
Negara ini diguncang demam Miracle Glow, dalam waktu kurang dari satu bulan penjualan Miracle Glow mencapai lima ratus ribu unit. Dalam waktu singkat pula karyawan Ken menjadi semakin banyak untuk menunjang kinerja perusahaannya.
Aira yang akhirnya setuju bekerja dengannya menduduki jabatan sebagai manajer keuangan dan administrasi. Beno menduduki jabatan manajer pemasaran media sosial. Ares menduduki manajer distribusi.
Ken menyisir rambutnya, dia bersiap untuk pergi ke salah satu sekolah menengah atas elite di kota ini. Hari ini Ken dan Sarah akan memulai road show untuk promosi ke sekolah-sekolah elite.
Tok.. tok..
“Masuk.” sahut Ken.
Aira masuk membawa beberapa berkas. “Udah mau berangkat ya? Ada beberapa berkas yang membutuhkan persetujuan dari kamu Ken.” Aira meletakan berkas di atas meja kerja Ken.
“Ada yang mendesak nggak?” tanya Ken.
Aira menggeleng, “Nggak kok, nanti aja bisa.”
Tangan Aira menunjuk kerah belakang kemeja Ken.
“Apa sih Ra?” tanya Ken bingung.
“Kerah belakang kurang rapi tuh.”
“Mana sih?” tanya Ken.
Aira akhirnya membantu Ken merapikannya. “Udah.”
“Udah ganteng belum Ra?” tanya Ken.
Aira tersenyum, “Udah kok, cocok juga sih kamu pilih kemeja warna cerah untuk acara promosi kali ini.”
“Iya dong, aku sengaja pakai kemeja warna cerah biar kelihatan seumuran sama mereka.” canda Ken.
“Iya, iya suka-suka pak bos aja deh." Aira tertawa.
Drrt.. drrrt..
Telepon masuk dari Sarah.
“Emm.. aku balik ke ruangan ya Ken, hati-hati di jalan. Semangat buat acara hari ini.” Aira tidak ingin melihat Ken bicara dengan Sarah, hatinya selalu saja terbakar cemburu setiap kali melihat interaksi Ken dan Sarah.
“Aira!” Ken menahan Aira.
Aira menoleh.
“Nanti sehabis pulang kerja makan yuk, ajak Beno sama Ares juga.”
Aira mengangguk lalu pergi dari ruangan Ken.
Ken menjawab telepon dari Sarah.
“Aku dah siap nih Ken.” kata Sarah.
__ADS_1
“Oh.. aku juga udah mau berangkat kok.”
“Kamu jemput aku dulu kan?”
Ken menggaruk kepalanya, padahal dia berniat langsung berangkat ke sekolah yang dituju.
“Iya Sarah aku jemput kamu dulu kok.” Ken terpaksa menuruti keinginan Sarah.
“Oke, aku tunggu ya.”
Ken segera mengendarai mobil mewah keluaran terbaru yang berharga hampir satu miliar itu, menuju klinik milik Sarah.
“Uw.. bos muda Ken datang juga akhirnya.” Sarah masuk ke dalam mobil.
“Udah deh Sarah jangan suka bilang gitu, jadi nggak enak sendiri.” Ken tersipu.
“Tapi itu sebutan yang netizen berikan ke kamu kok bukan dari aku. Branding kamu sebagai bos muda yang baik, rendah hati, dan ganteng benar-benar sukses membawa Miracle Glow jadi produk yang semakin booming. Buktinya dalam waktu sekejap orang-orang banyak yang mengenal dan mengidolakan kamu loh Ken.”
“Nggak juga.” Ken semakin tersipu dengan pujian Sarah.
“Udah yuk berangkat, nggak enak kalau telat. Karena di SMA Melati Bangsa ini selain terkenal elite, muridnya juga terkenal memiliki intelektual dan kecerdasan yang oke banget” jelas Sarah.
“Oke.” Ken mengemudikan mobil dengan sangat lancar. Belakangan ini bukan hanya Miracle Glow yang menjadi trending topik, sosok Ken Shankara si bos muda yang terkenal rendah hati dan ganteng juga menjadi pembicaraan netizen.
......................
“Selamat siang semua, perkenalkan saya Ken Shankara Co-Founder Miracle Glow.” Seketika sorak-sorai siswi di aula sekolah SMA Melati Bangsa terdengar begitu ramai saat ken memperkenalkan diri.
...[Kemampuan berbicara di depan umum diaktifkan!]...
