
Sepulangnya menemui Sarah, Ken mengirim barang seperti biasa, dia cepat-cepat mengirimkan barang agar bisa selesai lebih cepat.
Ken berencana untuk pergi ke sebuah panti jompo untuk memberikan santunan, ini adalah bagian dari misi Ken hari ini.
"Udah jam tiga sore tapi masih ada enam belas paket lagi. Huft.. aku minta bantuan Beno aja ah.."
Ken menghubungi Beno.
"Sore bosku." Sapa Beno dengan nada riang.
"Hush.. apa sih kamu ini. Ben, mau minta tolong dong! Aku ada misi harus ke panti jompo hari ini. Tapi masih ada enam belas paket lagi. Aku bisa kirim empat paket sebelum ke panti jompo, minta tolong kirimin dua belas paket lainnya bisa kan? Bisa dong Ben? Kan semalam aku udah transfer delapan juta buat beli action figure." Ken tidak menerima penolakan dari Beno, ini adalah penodongan tanpa ampun.
"Huft.. iya bosku. Kita ketemuan dimana? Sekarang ya ketemuan ya? Aku juga masih sebelas paket nih." Beno pasrah, dia tidak bisa berkutik setelah Ken membahas uang cuma-cuma yang Ken transfer padanya semalam.
"Di pom bensin seberang ayam geprek sambel joss ya Ben. Aku habis selesai shalat nih, langsung meluncur ke situ." Kata Ken.
"Wah.. ayam geprek enak juga nih." Beno malah membicarakan ayam geprek, mulai memancing sultan Ken!
"Tak geprek juga kamu Ben lama-lama, delapan juta yang aku teansfer semalan buat kamu beliin ayam geprek bisa buat makan dua tahun. Udah yuk buruan meluncur."
"Hahahaha.. canda bos, siap grak! Hamba meluncur sekarang bosku!" Beno yang berakting menjadi budak Ken mengakhiri pembicaraan mereka.
"Huft.. dasar Beno." Ken segera pergi menuju tempat yang dituju.
......................
Ken sampai di pom pengisian bensin, ternyata Beno sudah duluan sampai.
"Lama ih.." Keluh Beno sambil menyembulkan asap rokok ke wajah Ken.
"Ya maaf, tadi sekalian mampir antar paket." Ken memindahkan dua belas paket ke keranjang tempat paket di motor Beno.
"Sekalian aja semua Ken, nanggung amat tinggal tiga ini." Beno mengambil tiga paket tersisa.
"Hehe.. terima kasih ya Ben."
"Misi kali ini dapat reward apa?"
"Kemampuan bela diri Ben."
"Woh.. canggih."
"Tapi misinya membagongkan Ben." Keluh Ken.
__ADS_1
"Memangnya apa?"
"Mengajak dua orang penghuni jompo untuk bercerita keluh kesahnya. Huft.. ini misi tersulit yang pernah aku dapat Ben."
"Hahahaha.." Beno tertawa lepas mendengar penderitaan temannya itu.
"—Selamat bos! Sepadan dong sama rewardnya. Bayangin aja kalau kamu latihan bela diri sendiri bisa bertahun-tahun loh Ken. Dulu aja jaman aku SMP aku ikut pencak silat tiga tahun tapi sekarang aku lemah gemulai nggak bisa berantem sama sekali."
"Ya Iyalah nggak bisa berantem, orang jaman SMP kamu datang ke sekolah niatnya buat ekskul pencak silat tapi ujung-ujungnya mampir ke warteg, haha.."
Ken dan Beno tertawa terbahak-bahak. Inilah yang membuat Ken amat menyayangi ketiga temannya, karena hanya bersama merekalah Ken bisa tertawa lepas.
Dulu saat Ken sedang terpuruk Beno, Ares dan Aira bergantian menghibur dan menyemangatinya.
"Udah ah.. aku mau mampir minimarket dulu, mau bawa bingkisan, nggak enak kan kalau datang tangan kosong." Ken memakai helmnya.
"Ya kasih duit lah, kan duitmu banyak sultan Ken Shankara." Sindir Beno.
"Udah pasti kalau itu."
"Ya udah sana pergi, aku lanjut kirim paket."
"Terima kasih ya Bro!" Ken menabok tangan Beno sebelum tancap gas.
......................
Ken sampai di minimarket, dia memilih buah-buahan segar.
SET!
Tak sengaja saat mengambil buah tangan Ken bersentuhan dengan tangan seorang gadis.
Ken menoleh ke kanan, ada seorang gadis berwajah oriental dengan rambut hitam panjang yang terurai dan juga poni di wajahnya yang semakin membuatnya terlihat cantik.
"Eh.. maaf mas." Sapanya, suaranya lembut semakin membuatnya memesona.
"Nggak apa mbak, silahkan." Ken mundur mempersilahkan wanita itu memilih buah terlebih dahulu.
"Beli buah banyak buat stok diet ya mas?" Wanita itu melirik keranjang belanja Ken.
"Oh.. bukan mbak, ini mau saya bawa ke panti jompo."
"Panti jompo? Panti jompo kembang kenanga mas?" Tanya wanita itu.
__ADS_1
"Iya mbak, kok tau?" Tanya Ken.
"Oh.. emmm.. karena yang paling dekat dari sini memang panti jompo kembang kenanga itu kan mas?" Wanita itu mempercepat geraknya memilih buah.
Hologram muncul.
...[Pendeteksi perasaan aktif! Wanita ini merasa tertekan.]...
Ken mengerutkan dahi tidak mengerti mengapa pendeteksi perasaan aktif, ini pertama kalinya pendeteksi aktif pada orang yang baru Ken temui
"Iya sih mbak, benar."
"Silahkan mas, saya permisi." Wanita itu berjalan ke kasir.
Ken semakin bingung saat wanita itu terlihat seperti menghindarinya.
Ken segera menyelesaikan belanjanya lalu membayar di meja kasir.
"Eh.. gila ya Ciara aslinya cantik banget." Seorang pramuniaga bicara lada kasir yang melayani Ken.
"Iya, cantik banget. Aku yang cewek aja merasa tertarik sama Ciara apalagi kamu yang cowok ya." Kata kasir itu sambil melakukan kerjanya pada barang-barang belanjaan Ken.
Ciara? Ken seperti tahu nama itu, seperti tidak asing, tapi siapa?
Ken mencoba mencari jawaban pada otaknya, namun tidak ketemu, dia memilih bodo amat karena tidak penting.
"Satu juta enam ratus delapan puluh dua ribu kak." Suara pegawai kasir menyadarkan Ken.
"Oh.. iya kak, bayar pakai debit ya." Ken memberikan kartu debitnya pada pegawai kasir.
Ken segera pergi ke panti jompo setelah pembayaran selesai.
"Huft.. aku harus jadi punya aura anak baik-baik nih." Ken melepaskan helmnya, merapikan rambutnya.
"Ehm.. tes.. tes.. selamat sore Nek.. Kek.. Eung? Aneh nggak sih?" Ken mencari nada bicara yang tepat untuk berbicara dengan manula.
"Emm.. selamat sore Nek.. Kakek." Ken mengganti nada bicaranya menjadi ceria dan bernada lebih tinggi dari biasanya.
"Eh? Ini sih nada bicara ngomong sama anak-anak, tau ah.. masuk aja dulu." Ken akhirnya masuk ke dalam panti jompo, dia memutuskan tidak peduli dengan intonasi bicara lagi.
***Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote, penilaian dan jejak lainnya agar author makin semangat nulisnya, hihi..
__ADS_1
Terima kasih ya sudah baca karya saya***..