Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 22 : Aira VS Sarah.


__ADS_3

"Kebetulan banget ketemu disini. Boleh gabung nggak? Kebetulan aku sendirian." Sarah menawarkan diri untuk bergabung dengan Ken dan teman-temannya.


"Boleh banget." Jawab Beno dan Ares bersamaan.


Beno dan Ares sibuk mencari kursi kosong. 


"Silahkan." Beno dan Ares mempersilahkan Sarah duduk di kursi yang baru mereka ambil yang diletakan di sisi sebelah timur meja.


Tapi Sarah memilih duduk di sebelah Ken, tempat duduk yang tadi dipakai Ares. Beno duduk di tempatnya lagi menghadap Sarah , sedangkan Ares duduk di kursi yang baru diambil.


Meski baru pulang bekerja dan terlihat lelah namun aura mahal dan elegan pada diri Sarah terpancar kuat.


'Ih.. siapa sih dia?' Aira melirik ke arah Sarah melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Hologram muncul.


...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira cemburu!]...


Ken tersenyum.


"Oiya.. ini Sarah. Kalo ini Aira, Beno dan Ares. Mereka teman kerjaku." Ken memperkenalkan masing-masing.


"Hai.. semua salam kenal aku Sarah." Sarah memperkenalkan diri.


Beno dan Area terpana melihat senyum Sarah yang sangat memesona.


"Eh.. ayo pesan makan. Mbak silahkan pilih saya kan ada janji mau traktir mbak." Ken berbicara pada Sarah.


"Emm.. mulai sekarang panggil nama aja deh dan nggak udah formal begini, biar makin akrab." Kata Sarah.


"Emm.. oke Sarah." Ken masih kaku dan aneh memanggil nama Sarah tanpa embel-embel 'mbak'.


'Sok akrab banget sih! Gatel deh, minta dikasih bedak nih orang!' Dalam hati Aira semakin panas.


Malam itu mereka berlima makan sambil mengobrol. Sarah bisa dengan mudah akrab dan membaur dengan Beno dan Ares, tapi tidak dengan Aira. 


Aira memasang wajah jutek dan bersikap cuek. Selain merasa cemburu dan menaruh curiga lada hubungan Ken dan Sarah, Aira juga tidak suka berteman dengan orang kaya, dia merasa tidak akan bisa mengimbangi mereka.


Aira pergi untuk mencuci tangan setelah selesai makan.


"Siapa sih cewek itu? Kok dia akrab sama Ken ternyata. Huh.." Aira menggerutu sendiri karena kesal.


"Eh.. luka di tanganku menghilang? Ajaib! Jangan-jangan karena minyak yang Ken kasih?" Aira berlari menuju meja, karena buru-buru Aira tersandung kursi.


"Aak.." 


Ken sigap menangkap Aira, kini ia ada dalam pelukan Ken.


"Eh.. kamu baik-baik aja Ra?" Tanya Ken.


Aira melepaskan diri dari pelukan Ken. "Emm.. iya, maaf aku nggak sengaja."

__ADS_1


"Makanya nggak usah lari Ra."


"Lihat Ken! Lukaku hilang!" Aira memperlihatkan tangannya, bekas lukanya terlihat samar-samar.


Ken kaget melihatnya. 'Ini khasiat air mata gunung?' Batin Ken.


"Apa sih?" Beno penasaran.


"Tadi tangan aku ada bekas luka kena kertas Ben. Terus Ken kasih aku minyak ini, aku pakai waktu sampai disini tadi. Dan sekarang luka aku hampir hilang." Aira terlalu semangat menceritakan hal itu.


"Masa bisa Ra secepat itu?" Ares meragukannya.


"Memang itu minyak apa sih?" Tanya Beno mulai penasaran, dia mengambil botol minyak zaitun dari tangan Aira, kemudian membukanya. "Baunya sih minyak zaitun." Beno mengendus minyak itu.


Ares merebut botol itu lalu mengendusnya. "Ini sih minyak zaitun biasa. Jangan mengada-ada kamu Aira." 


"Ken kamu tadi lihat kan lukanya?" Aira mencari pembelaan pada Ken.


"Emm.. iya aku lihat kok." Ken bingung harus membela Aira atau sebaliknya karena dia tidak ingin minyak itu menjadi pembahasan.


"Emm.. boleh lihat?" Sarah meminta botol itu dari tangan Ares, ia mengendusnya.


