Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 53 : Kembalinya Ken!


__ADS_3

Aira melepaskan pelukannya. “Kamu harus hati-hati sama semua orang Ken. Dalam waktu yang singkat kamu bisa sesukses ini, aku yakin banyak orang yang iri sama kamu dan berniat untuk menjatuhkan mu.” Aira duduk di sofa, Ken kemudian duduk di sebelahnya.


“Iya Ra, aku janji bakal lebih hati-hati setelah ini.”


“Ya udah Ken, aku mau kembali ke ruangan dulu ya, banyak kerjaan. Beberapa hari bosnya nggak di kantor pekerjaanku berkali-kali lipat nih.” sindir Aira.


Ken menatap Aira, “Kalau gitu mau hadian apa?” tanya Ken.


Aira tersenyum, “Jalan-jalan berdua, emm.. udah lama kita nggak pergi berdua. Kalau dipikir-pikir setelah kita resmi pacaran kita belum sempat pergi berdua kan?”


Ken menelan ludah, rasa ragu-ragu membuatnya enggan mengajak Aira pergi berdua. “Emm.. kita lihat dulu ya Ra, banyak hal yang harus aku selesaikan. Setelah itu aku ajak kamu jalan-jalan, gimana?”


Aira mengangguk pelan, “Nggak perlu buru-buru kok, iya aku tau kok kerjaan kamu banyak banget. Semangat Ken! Kalau kangen boleh panggil langsung loh.” Aira menggoda Ken lalu pergi dari ruangan Ken.


“Hah..” Ken membuang nafas kasar, dia berbaring di atas sofa, memejamkan mata sejenak. “Akhirnya bisa tidur di tempat empuk.”


KREK..


“Tidur Ken?” tanya Beno yang baru saja masuk ke ruangan Ken.


“Hah.. mau apa?”


“Laporan kerjaan dong!”


“Rajin banget sih Ben.”


“Bohonglah! Mau interogasi kamu dong!” Beno menarik kursi beroda duduk di sebelah sofa, sedangkan Ken masih berbaring memejamkan matanya.


“Jangan pakai istilah itu deh sekarang, trauma aku! Berkali-kali aku dengan kata itu, bikin pusing.”


“Ya apalah judulnya, pokoknya aku mau dengar ceritanya!”


“Cerita apa sih Ben?”


“Kacamata super gimana kabarnya? Kacamata yang kamu pakai tadi bukan kacamata yang biasanya.” Beno sangat penasaran tentang hal itu.


“Kacamata yang aku pakai tadi kacamata super, Lembayung udah menggantinya.” Ken masih di posisinya, tidak merubah sedikitpun.


“Lembayung? Makhluk gaib yang kamu bilang cantik itu?”


“Iya.”


“Wah.. keren banget sih sistem kacamata super itu, jadi iri.”


“Tapi aku nggak ada kesempatan lain lagi. Kalau kelak kacamata super jatuh ke tangan orang lain maka aku nggak bakal jadi user dari sistem ini.” jelas Ken.


“Oh.. gitu ya? Lalu kalau gitu apa semua hartamu bak hilang?”


“Nggak.”


“Kalau gitu nggak masalah dong?”


“Ya masalah dong Ben! Kalau nggak ada sistem nggak bakal ada air mata gunung! Artinya nggak bakal ada Miracle Glow!”


“Hahhh!” Beno menutup mulutnya, dia baru ingat akan hal itu.


“Kalau begitu kamu harus hati-hati banget Ken. Kamu jangan terlalu baiklah sama orang! Jangan asal menolong orang nggak kenal!”


“Tapi sistem ini memintaku buat melakukan hal baik sebanyak mungkin. Menolong orang kan juga sebuah kebaikan.”


“Ya tapi kamu harus lihat-lihat juga Ken orang yang tolong!”

__ADS_1


“Iya.. iya.. cerewet mu bikin ingat sama ibuku aja.” kini Ken duduk.


“Soal papa Sarah, Bapak Tanu brengs*k itu, kamu yakin memaafkan begitu aja? Kalau aku sih nggak Ken, kamu harus balas perbuatannya.” Beno ikut kesal.


“Tenang aja aku udah buat rencana buat dia.”


“Bagus! Aku dukung Ken!”


“Eh.. Ben, nanti sepulang kerja aku mau ajak semua karyawan untuk makan. Minta tolong carikan tempat ya Ben. Cari tempat makan yang nyaman dan rasa makanannya enak.” pinta Ken.


“Siap Bos!” Beno pergi dari ruangan Ken.


Ken kembali berbaring hingga ketiduran karena badannya terasa sangat lelah.


Tok.. tok..


Aira masuk ke ruangan Ken. “Hah.. kayaknya dia lelah banget, tidur dari siang sampai sore.” 


“Ken ayo!” Beno masuk ke ruangan Ken.


“Sst.. masih tidur dia.” kata Aira.


“Masih tidur? Ckckck..” Ares berdecak heran bagaimana bisa seseorang tidur selama itu.


“Masih hidup kan si Ken?” tanya Beno.


PLAK!


Aira menabok lengan Beno. “Kalau ngomong yang baik-baik dong!” Aira kesal.


