
Hendra membawa kacamata super ke ruangannya, lalu ia menghubungi seseorang
"Selamat malam Bapak, maaf mengganggu. Saya butuh bantuan dari Bapak, ada kasus serius yang sedang saya tangani. Saya harap Bapak bisa membantu saya.” Hendra menghubungi Alberto dia adalah kepala kepolisian daerah, beliau adalah atasan dari Tanu.
“Kasus serius apa yang kamu maksud?” tanya Alberto secara tegas
“Saya akan kirimkan laporannya segera. Saya mohon jangan sampaikan kepada bapak Tanu karena saksi kriminalitas kali ini adalah orang kenalannya.”
“Oke kirimkan tapi kalau bukan masalah serius aku akan memotong gaji mu!” Alberto mengakhiri panggilan.
Hendra cepat-cepat membuat laporan lalu mengirimkan via email kepada Alberto.
Tak Butuh waktu lama Alberto langsung menghubungi Hendra, dia tertarik dengan kasus yang Hendra laporkan dan bersedia datang secepatnya.
“Mampus kamu Ken! Kali ini Tanu juga nggak akan bisa menyelamatkan kamu, haha..” Hendra menyeringai.
Enam jam berlalu..
Berita Ken ditangkap polisi sudah heboh di dunia maya. Banyak pemberitaan hoax yang bermunculan, seketika nama baik Ken si bos muda yang baik hati tercoreng.
Puluhan wartawan pencari berita berkumpul di depan kantor Miracle Glow. Suasana suram menyelimuti kantor, telepon berdering setiap detik. Entah itu dari mitra, wartawan ataupun orang yang hanya penasaran.
“Ben! Res! Kita harus ke kantor polisi sekarang! Ken masih nggak bisa dihubungi! Dia nggak punya siapa-siapa selain kita.” Aira bingung, sejak pagi dia uring-uringan mendesak Beno dan Ares untuk membawanya ke kantor polisi menemui Ken.
“Iya Ben Aira benar. Kasihan Ken harus menghadapi ini sendiri.” kata Ares.
“Kalau gitu kita cari pengacara dulu, kita nggak bisa dong datang begitu aja tanpa pendamping? Kita bisa apa?” Beno menjelaskan kepada kedua temannya itu.
“Biar kak Sari aja yang cari pengacara. Kita temui Ken sekarang! Oke?” Aira menarik-narik lengan Beno.
“Tapi di depan wartawan banyak banget Ra?” Beno masih enggan melewati kerumunan wartawan.
“Kalau kamu nggak mau antar aku bisa kesana sendiri.” Aira berjalan melewati Beno dan Ares.
“Aira tunggu!” teriak Ares. “Ayo ikuti Aira, bisa berbuat nekat dia kalau nggak kita jagain.” Ares menarik Beno.
Akhirnya Aira, Beno dan Ares diantar oleh supir perusahaan menuju ke kantor polisi. Mobil perusahaan harus menembus kerumunan wartawan yang sejak pagi buta sudah semangat mencari informasi.
“Huft.. gila! Ternyata Ken sebegitu terkenalnya ya?” keluh Beni sesaat setelah mereka berhasil menembus kerumunan wartawan.
“Eh.. ada beberapa mobil yang mengikuti kita tuh.” Ares melihat ke arah belakang ada dua mobil yang mengikuti mobil mereka.
“Aku yakin di kantor polisi juga pasti banyak wartawan.” kata Beno.
Aira yang duduk di sebelah Ares hanya terdiam, dia sangat khawatir dengan keadaan Ken.
Sesampainya mereka di halaman kantor polisi, wartawan dengan jumlah juga terbilang cukup banyak menyambut mereka.
__ADS_1
Beno dan Ares melindungi Aira dari desak-desakan wartawan menembus masuk ke kantor polisi.
“Maaf hanya orang-orang yang ada keperluan yang boleh masuk.” seorang polisi menahan mereka bertiga.
Beno menyodorkan ID card karyawan mereka bertiga pada polisi itu, “Kami adalah anak buah dari Ken Shankara.” jelas Beno.
“Silahkan masuk.” polisi membawa mereka bertiga masuk ke ruang jenguk untuk menemui Ken.
“Ken?” Aira, Beno dan Ares berhamburan mendekati kaca yang menjadi penghalang mereka bertemu Ken.
“Kamu nggak apa Ken?” tanya Aira sambil menahan air matanya.
“Nggak apa kok Ra. Maaf ya membuat kalian khawatir.”
“Ken maaf aku mau tanya gimana kejadian sebenarnya? Karena berita di luaran sana benar-benar simpang siur. Kita harus segera meluruskan masalah ini.” kata Beno.
“Berita di luar?” Ken bingung.
“Iya, kamu jadi trending topik di berbagai media sosial Ken. Dan pemberitaannya benar-benar mengerikan!” kata Ares.