"Ini sih minyak zaitun biasa, bisa sih untuk menghilangkan  bekas luka tapi lama nggak mungkin dalam waktu singkat apalagi baru beberapa jam." Sarah berkomentar sebagai ahli dermatologist, tapi Aira tidak terima dia merasa Sarah meremehkannya.


"Eh.. mbak saya nggak bohong ya, ada buktinya kok. Tuh.. tanya aja sama Ken!" Aira sedikit menyolot.


"Hmm.. tapi saya ini dermatologist, saya punya klinik kecantikan jadi saya tahu pasti ini cuman minyak zaitun biasa." Kata Sarah.


Aira merebut botol itu dari Sarah. "Ya udah kalau nggak ada yang percaya, yang penting Ken percaya sama aku."


Ken tersenyum kaku.


Setelah itu suasana menjadi dingin, Beno dan Ares tahu alasan kenapa Aira terlihat tidak suka pada Sarah.


"Terima kasih ya Ken makan malamnya, terima kasih juga kalian udah terima aku untuk gabung." Sarah sudah berada di balik setir mobilnya, dia menurunkan kaca mobil untuk berbicara dengan Ken dan lainnya.


"Sama-sama, hutangku sudah lunas ya." Kata Ken pada Sarah.


"Hehe.. iya. Emm.. kartu nama aku kamu buang ya?" Sindir Sarah.


"Eh? Nggak kok."


"Kirain udah dibuang soalnya kamu nggak menghubungi aku sih, hehe.. aku pulang duluan ya semua, mari." Mobil Sarah melaju kencang meninggalkan Ken dan teman-temannya.


"Gila! Kenapa dimana kamu Ken sama bidadari itu?" Beno benar-benar terkagum oleh paras cantik Sarah.


"Nggak sengaja ketemu karena kecelakaan." Ujar Ken.


"Kamu kecelakaan? Kapan?" Tanya Aira.


"Bukan aku yang kecelakaan, tapi Fius, anak SMO yang pernah mencariku di kantor" 

__ADS_1


" Terus kenala dia kasih kamu kartu nama?" Tanya Aira dengan nada kesal.


"Hoam.. ngantuk, pulang yuk." Selain mengantuk Ares juga ingin memberi waktu luang untuk Ken dan Aira. "Yuk Ben pulang."


Beno dan Ares pulang duluan. Sedangkan Ken mengantar Aira pulang, dalam perjalanan Aira tidak banyak bicara, suasana hatinya sedang tidak baik.


Sesampainya di rumah Aira,


"Ken—" Aira melepas helmnya.


"Iya Ra? Ada apa?" Tanya Ken.


Hologram muncul.


...[Pendeteksi perasaan aktif! Aira cemas!]...


"Hmm.. aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari aku dan lainnya. Apapun itu aku yakin kamu nggak akan melakukan hal aneh. Aku percaya sama kamu, jadi tolong tetap jadi Ken si anak baik." Aira masuk ke rumah tanpa mendengar jawaban dari Ken.


Ken tidak diberi kesempatan untuk menjawab.


"Aira ternyata bisa merasakan hal lain dari aku." Gumam Ken sambil menatap punggung Aira.


Setelah Aira masuk ke rumah Ken pulang ke  kost.


Ken turun dari gerbang hendak membuka pintu gerbang.


"Mas Ken akhirnya pulang." Sambut sang ibu kost, Vivin.


"Ada apa ya bu?"


"Lihat nih mas! Kantung mataku tiba-tiba kembali normal seperti habis di operasi. Efek minyak ini dahsyat mas! Saya boleh minta satu botol lagi." Vivin menunjuk kantung matanya.


Memang tidak ada kantung mata di wajahnya.


"Maaf bu saya juga cuman dikasih, udah saya bagi-bagi habis." 


"Kalau gitu kasih tau alamat tokonya, saya bakal beli produk ini." Vivin menggebu-gebu bercerita.


"Itu nggak dijual bu." Ken kebingungan menjawab.


"Yah.. padahal ini minyak ajaib lho mas." Saking semangatnya bercerita Vivin sampai melotot.


"Masa sih bu?" Ken menuntun motornya hingga masuk ke tempat parkir, lalu pamit untuk masuk ke kamarnya.


Ken membanting badan di atas kasur.


"Kalau benar efek air mata gunung sehebat itu aku bisa manfaatkan untuk cari uang nih." Ker terpikir menjual krim atau minyak yang dicampur air mata gunung.


***Bersambung...


Fresh from the handphone, haha..

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan nilai, terima kasih🙏***


__ADS_2