Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 27 : Panti Jompo.


__ADS_3

Ken masuk ke panti jompo.


"Bismillahirohmanirohim." Ken merasa tegang seperti layaknya bertemu calon ayah mertua.


Seorang lelaki paruh baya mendekati Ken. 


"Assalamualaikum." Ken memberi salam.


"Waalaikumsalam." Jawab lelaki paruh baya itu. "—ada yang bisa saya bantu mas?" Tanyanya.


"Emm.. saya mau memberikan ini untuk panti Pak." Ken menyerahkan satu kardus, dan dua kantong kresek besar berisi bahan masak, makanan ringan, buah, sayur, bumbu dan lain-lain.


"Alhamdulillah.. terima kasih banyak mas." Lelaki itu menerima semua yang Ken serahkan. "—maaf mas, sampai lupa berkenalan. Saya Syarif, mas siapa?" Syarif mengulurkan tangan mengajak Ken bersalaman.


"Oh.. saya Ken Shankara pak. Senang berkenalan dengan Pak Syarif." Ken menyambut tangan Syarif.


Tiba-tiba seorang manula datang mendekati Ken dan Syarif.


"Siapa Rif?" Tanya manula berambut putih itu pada Syarif. Matanya melirik tajam ke arah Ken.


"Namanya Ken Nek, dia memberi kami semua ini. Dia orang baik." Syarif sedikit mengeraskan suaranya saat bicara pada manula itu.


'Oh.. jadi gitu cara bicara dengan nenek-nenek.' Batin Ken, akhirnya dia tahu intonasi dan cara bicara yang baik dan benar pada manula.


Manula itu masih memperhatikan Ken, melihatnya dari ujung sepatu sampai ujung jambul Ken. Setelah itu dia pergi.


Ken bingung, merasa salah tingkah, dia baru saja berbuat baik tapi kenapa reaksi manula itu seakan seperti tidak suka padanya??


Ken mengerutkan dahi, dia tidak paham dengan situasi kali ini.


"Maaf ya mas Ken. Jangan kaget ya, harap dimaklumi manula memang begitu, sangat sensitif. Saya harap mas Ken tidak sakit hati dengan sikap penghuni panti disini." 


Penjelasan Syarif sedikit melegakan perasaan Ken, karena dia sempat takut pemberiannya dinilai menyinggung perasaan penghuni panti.


"Oh.. iya Pak nggak apa. Emm.. boleh saya bertemu penghuni panti Pak?" Tanya Ken.


"Boleh saja mas, tapi tolong jangan sakit hati dan kapok ya mas. Manula memang another level mas Ken, hehe.." 


Ken tahu apa yang dimaksud Syarif.


"Ayo masuk mas." Syarif mengajak Ken masuk ke bagian dalam panti jompo.

__ADS_1


Ken masuk, melewati lorong, banyak penghuni panti jompo yang sedang duduk di sana. Semua mata tertuju pada Ken.


GLUP!


Ken menelan ludahnya, dia sedikit grogi, tatapan mata tajam, tanpa senyum dan kerutan menggelayut di wajah mereka yang semakin membuat wajah mereka terlihat menakutkan bagi Ken, hal ini membuat kepercayaan dirinya menciut.


"Nah.. semuanya, perkenalkan saya ada tamu orang baik yang memberikan bantuan bernama nak Ken Shankara." Syarif dengan suara lantang memperkenalkan Ken pada penghuni panti jompo.


"Siapa Rif? Sanken?" Tanya seorang nenek.


"Bukan Nek, Ken! Nama panjangnya Ken Shankara." Syarif kembali berbicara lantang agar nenek itu mendengar.


"Namanya kayak merk santan ya." Celetuk seorang nenek lain.


'Santan banget nggak tuh? Mampuslah aku, gimana caranya bisa membaur dengan mereka?' Ken membatin, dia tidak yakin bisa menyelesaikan misi kali ini.


"Eh.. mas kenapa nggak perkenalkan diri sendiri? Kenapa harus Syarif yang memperkenalkan?" Tanya seorang kakek.


