
Dua puluh menit berlalu Beno dan Ares datang.
“Gimana keadaan Ken?” tanya Beno dan Ares berbarengan.
“Duh.. kompak banget kalian.” sindir Aira.
“Gimana Ra?” kembali Beno dan Ares berbarengan.
Aira tertawa geli. “Alhamdulillah nggak apa, dia baru ngorok tuh. Kata dokter kadar gula darahnya turun dan dehidrasi. Belum lama tadi di tes kadar gula darahnya udah mendekati normal jadi nggak perlu suntik insulin, cuma masih butuh infus aja sih.”
“Kamu apain si Ken sih Ra sampai dia pingsan gitu?” Beno menyenggol bahu Aira.
“Eh.. enak aja! Aku nggak apa-apain dia kok!” Aira menabok bahu Beno.
“Sst.. tuh Ken jadi bangun kan, kalian berisih sih!” Ares menunjuk Ken yang mulai membuka mata.
“Iya, kalian berisik banget sih. Ini rumah sakit loh bukan warung makan.” baru saja membuka mata Ken sudah bisa bercanda.
“Kalau udah bisa ngelawak berarti udah sembuh kan Ken?” tanya Beno.
Ken mengangguk. “Aira, Beno, Ares.. aku minta maaf ya. Aku banyak salah sama kalian.”
“Itu tau! Sini sujud dulu.” kata Ares sambil tertawa.
“Ssst.. rumah sakit ini tuh Res!” Aira menabok lengan Ares.
“Ken? Kamu baik-baik aja?” tiba-tiba Sarah datang dan menerobos masuk ke bilik perawatan Ken.
“Kamu tau dari mana aku disini?” tanya Ken.
Sarah meletakan tangannya di dahi, lalu pipi lalu turun ke dada Ken, seketika Ken menepis tangan Sarah. “Aku udah diperiksa dokter kok Sarah, udah mendingan.”
“Aku keluar ya, gerah disini, sempit.” Aira berdiri berniat keluar dari bilik perawatan ken.
“Disini aja Ra.” Ken menahan tangan Aira. “Biar Beno sana Ares aja yang keluar.”
Beno dan Ares langsung merasa tersingkir, merek keluar dari bilik perawatan yang memang terasa sesak dan gerah.
“Maaf ya Ken, aku terlalu menekanmu. Kamu jadi banyak pikiran dan jadi jatuh sakit.” Sarah merasa menyesal telah menekan Ken dalam bidang bisnis.
“Nggak apa Sarah, wajar kalau kamu begitu karena kamu udah pengalaman dalam bidang ini. Aku aja yang masih belum terbiasa menghadapi suasana genting jadi bikin panik. Tapi yang penting permintaan minyak zaitun udah terpenuhi kan?”
“Maaf ya Ken.” Sarah menggenggam tangan kanan Ken.
__ADS_1
“Ken aku susul Beno dan Ares ya?” Aira merasa risih seperti obat nyamuk.
“Nggak Ra, aku mau kamu selalu temani aku.” Ken memandang Aira sambil tersenyum manis membuat hati Aira berdegup kencang.
“Kalian pacaran?” Sarah bisa melihat sinyal-sinyal cinta diantara Ken dan Aira.
“Nggak kok.” Aira menjawab berbarengan dengan Ken.
“Iya.” jawaban Ken berbeda.
Aira melotot mendengar jawaban dari Ken.
“Belum dijawab sih sama Aira, tapi aku udah menyatakan perasaanku ke dia.” kata-kata ini membuat Sarah bak disambar petir di siang bolong.
“Oh.. gitu ya. Maaf aku udah melewati batas, aku nggak tau kalau kamu suka sama Aira lebih dari teman.” Sarah mundur dua langkah dari posisi berdirinya.
“Nggak apa Sarah.” jawab Ken.
“Kalau gitu aku mau balik dulu ke klinik ya Ken. Banyak yang harus aku kerjakan, selamat buat kalian.” Sarah menahan air matanya, dia berjalan cepat pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ken? Kamu kok ngomong gitu sih? Sarah syok sepertinya.”
“Jadi kamu menerima pernyataan cintaku atau enggak nih Ra?” Ken memiringkan badan ke kiri menghadap Aira, pandangan matanya tidak bisa lepas dari wajah Aira yang mulai memerah.
