
Lembayung kesal melihat Ken yang terlihat sulit menjawab pertanyaannya, padahal sudah jelas ada satu orang yang saat ini sangat membencinya.
"Ckck.. kamu benar nggak merasa ada musuh? Duh.. Gusti! Padahal orang itu benci banget sama kamu! Aku kasih clue ya! Dia laki-laki!" Lembayung mendekatkan wajahnya ke kaca pembatas.
"Duh.. udah deh Lembayung kepalaku masih membeku nggak bisa berpikir. Kasih tau aja siapa orangnya!" Ken malah jadi ikut kesal.
"Hmm.. baiklah. Dalang dibalik semua ini adalah Tanu Lavin!" Lembayung dengan tegas menyebutkan dalang dibalik kejadian tidak mengenakan yang Ken alami.
"Apa? Bapak Tanu? Tapi kenapa dia melakukan ini semua?"
"Ckck.. ya jelas karena dia sakit hati Ken! Pertama sebagai pengusaha dia sakit hati kamu menolak tawaran kerja sama yang dia ajukan. Kedua sebagai seorang ayah dia sakit hati karena anaknya kamu tolak dan kamu buat menangis." Lembayung menjelas sedetail mungkin agar Ken yang sedang tak bisa berpikir itu paham.
Ken baru sadar bahwa dirinya telah membangunkan musuhnya sendiri.
"Makanya jangan berurusan dengan wanita! Jadi ribet kan?" Sentak Lembayung.
"Terus aku harus gimana dong Lembayung?" tanya Ken.
"Hmm.. aku bakal bantu kamu! Tapi kali ini aja! Awas aja sampai lain kali kamu buat masalah kaya gini lagi!"
Ken senyum dan memasang wajah tak bersalah. "Maaf ya Lembayung."
"Hish.. aku pergi dulu!" Lembayung keluar dari ruangan itu.
Lembayung memasang kacamata hitam lalu dengan penuh kepercayaan diri menemui wartawan.
Dengan gaya yang mencolok, dan aura yang menawan Lembayung mengenalkan diri sebagai pengacara Ken.
"Selamat pagi semua! Saya Ayu! Pengacara saudara Ken Shankara! Saya akan membawa bukti bahwa Ken tidak bersalah." penampilan Lembayung benar-benar gila, kecantikan yang menyilaukan, bentuk tubuh yang aduhai, rambut panjang yang terurai, ditambah kepercayaan diri yang tinggi, aura savage-nya tak tertandingi.
Wartawan melemparkan banyak pertanyaan, lampu flash berkilat ratusan kali.
"Ssst.." Lembayung mengangkat salah satu tangannya seketika wartawan diam.
"Saya nggak akan banyak ngomong karena bukti belum ada. Nanti saat bukti udah ada saya pasti bakal ngomong, jadi kalian ini sabar aja ya. Oke? Sekarang saya mau cari bukti dulu, permisi." Lembayung berhasil berjalan melewati kerumunan wartawan dengan mudah.
"Cch.. manusia-manusia lemah yang sok kuat." Lembayung masuk ke mobil sport warna merah.
Lembayung menyetir dengan kecepatan tinggi, tujuan adalah menemui wanita yang menjebak Ken.
Mobil yang Lembayung bawa berhenti di sebuah motel.
Lembayung turun dari mobil lalu masuk ke dalam motel, melewati meja resepsionis dia naik ke lantai tiga.
"Hais.. sial! Aku harus naik tangga demi si Ken! Huft.."
Lembayung berhenti di depan kamar 303, dengan mudahnya dia membuka pintu kamar dan melihat wanita yang dicari sedang tertidur di sebelah lelaki, keduanya tidak menggunakan pakaian.
__ADS_1
"Uww.. bagus nih." Lembayung mengambil beberapa foto, lalu dengan santainya menarik selimut hingga keduanya bangun.
"Hahhh.. siapa kamu?!" keduanya bingung, sang lelaki menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh wanita itu.
"Pak! Kalau nggak mau foto ini sampai ke istri dan mertua bapak lebih baik bapak pergi sekarang! Karena urusan saya sama cewek satu ini."
Sang pria cepat-cepat memakai baju.
"Mas.. mau kemana? Aku gimana?" wanita itu mencoba menahan sang pria.
"Maaf aku pergi dulu." Sang pria pergi dari kamar tanpa mencoba melindungi wanita itu.
"Dasar cewek gatel!" teriak Lembayung pada wanita itu.
"Siapa kamu? Gimana kamu bisa masuk kesini?" gertak wanita itu.
"Hey! Monica si kupu-kupu malam! Ayo ikut aku ke kantor polisi! Kamu harus merevisi semua pengakuan bohongmu atas Ken! Aku tau siapa yang menyuruhmu menjebak Ken!" Lembayung menekuk kedua tangannya di dada.