Syarif meminta Ken memperkenalkan dirinya di depan penghuni panti.


"Selamat sore semua, saya Ken Shankara. Senang bertemu nenek dan kakek semua." Ken dengan suara lantang dan semangat 45 bak tentara memperkenalkan diri.


GLUP!


Ken kembali menelan ludahnya, benar kata Syarif manula memang another level.


Ken tersenyum kaku,


"Silahkan mas Ken kalau mau berkenalan lebih jauh lagi dengan penghuni panti." Syarif mempersilahkan Ken untuk mendekat ke penghuni panti.


Ken berjalan mendekati seorang kakek.


"Selamat sore kek." Sapa Ken.


Kakek yang sedang duduk di kursi langsung masuk ke kamarnya. Gagal! Penolakan pertama!


Ken mendekati kakek lain namun sikap yang sama dia terima. Penolakan kedua! Namun Ken tidak patah semangat dia malah semakin penasaran dan merasa tertantang ingin menaklukan hati manula.


Kali ini Ken mendekati seorang nenek yang tadi menyebut namanya mirip merek santan.


"Sore nek." Sapa Ken.

__ADS_1


"Sore mas…. eh.. siapa mas tadi namanya?" Tanya nenek itu.


"Ken." Jawab Ken.


"Nah.. gitu kan gampang mas, tadi Syarif perasaan bilang nama mas susah deh." Nenek itu mengajak Ken duduk di teras depan kamarnya.


Ken hanya merespon dengan senyuman kaku dan menuruti duduk di bangku panjang.


"Mas.. boleh minta tolong pijitin pundak saya? Saya sering merasa pegal-pegal mas belakangan ini, mungkin karena saya udah semakin tua ya mas?" Nenek itu menunjuk pundaknya.


"Permisi ya nek, saya mulai pijatnya. Kalau terlalu keras atau merasa sakit tolong bilang ya. Jadi tua itu anugerah loh Nek, ada banyak orang yang tidak bisa merasakan tua karena sudah dipanggil oleh sang pencipta." Ken mulai memijat perlahan pundak nenek itu dan memulai pembicaraan basa-basi.


"Hehe.. Benar juga ya nak Ken. Nama saya Susinawati mas Ken." Nenek itu memperkenalkan diri, dia mulai menyukai Ken. Akhirnya Ken berhasil kali ini.


"Salam kenal nek Susinawati." Ken merasa senang akhirnya ada manula yang menerima niat baiknya.


"Panggil Susi aja biar singkat."


"Baik nek. Sudah berapa lama nek disini?" 


"Baru dua tahun." Perlahan tapi pasti pembicaraan berlangsung baik antara Ken dan Susi.


Hologram muncul.


...[⅔ misi telah selesai, cari satu target lagi untuk menyelesaikan misi.]...


'Dua per tiga? Hmm.. memberi santunan dan mendengar curhat dari nenek Susi ya berarti. Duh.. siapa nih yang kira-kira bisa didekati?' Ken mengedarkan pandangan mencari next target.


'Mukanya jutek semua, takut ah!' Ken hampir menyerah.


Adzan maghrib berkumandang.


Ken bersiap ikut sholat berjama'ah di aula panti jompo.


Ken melihat banyak penghuni panti yang bersiap ikut sholat berjamaah. Meski banyak dari mereka akan sholat dengan cara duduk dan ada juga yang duduk di kursi roda tapi semangat mereka untuk sholat berjamaah membuat Ken merasa malu pada diri sendiri yang kadang malas pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Hal ini membuatnya merasakan perasaan yang campur aduk, ada perasaan bersyukur atas sehat badan yang masih dia rasakan. Ada rasa malu dan merasa banyak dosa, dan ada juga rasa terharu dan rindu akan mendiang ibunya, tak terasa air matanya terjatuh.


Ken buru-buru menghapus air matanya lalu pergi berwudhu.


***Bersambung...


Jangan lupa like, komen, vote, nilai dan jejak lainnya ya, terima kasih sudah baca karya saya, salam sehat dan bahagia semua***..

__ADS_1


__ADS_2