahaan sendiri? Mengelola usaha bukan cuman masalah jual barang aja loh Ken. Ada hal-hal lain dibelakang itu." Beno memang bukan orang yang paham soal bisnis tapi setidaknya dia tahu kalau mengelola bisnis memang bukan perkara mudah.
“Aku nggak akan sendiri, kan ada kamu?”
“Ya tapi aku kan bukan orang yang bisa menjalankan bisnis juga Ken. Yakin cuman dengan bantuanku aja kamu bisa jalanin bisnis?"
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Beno meragukan mu dan ide usahamu!]...
“Nggak masalah, kamu cuman perlu menjalankan apa yang aku minta Ben, selebihnya aku yang akan urus. Aku bakal bayar kamu mahal, pokoknya aku mau kualitas hidupmu juga berubah menjadi semakin baik." Kata Ken menggebu.
"Siap bos! Jadi apa tugas yang harus aku laksanakan?" Tanya Beno.
"Tugas pertamamu adalah menghubungi tok-tokers yang punya followers lumayan banyak. Ajak mereka buat bikin video mengenai produk yang akan kita jual. Aku bakal bayar merek seribu rupiah per satu view. Tapi kalau mereka bisa mencapai satu juta views aku bakal kalikan dua bayarannya. Tapi hitungannya per hari ya, bukan akumulasi, jadi tugas kamu adalah memantau views dari tok-tokers yang kamu tunjuk.” Ken menjelaskan caranya untuk membuat produk ini viral.
“Mau berapa orang? Dua? Lima? Sepuluh? Dua puluh?”
“Untuk awal aku minta lima puluh orang, untuk satu minggu. Nanti minggu berikutnya aku mau ganti lagi orangnya. Untuk jumlah tok-tokers di minggu kedua aku tentukan setelah melihat respon di tiga hari pertama." Ken menerapkan semua yang dipelajari dan bahas bersama Sibot.
“Hmm.. oke deh, aku ada grup khusus tok-tokers gitu sih.” Diam-diam Beno adalah seorang tok-tokers yang memiliki dua puluh ribu followers, kontennya adalah review figure action, film anime, dan game.
“Oke, aku serahkan tugas ini ke kamu Ben, bayaran kamu untuk dua minggu lima juta dulu ya? Kalau sukses aku kasih.”
Beno tepuk tangan kegirangan seperti anjing laut, dengans senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya.
“Gilaaaaa.. temanku sekarang auranya udah kayak big boss loh. Uang bukan masalah lagi, keren!" Puji Beno.
“Amiin.. Doain ya Ben. Aku berharap bisnis ini sukses, aku mau menarik Aira, Ares dan semua teman kita di kantor kecuali Najwa buat kerja di kantorku. Aku mau buat pak Yoga kebakaran jenggot.” Ken mulai memikirkan masa depannya.
“Bagus Bro! Aku dukung kamu! Terutama Aira dan Ares kita harus selamatkan duluan.”
“Tapi jangan sampai mereka tau soal sistem ini.”
“Beres, rencananya besok aku mau sebarkan rumor kalau kamu menang undian satu milyar Ken.”
“Oke, lebih cepat lebih baik.” Ken semakin semangat untuk memulai bisnisnya ini.
–
Ken kembali ke kost setelah selesai makan dengan Beno, dia membuka laptopnya, meneruskan pelajaran berbisnis.
Sibot tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.
“Kerja bagus Ken! Kamu menjalankan semua sesuai dengan arahanku. Semua pasti berjalan dengan baik, segera dapatkan tempat dan desak Sarah untuk segera menyelesaikan produksi.” Kata Sibot.
__ADS_1
“Hmm.. aku udah kasih Sarah minyak zaitun yang dicampur dengan air mata gunung sebanyak seribu liter. Dia bilang butuh waktu sepuluh hari."
“Berapa banyak air mata gunung yang kamu campur?” Tanya Sibot.
“Seratus mil.”
“Pintar! Kamu benar-benar menjalankan sesuai perintahku. Good job Ken!"
“Tapi kalau air mata gunung habis bagaimana caranya aku dapat lagi? Apa aku harus mendaki gunung Mbiru dan bertemu nenek itu?”
“Iya, namanya Lembayung.”
“Nenek itu bernama Lembayung?”
“Dia memilih berbentuk nenek saat bertemu denganmu, padahal aslinya dia sangat cantik seperti dewi.”
“Terus kenapa dia memilih menjadi nenek didepanku?”
“Dia takut kamu suka padanya.”
“Chh.. tidak akan, aku punya seseorang yang aku suka.”
“Benarkah? Kalau begitu buang jauh!”
“Apa??”
“Wanita dan urusan asmara hanya akan membuatmu susah! Fokus pada bisnis ini!”
“Apa itu adalah syarat yang harus aku bayar untuk sistem ini?”
“Tidak juga, hanya saja aku tidak begitu suka karena akan mengganggu konsentrasimu. Selamat belajar, panggil aku saat kamu butuh.”
Ken setuju dengan kata-kata sibot. Ini adalah titik awal kebangkitannya, dia harus bisa merubah nasib hidupnya. Semakin drastis perubahannya maka semakin dia bisa membuat orang-orang yang meremehkannya menjadi kebakaran jenggot.
Ken terus belajar memahami semua materi bisnis yang terdapat pada laptop, karena dibantu oleh Sibot juga Ken menjadi mudah memahami dan menerapkannya pada bisnis yang akan dia bangun.
**Bersambung...
Jangan lupa like, komen, klik favorit, vote, beri nilai dan jejak-jejak lainnya, terima kasih🙏**
__ADS_1