Monica menyeringai. "Jadi kamu orang suruhannya Ken?"
"Enak aja! Bukan! Nggak ada yang bisa menyuruh aku!"
Monica mengernyitkan dahi tidak paham.
"Udah ayo ikut ke kantor polisi atau aku sebarkan video kamu baru mantap-mantap sama lelaki tadi?" Lembayung mengancam Monica, padahal dia tidak punya video yang ia bicarakan itu.
"Cch.. jangan coba-coba ngakalin aku! Aku nggak bisa ditipu. Buruan pakai baju atau aku seret kamu telanj*g gitu aja ke kantor polisi?!"
"Eh.. iya iya aku pakai baju dulu." Monica cepat-cepat memakai baju lalu mengambil pouch yang berisi makeup, dia berdandan.
"Aduh.. kenapa pakai dandan segala sih? Gusti!" Lembayung kesal melihat Monica yang tampak mengulur waktu dan…..
Tiba-tiba Monica lari tanpa alas kaki keluar kamar.
"Hah.. menyusahkan saja!"
Tik!
Dengan satu jentikan tangan Lembayung membuat Monica tidak bisa bergerak, kakinya kaku seperti patung.
Lembayung menjambak rambut Monica.
"Dasar cewek gatel menyusahkan! Kamu nggak akan bisa lepas dari aku!" gertak Lembayung.
"Aa.. aampun kak aaaa.. mpun.. Aku nggak bakal kabur lagi, aku bakal ikuti maunya kakak." akhirnya Monica bisa berjalan lagi, dia mengikuti Lembayung hingga masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di kantor polisi Monica menceritakan kebenaran ceritanya dan akhirnya dia mengaku bahwa Tama ayah dari Sarah yang menyuruhnya melakukan semua itu.
__ADS_1
Polisi segera menangkap Tama untuk dimintai keterangan, sedangkan Ken masih harus di penjara untuk kasus perekaman ilegal melalui kacamata.
Publik mulai bersimpati lagi pada Ken setelah mengetahui kebenaran ceritanya, apalagi Ken tidak ingin memperpanjang masalah itu. Ken memaafkan Tanu begitu saja.
......................
Lembayung memasuki kantor Badan Intelijen Negara untuk mengurus kacamata super yang ditahan.
"Saya mau bertemu dengan Bapak Rudi." Lembayung menyebut nama kepala Badan Intelijen Negara saat ditanya oleh petugas resepsionis.
"Maaf ibu, apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya resepsionis.
"Saya pengacara Ken Shankara." Lembayung menyodorkan surat dari Badan Intelijen Negara yang ditujukan untuk dirinya.
"Silahkan ibu ikuti petugas kami akan membawa ibu menemui bapak Rudi."
Lembayung mengikuti seorang petugas berbadan tegap menuju ke sebuah ruangan.
"Selamat siang Ibu Ayu?" sapa seorang pria paruh baya dengan badan tegap dan paras yang tampan.
"Iya, dengan Bapak Rudi?" tanya Lembayung.
"Iya silahkan duduk ibu." Rudi mempersilahkan Lembayung duduk.
"Pak.. saya nggak punya banyak waktu jadi mohon jangan bertele-tele ya." Lembayung sudah bersikap tegas sejak awal.
"Oke kalau begitu saya langsung pada intinya. Kacamata yang saudara Ken miliki adalah kacamata yang dibuat oleh FBI. Jadi saya bertanya dari mana saudara Ken mendapat kacamata itu?"
"Kacamata itu adalah barang percobaan yang gagal dari FBI. Ken mendapatkannya dari seorang makelar barang unik di Rusia. Ini tanda bukti pembeliannya." Lembayung menyerahkan tanda bukti pembelian palsu yang meyakinkan.
"Anda bisa menghubungi orang tersebut dan menanyakannya langsung." lanjut Lembayung.
"Saya tidak butuh itu, saya akan akhiri kasus ini dan memberi konfirmasi pada awak media sesuai informasi dari anda. Tapi.. saya tetap akan menahan kacamata ini." balas Rudi.
Tik!
Lembayung menjentikkan jari Rudi mematung. Lembayung mengambil kacamata super, dia mencopot kedua lensa dan mengganti dengan lensa lain. Lembayung menyimpan lensa kacamata super, lalu menjentikkan kembali jarinya dan Rudi kembali seperti semula.
"Tidak masalah bapak asal nama baik klien saya dapat kembali bersih. Dan dapat segera keluar dari jeruji besi." kata Lembayung sambil tersenyum.
"Tentu saja, setelah ini pihak kami akan langsung menghubungi kepolisian untuk proses pemulangan saudara Ken." jelas Rudi
Lembayung bersalaman dengan Rudi, dia keluar dari gedung Badan Intelijen Negara menuju kantor polisi untuk menjemput Ken.
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, favorit dan jejak lainnya ya, terima kasih***..
__ADS_1