“Wah.. seru banget ya di sekolah ini. Meski sibuk sekolah dengan tugas yang pasti banyak banget tapi kalian tetap semangat. Capek nggak sih?” Ken lancar berbicara di depan umum.
“Capek kak!” seru murid-murid.
“Kalau gitu kakak bakal kasih kalian semua masker wajah yang bakal bikin wajah kalian berseri-seri kembali setelah lelah sekolah. Mau nggak?”
“Mau dong!”
“Emm.. kakak juga mau ada game nih, ada hadiahnya juga loh.”
“Apa kak hadiahnya?” seru seorang siswi.
“Emm.. kalian mintanya apa?” tanya Ken.
“Nomor ponsel kakak boleh?” jawab seorang siswi dengan suara lantang, membuat seluruh murid menyorakinya, suasana semakin meriah. Ken hanya tersenyum, dia baru sadar bahwa memang sekarang dirinya sudah banyak dikenal orang bahkan diidolakan.
Acara hari itu berlangsung lancar, Ken dan Sarah pulang pukul tiga sore. Ken mengantar Sarah ke klinik.
“Emm.. Ken, nanti malam setelah pulang kerja kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada, papaku mau bertemu kamu. Dia mengundangmu makan di rumah.” Sarah tiba-tiba saja mengajak Ken bertemu orang tuanya.
Ken sampai melotot mendengar kata-kata yang baru saja Sarah sampaikan. “A.. apa? Papa kamu mau bertemu aku?”
__ADS_1
Sarah terkekeh, “Iya, kenapa kaget gitu sih? Papa aku kan pemilik saham terbesar perusahaan ini, wajar dong kalau dia mau bertemu kamu , si laki-laki viral itu.”
“Oh.. iya.. ya.. iya juga.” Ken menggaruk kepalanya, dia malu sendiri karena sudah berpikir oarang tua Sarah bertemu untuk masalah pribadi.
“Memangnya apa yang kamu pikir?” Sarah mencoba mencari tahu.
“Oh.. nggak, bukan apa-apa. Iya aku bisa, jam berapa?”
“Jam tujuh ya, jangan terlambat, papaku nggak suka orang yang ngaret. Bye.” Sarah masuk ke kliniknya.
Ken kembali ke kantor untuk melakukan pekerjaannya sebagai bos. Ken mengecek berkas-berkas yang Aira berikan pagi tadi, tak lama Aira datang.
Ken baru sadar kalau tadi pagi dia sudah berjanji akan makan bersama Aira, Beno dan Ares.
“Emm.. Ra, nanti malam kita cancel ya makan barengnya. Aku ada pertemuan mendadak.” kata Ken sambil menyerahkan berkas-berkas ke Aira.
“Oh.. iya nggak apa, santai aja.” Aira tersenyum simpul.
“Nanti aku bilang deh ke Beno sama Ares.”
“Iya, aku kembali ke ruangan ya.” Aira pergi meninggalkan ruangan Ken.
Tok.. tok..
“Masuk.”
Beno masuk ke ruangan Ken.
“Sore pak bos!” sapa Beno sambil duduk di hadapan Ken.
“Apaan sih pakai bos-bos gitu?” Ken tidak suka teman dekatnya memanggilnya dengan sebutan bos.
“Mau lapor kalau saya udah berhasil membuat perjanjian kerja dengan beberapa artis untuk menjadi ambassador partner ya pak bos.” Namun Beno suka sekali menggoda Ken, dia malah suka memanggil Ken dengan sebutan Bos.
“Oke, atur aja Ben, asal sesuai budget yang sudah ditetapkan. Dan jangan lupa kita harus kerja sama dengan publik figur yang punya nama baik jangan yang terkenal cuman gara-gara skandal aja.”
“Iya pak bos, nih laporannya semua ada di sini. Ooiya.. nanti malam mau makan dimana? Kata Aira kamu ngajak makan bareng?” tanya Beno sambil memberikan berkas laporna kerjanya.
“Emm.. maaf ya Ben nggak jadi, papa Sarah mau ketemu sama aku.”
“APA? Duh.. pertanda apa nih?” sindir Beno.
“Urusan kerja Ben, kan beliau pemegang saham terbesar perusahaan Sarah.”
“Oh.. kirain urusan hati.”
Ken melirik Beno dengan tatapan kesal.
“Ups.. salah ngomong nih, permisi dulu ya pak bos, mau kembali bekerja.” Beno keluar dari ruangan Ken.
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, favorit, vote, beri nilai dan jejak lainnya, supaya author tetap semangat melanjutkan novel ini, terima kasih semua***!