“Kamu serius Ken? Kamu nggak baru mengigau kan?” Aira kembali menanyakan.
Jantung Aira semakin berdegup kencang tidak beraturan.
“Aku..”
“Eh.. Sarah kenapa Ken kok nangis?” tiba-tiba Beno masuk ke bilik perawatan.
“Iya, dia lari sambil sesenggukan gitu.” Ares ikut masuk ke bilik perawatan.
Ken dan Aira saling pandangan bingung menjawabnya.
“Kenapa woy?” Beno menyenggol bahu Aira.
“Aku bilang kalau aku menyatakan perasaanku ke Aira, dan sepertinya itu yang bikin Sarah jadi begitu.” jelas Ken.
Beno dan Ares sama-sama menutup mulut, mereka tidak menyangka hal ini akhirnya terjadi juga. Setelah bertahun-tahun keduanya seperti sedang petak umpet dengan perasaannya sendiri.
“Wah.. pekerjaanku di kantor masih banyak Ben.” Ares mulai berakting mencari alasan untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1
“Oh.. iya aku juga ada janji ketemuan sama beberapa mitra promosi sih.” Beno yang langsung paham maksud Ares juga langsung mencari alasan untuk pergi meninggalkan Ken dan Aira.
“Kita pergi dulu ya, assalamualaikum.” Beno dan Ares pamit undur diri.
“Lucu banget nggak sih reaksi mereka Ken?” Aira tertawa kecil melihat kelakuan aneh kedua temannya.
“Lebih lucu lagi reaksimu Ra. Belum pernah aku lihat kamu tersipu seperti tadi.” Ken menyelipkan rambut Aira di belakang telinga, membuat wajah Aira semakin merona.
“Jadi aku diterima apa nggak nih?” tanya Ken lagi.
Aira hanya menjawab dengan anggukan.
......................
Sarah merasa dipermainkan oleh Ken, dia merasa selama ini Ken mendekatinya karena suka kepada dirinya.
“Jahat kamu Ken!!” Sarah membawa mobilnya melaju kencang, kebencian dan amarah memenuhi hatinya.
Padahal Sarah sudha merasa sangat yakin bahwa Ken juga menyukai dirinya tapi ternyata KEn dengan tegas memilih Aira dari pada dirinya.
"Apa sih Ken bagusnya Aira? Sarah menyetir sambil menangis histeris.
"Aku bakal balas kamu Ken!" cinta memang mengerikan.
Dalam sekejap rasa cinta dapat berubah menjadi sebuah kebencian yang mendalam.
Sarah berencana pulang ke rumah orang tuanya. Sebagai anak yang semata wayang yang selalu dibela oleh kedua orang tuanya terutama oleh ayahnya, Sarah tumbuh menjadi anak yang selalu bergantung pada kedua orang tuanya.
Mobil Sarah sampai di tempat parkir rumah orang tuanya. Sebelum turun Sarah mengacak-acak riasan wajanhnya agar ayahnya semakin merasa kasihan padanya. Dia berniat mencari empati ayahnya agar membela dirinya dan ikut membenci Ken.
"Papaaa.." Sarah masuk ke ruang kerja ayahnya, dia langsung memeluk sang ayah sambil menangis tersedu-sedu.
“Sarah? Kamu kenapa?” tanya sang ayah, Tanu.
“Pa.. Ken jahat!” Sarah mengadukan Ken pada ayahnya. Ini adalah langkah pertamanya untuk membalas dendam pada Ken.
“Jahat kenapa? Apa yang dia lakukan ke kamu sampai kamu menangis gini?” Tanu panik melihat anak tercintanya menangis seperti itu.
“Aku kira, hiks.. dia suka sama aku Pa. Ternyata dia suka orang lain, aku.. hiks.. merasa dipermainkan Pa sama dia. Aku merasa dimanfaatkan aja Pa, hiks..” Sarah menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya.
“Dasar orang nggak tau diuntung! Tenang Sarah Papa akan buat Ken menderita seribu kali lipat dari yang kamu rasa!” Tanu mengepalkan tangannya, amarah langsung memenuhi hatinya.
Tanu tidak terima anak semata wayangnya dibuat sakit hati oleh Ken. Sarah berhasil memprovokasi ayahnya.
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, beri nilai dan jejak lainnya, terima kasih***...