
Pagi-pagi Ken sudah berpakaian rapi, dan wangi, dia ingin menjemput Aira untuk berbaikan dengannya.
Namun walau suasana hatinya sudah lebih baik tapi fisiknya tidak, Ken masih merasa kepalanya berat dan badannya terasa lemas.
Saat bangun tidur tadi Ken sudah meminum teh hangat dan memakan sepotong roi tapi rasanya tidak menolong sama sekali.
“Widih.. wangi banget Ken?” Beno baru saja sampai di apartemen Ken.
“Masa sih? Hmm.. parfumnya aku campur air mata gunung Ben, jadi semakin wangi dan tahan lama. Sepertinya boleh juga nih Ben dijadiin ide bisnis." kata Ken.
"Bisa sih ken produk baru, parfum kan masih agak nyambung tuh sama skincare." Beno duduk di sofa melihat temannya yang sedang menyisir rambut.
“Eh.. tunggu, tapi muka kamu pucat banget gitu sih Ken? Kamu sakit ya? Makan dulu nih aku beli bubur ayam.” Beno menyodorkan bubur ayam di dalam kantong kresek.
“Maaf Ben, aku mau jemput Aira nanti mau sekalian ajak dia makan pagi. Maaf Bro!” senyum manis tidak pernah hilang dari wajah pucat Ken.
“Aku pergi dulu ya Ben, assalamualaikum.” Ken dengan langkah ringan pergi untuk menjemput Aira.
"Hmm.. Senang sih lihat Ken semangat lagi, tapi sepertinya dia mengesampingkan kesehatannya." Beno mulai khawatir dengan keadaan Ken.
......................
“Assalamualaikum pak.” sapa Ken ketika baru saja turun dari mobilnya.
Mata ayah Aira menyipit mengamati Ken dari teras rumahnya.
“Ken?”
Ken mengangguk, “Iya Pak, ini saya. Apa kabar Pak?” tanya Ken.
“Wah.. ada bos muda datang nih. Ckck.. sampai pangling loh bapak ini Ken lihat penampilan mu sekarang. Aura bos muda bikin silau.” seperti biasa Ayah Aira suka bercanda.
“Ah.. Bapak bisa aja. Maaf ya Pak, lama nggak berkunjung.” Ken menggaruk kepalanya.
“Nggak apa, namanya juga baru merintis bisnis pasti sibuk banget kan? Sini duduk.”
Ken duduk di sebelah ayah Aira.
“Mau teh hangat?”
“Terima kasih Pak, saya mau ajak Aira makan pagi dulu sebelum kerja.” jelas Ken.
“Boleh! Boleh banget, Aira… dicari Ken nih! Buruan dandannya.” Seru ayah Aira.
Aira langsung keluar, masih dengan rol di rambutnya, dia terkejut Ken sudah duduk bersama ayahnya.
“Ken?”
“Hai!” sapa Ken kaku.
__ADS_1
“Ken mau ajak kamu makan dulu sebelum kerja, sana buruan selesaikan dandannya.” Ayah Aira tampak bersemangat, dalam hati ayah Aira, Ken tampak sangat sempurna untuk dijadikan menantu.
Aira masuk kembali kedalam rumah untuk menyelesaikan urusan mempercantik diri. Tak lama Aira keluar rumah dengan tampilan yang manis dan wangi, membuat Ken terpesona melihatnya.
“Wajahmu kok pucat gitu sih Ken?” tanya Aira.
“Oh.. iya.” Ken berdiri, lalu sesaat kemudian dia merasa kepalanya terasa sangat berat dan dunia berputar tanpa bisa dikontrol.
Ken tak sadarkan diri, dia terjatuh di pelukan Aira.
“KEN?!” Aira dan ayahnya kaget.
“Ayo kita gotong kedalam Ra.” Ayah Aira langsung membopong tubuh lemas Ken.
“Ya ampun Ken kenapa Pak?” tanya ibu Aira.
“Bikin teh hangat bu!” pinta Ayah Aira.
“Sekalian air dan handuk untuk kompres bu.” Aira dan ayahnya membawa Ken ke kamar Aira.
“Apa kita panggil ambulan ya Pak?”
“Boleh Ra, sana telepon rumah sakit!”
Aira langsung menghubungi rumah sakit terdekat, lima menit kemudian ambulan datang. Aira ikut bersama Ken yang masih setengah sadar.
“Ra?” panggil Ken dengan nada lemah.