“Ye! Kan aku tanya doang!” jawab Beno cekikikan.


“Udah kalian berangkat aja, aku tunggu Ken sampai bangun.” kata Aira.


“Iya, bener tuh kata Ares. Udah aku aja yang nungguin Ken.” kata Beno.


“Ckck.. kita berisik begini aja dia masih anteng gitu ya, kok bisa sih?” Ares masih terheran-heran dengan Ken.


“Maklumlah beberapa hari tidur di tempat nggak enak Res.” sahut Beno.


“Hah.. ya udah aku duluan deh.” Aira dengan berat hati berangkat bersama Ares dan karyawan lainnya, sedangkan Beno menunggu Ken bangun.


Beno menunggu sambil bermain game online di ponselnya.


Lima belas menit kemudian..


“Pingsan atau koma sih ini anak?” Beno mendekatkan telinganya ke hidung Ken, memastikan temannya masih bernafas dengan baik.


“Alhamdulillah masih hidup.”


Tok.. tok..


“Kenapa balik lagi?” Beno berteriak saat seseorang masuk ke ruangan Ken, dia mengira bahwa orang yang masuk adalah Aira atau Ares, namun ternyata…


“Sarah?” Beno kaget saat melihat Sarah masuk ke ruangan Ken.


“Hai Ben!” sapa Sarah kaku.


“Hai Sarah. Kamu kenapa kesini?”


“Aku khawatir sama Ken, aku lihat di sosial media dia udah bebas tapi ponselnya nggak aktif.” jelas Sarah. 

__ADS_1


“Oh.. dia masih belum mau pegang ponsel katanya.”


“Ken baik-baik aja kan? Dia nggak sakit kan Ben?” tanya Sarah sambil membelai wajah Ken.


Beno sedikit kaget melihat sikap Sarah pada Ken.


“Wajahnya pucat banget, dingin gini.” Sarah menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Ken.


Ken mengerutkan dahi, merasa terusik, perlahan dia membuka mata.


“Maaf Ken aku ganggu ya?” Sarah melepaskan telapak tangannya dari wajah Ken.


“Ken kamu udah sadar juga akhirnya.” sambut Beno.


Ken mengerjap-ngerjapkan matanya, melirik jam dinding. “Udah jam enam sore? aku tidur selama itu?” Ken bingung saat mengetahui dirinya tidur cukup lama.


“Iya, kamu tidur kayak orang koma.” kata Beno.


“Anak-anak gimana? Kamu udah dapat tempat makannya?” tanya Ken sambil berjalan ke mejanya mencari tisu basah untuk membasuh wajahnya.


“Udah ke tempat makan.”


“Sarah?” Ken tampak kaget, padahal sejak dia membuka mata Sarah sudah berada di sebelahnya.


“Aku dari tadi disini Ken, kamu nggak lihat aku?” tanya Sarah.


“Oh.. maaf, aku kira kamu Aira. Kamu dari kapan disini?” tanya Ken.


“Emm.. aku tunggu di luar deh Ken.” Beno merasa menjadi obat nyamuk, dia menyingkir.


“Nggak Ben, tunggu situ aja, aku udah mau selesai. Kita ke tempat makan. Sarah kalau nggak ada yang mendesak kita ketemu besok aja deh, aku baru malas bahas pekerjaan. Masih pusing.” Ken dengan tegas menjaga jarak dengan Sarah.


“Aku kesini karena khawatir sama kamu Ken.” kata Sarah.


“Oh.. terima kasih udah khawatir sama aku.” jawab Ken dengan nada datar.


“Dan juga aku mau minta maaf.” Sarah menunduk karena dia merasa bersalah pada Ken.


“Kamu nggak salah, papa kamu yang salah.”


“Aku minta maaf atas nama papa Ken.”


“Nggak perlu, aku bakal minta papa kamu minta maaf sama aku secara pribadi.” Ken selesai menyisir rambut dan menyemprotkan parfum.


Sarah tidak dapat berkata-kata lagi, dia semakin merasa bahwa Ken memang semakin menghindarinya.


“Kalau nggak ada lagi aku permisi dulu, mau ada acara internal sama karyawan yang udah aku bikin susah karena kasus menjengkelkan yang menimpaku.” Ken menyindir sarah.


“Oke, aku tau kamu pasti masih kesal sama aku Ken. Tapi kamu tetap harus mau menemui aku Ken karena kita rekan bisnis.” Alasan ini adalah alasan bagus bagi Sarah untuk bisa tetap bertemu dengan Ken.


“Oke, aku temui kamu besok dia kantormu.”


“Aku pulang dulu Ken.” Sarah mengangguk lalu keluar dari ruangan Ken.


“Uw.. sadis gila!” Beno menyenggol bahu Ken.


“Harus gitu Ben, biar dia nggak mengharap hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis.” 


“Bagus! Itu namanya cowok sejati! Satu wanita aja cukup!”


“Yuk ah berangkat, nggak enak lainnya menunggu.” Ken dan Beno akhirnya pergi.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like, nilai dan votenya, terima kasih**...


__ADS_2