“Aku dijebak, wanita yang aku tolong yang menjebak ku.” jelas Ken.
“Wanita yang cuman pake bra dan ****** ***** itu?” tanya Beno.
“Kok kamu tau?”
“Hah.. fotomu dan wanita itu udah jadi konsumsi publik Ken!” Beno memijat ujung keningnya.
Ken melirik ke Beno mencari bantuan untuk menjawab tapi Beno diam saja karena dia juga bingung.
“Emm.. iya itu aku rekam dari kacamata yang biasa aku pakai.”
“Kacamata itu sekarang ada di Badan Intelijen Negara Ken.” kata Beno.
“APA? Kacamataku dibawa kesana??” Ken panik dia takut ada orang yang bakal tahu mengenai kacamata super.
“Ken.. jawab aku. Kamu dapat dari mana kacamata itu? Dan apa tujuanmu pakai kacamata itu?” Aira bertanya pada Ken.
‘Mampus! Aku harus jawab apa!’ Ken semakin panik saat Aira menatapnya dengan wajah yang sangat serius.
“Guys! Itu nggak penting! Yang penting adalah kita harus segera membebaskan Ken dari sini! Kalau benar wanita itu menjebak Ken kita harus cari tahu siapa dalang dibalik ini!” Beno mengalihkan pembicaraan setelah melihat wajah panik Ken saat ditanya oleh Aira.
“Kak Sari baru mencari pengacara buat kamu Ken, kamu yang sabar ya.” kata Aira memberi info pada Ken bahwa manajer HRD perusahaan sedang mencari pengacara untuknya.
“Permisi.”
Perhatian keempatnya langsung tertuju pada wanita cantik yang baru saja masuk ke ruang jenguk.
__ADS_1
‘Lembayung?’ dalam hati Ken.
“Saya Ayu, pengacara publik yang akan membantu saudara Ken untuk menangani masalah yang sedang menimpanya.” Lembayung melemparkan tatapan maut kepada Ken.
Lembayung sedang menyamar sebagai manusia, tepatnya dia menyamar sebagai pengacara yang akan menuntaskan masalah yang menimpa Ken.
“Anda pengacara yang dikirim dari perusahaan?” tanya Aira.
“Bukan saya pengacara publik yang sangat tertarik dengan kasus ini.” Lembayung mengenakan setelah blazer dan rok span berwarna hijau army, rambutnya digerai dan memakai kacamata. Penyamarannya sebagai pengacara bisa dinilai sepuluh dari sepuluh, sempurna!
“Ah.. begitu ya.” Aira tampak ragu dengan Lembayung.
“Jangan ragu! Saya tidak akan meminta bayaran sepeserpun! Tapi saya berjanji akan membebaskan Ken dan mendapatkan kacamata itu lagi!” tegas Lembayung.
"Tapi.."
TIK!
Dengan satu jentikan jari saja Lembayung sudha bisa menghipnotis Aira, Beno dan Ares untuk bisa percaya padanya.
"Emm.. Iya pengacara Ayu kami percayakan kasus ini padamu." kata Aira yang sudah terhipnotis.
"Kalau begitu saya ingin bicara empat mata dengan Ken. Kalian bisa tunggu diluar." Lembayung meminta ketiganya keluar dari ruangan itu.
Karena sudah terkena sihir Lembayung mereka bertiga tanpa berkata-kata keluar begitu saja.
Kini tinggal Ken dan Lembayung di ruangan itu.
Lembayung duduk di hadapan Ken sambil melipat kedua tangannya.
"Bagus! Kerja bagus! Terus aja membuat masalah!" belum apa-apa Lembayung sudah memarahi Ken.
"Kacamata super dibawa ke Badan Intelijen Negara, bagaimana kalau mereka tau soal kacamata super itu?" Ken menceritakan hal itu ke Lembayung.
Lembayung hanya menyeringai.
"Kamu takut kehilangan kemudahan yang membuatmu kaya mendadak tapi kamu ceroboh sekali dalam bertindak!" Lembayung benar-benar marah pada Ken.
"Apa sih maksudnya? Memangnya aku salah apa? Aku sudah berbuat baik selama ini! Aku nggak berbuat jahat sama sekali!" Ken semakin kacau, otaknya semakin tidak bisa digunakan.
"Kamu benar ada dalang dibalik kejadian ini. Coba tebak siapa orangnya?"
Ken berpikir keras untuk menemukan jawabannya tapi tetap saja tidak terlintas olehnya siapa orang yang tega menjebaknya seperti ini.
***Bersambung...
Beberapa bab ini mungkin akan bikin sedikit emosi karena kebodohan Ken, harap maklum memang author ingin membuat seperti itu karena ada masukan dari editor Noveltoon untuk novel ini..
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya, terima kasih..
Sehat-sehat semua***..