“Aku pingsan?” tanya Ken.
“Iya, udah kamu jangan banyak ngomong dulu deh!” begitulah Aira, semakin panik, semakin bawel, tapi itu yang disukai oleh Ken.
Meski pandangannya masih kabur namun Ken bisa tahu bahwa Aira mengkhawatirkannya, dia tersenyum, lalu sesaat kemudian dia tertidur.
Sesampainya di rumah sakit, Ken dibawa di ruang gawat darurat. Aira menunggu di depan ruangan.
“Assalamualaikum Ben! Ken pingsan Ben!” Aira sudah tidak bisa menahan air matanya karena terlalu khawatir.
“Waalaikumsalam, Astagfirullah! Terus sekarang kalian dimana?” Beno ikut panik.
“Di rumah sakit medika permata indah Ben, kamu kesini sekarang ya?” pinta Aira pada Beno.
“Oke, oke, aku bakal hubungi Ares juga. Kamu jangan panik ya Ra. Oke?” meminta Aira untuk tidak panik tapi nyatanya Beno sendiri panik.
Aira duduk di kursi ruang tunggu, dia terus saja berdoa di dalam hati.
‘Ya Allah, tolong sembuhkan Ken.’ meski masih kesal pada Ken karena kejadian semalam, tai nyatanya rasa sukanya pada Ken mengalahkan segalanya.
Sepuluh menit kemudian dokter keluar menemui Aira.
__ADS_1
“Gimana dok keadaan teman saya?” tanya Aira.
“Pasien dehidrasi dan kelelahan, kadar gulanya rendah. Infus sudah dipasang dengan kecepatan yang tinggi, dalam lima belas menit lagi infus habis, setelah itu kami akan melakukan observasi. Jika kadar gulanya masih rendah kami akan lakukan suntik insulin.” jelas dokter.
“Apa teman saya masih pingsan dok?”
“Tidak, tapi saya rasa dia masih belum sepenuhnya sadar. Lebih baik biarkan pasien istirahat.””
“Tapi boleh dijenguk kan dok?” tanya Aira.
“Boleh, tapi..”
Tidak mengabaikan kata-kata dokter, Aira langsung lari masuk ke dalam ruang gawat darurat untuk melihat keadaan Ken.
“Ken? Kamu bisa kenal aku?” tanya Aira sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Ken.
Ken tersenyum lemah, dia mengangguk.
“Alhamdulillah ya Allah.” Aira merasa lega.
“Kata dokter kamu dehidrasi, kadar gula kamu rendah. Lima belas menit lagi infus habis, kamu bakal diperiksa lagi Ken. Jadi kamu istirahat dulu, aku tunggu di depan ruangan sambil menunggu Beno dan Ares.”
SET!
Ken menahan tangan Aira.
“Jangan pergi Ra! Aku nggak bisa tidur.” kata Ken dengan suara yang terdengar lemah.
Aira mengurungkan niatnya untuk pergi, dia duduk di kursi di sebelah kasur pasien.
“Iya aku disini, tapi kamu tidur ya, supaya cepat sembuh Ken.” Aira membiarkan tangannya digenggam oleh Ken, walau sebenarnya dia bisa melepaskannya karena genggaman tangan Ken sangat lemah.
“Ra, aku mau minta maaf.” Ken tidak ingin berlama-lama marahan dengan Aira.
“Iya, aku udah maafin kok, jadi sekarang kamu istirahat dulu ya?” Aira menarik selimut hingga ke dada Ken.
“Ra.. ada sesuatu yang harus aku sampaikan ke kamu.”
“Ken udah deh! Istirahat aja..”
“Aku suka kamu Ra, lebih dari teman. Tapi aku nggak tau gimana cara bilangnya ke kamu. Aku juga nggak yakin kamu bisa menerima keadaanku dulu, tapi sekarang aku udah lebih baik jadi aku nggak mau menunda lebih lama buat bilang ini ke kamu.” suara Ken terdengar semakin lemah.
Aira kaget mendengar pernyataan cinta Ken yang sangat mendadak dan tidak tepat waktu ini.
“Ken?” Aira memanggil Ken, namun dijawab dengan dengkuran, membuat Aira tertawa kecil.
“Jadi tadi cuman ngelantur atau beneran sih Ken?” meski masih belum pasti, Aira merasa senang sekaligus lega karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan jejak lainnya ya, terima kasih...