
Beno masuk ke ruangan kerja Ken. Ken sibuk dengan dokumen-dokumen, dia bekerja seolah tidak terjadi sesuatu.
"Mau apa kakak jadi-jadian mu itu kesini Ken? Kamu udah sukses terus dia mau mengakui kamu sebagai adiknya ya? Hah.. Lucu." Beno duduk di hadapan Ken.
"Katanya suaminya baru kena PHK, minta kerjaan Ben."
"Terus kamu kasih?"
"Nggak juga sih, aku cuman bilang coba kirim surat lamaran dan CV aja." Ken meletakan pena yang dipegang. "—Hah.. dilema aku Ben." Ken mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa memang?"
"Kalau ingat kelakuan mbak Karin ke bapak rasanya udah nggak ingin kenal aja. Tapi, bapak dulu pernah pesan sama aku kalau aku harus tetap menganggap kedua kakak tiriku itu saudara setelah bapak meninggal."
"Bapakmu itu memang orang baik Ken. Padahal kedua anak kandungnya nggak pernah perhatian tapi bapak selalu menyayangi mereka."
"Ada apa Ben? Apa ada masalah?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan.
"Nggak kok, aku cuman mau ajak kamu makan nanti malam, bareng Ares dan Aira. Bisa kan?"
Ken mengangguk.
"Oke deh, aku keluar dulu. Semangat ya Ken!" Beno keluar dari ruangan Ken.
Drrt.. drrt..
Panggilan masuk dari Sarah.
"Iya Sarah ada apa?"
__ADS_1
"Kamu kenapa Ken? Suaramu kok lesu banget begitu?"
"Nggak apa kok. Ada apa Sarah?" Ken sedang tidak mau berbasa-basi, mood-nya sedang tidak baik.
"Minggu depan bisa kirim minyak zaitun empat puluh drum?"
Ken memijat keningnya, dengan air mata gunung yang dia dapat mungkin hanya bisa dicampurkan untuk dua puluh drum minyak zaitun.
"Emm.. Sarah, aku kirim dua puluh drum dulu ya?"
"Emm.. ya nggak masalah sih sebenarnya. Tapi sayang banget loh Ken, Miracle Glow baru viral banget akhir-akhir ini. Penjualan di perusahaanmu lancar juga kan? Kalau produksi cuman sedikit stoknya cepat habis Ken. Penjualan di klinikku aja gila-gilaan loh."
"Sarah.. aku juga maunya begitu. Tapi menyediakan minyak zaitun itu nggak semudah yang kamu bayangkan Sarah. Jadi aku harap kamu jangan terlalu mendesak aku!" tidak terasa suara Ken meninggi, otaknya panas.
Ken juga sebenarnya ingin memasok minyak zaitun yang dicampur oleh air mata gunung sebanyak mungkin, tapi tidak memungkinkan untuk sekarang.
"Kamu kok marah gitu sih Ken kesannya? Aku bilang seperti itu karena aku peduli sama kamu! Kamu kenapa sih?" Sarah tersulut emosi karena tanggapan Ken tidak baik.
"Maaf ya Sarah, aku benar-benar baru nggak bisa berpikir jernih. Aku akan hubungi kamu lagi." Ken memutus pembicaraan jarak jauhnya.
Ken memejamkan matanya sejenak. Kedatangan Karin disaat Ken sedang bingung masalah air mata gunung benar-benar membuat otaknya semakin membeku.
......................
Seusai maghrib Ken, Beno, Ares dan Aira pergi makan di sebuah restoran yang cukup mewah.
"Tempat makan kita sekarang naik kelas ya?" Ares melihat sekeliling, lampu-lampu temaram, lukisan-lukisan abstrak dan interior bergaya eropa menghiasi restoran ini.
"Tenang ada bos Ken!" kata Beno.
__ADS_1
Aira sedang melihat-lihat buku menu, menu yang disediakan di restoran ini kebanyakan adalah masakan eropa, seperti steak, cordon bleu, spaghetti dan sebagainya.
"Mahal Ken, kita nggak mau makan bakmi jawa aja gitu? Aku lebih suka makan di tempat biasa kita makan." Aira menutup buku menu.
Ken memiringkan kepala, "Tinggal pilih aja Aira, aku yang bayar jadi nggak perlu mempermasalahkan harga. Memangnya kamu nggak bosan makan bakmi jawa terus? Bisa keriting nanti usumu!" suasana hati Ken masih sama seperti tadi siang.
Aira mengangkat sebelah bibirnya, sudah lama dia tidak makan bersama Ken, tapi reaksi Ken benar-benar tidak mengenakan.
"Iya Ken aku tau kamu sekarang udah naik kelas. Bakmi jawa udah bukan kelas kamu lagi, mungkin juga aku, Beno dan Ares juga udah nggak selevel sama kamu! Jadi buat apa kamu makan sama kita? Kenapa nggak makan malam sama si Sarah aja? Kalian kan sama-sama bos!" Aira berdiri, memakai kembali jaketnya.
"—maaf aku nggak selera makan disini." Aira pergi begitu saja.
Ken menghembuskan nafas kasar, "Apa lagi sih ini?" Ken semakin pusing merasakan hal-hal tidak baik bertubi-tubi menimpanya hari ini.
"Ken! Kamu nggak mau kejar Aira?" tanya Ares.
Ken menggeleng. "Aku baru pusing Res, nggak mau menambah masalah dulu."
"Kalau kamu biarkan Aira pergi begitu aja malah bakal bikin masalah Ken! Kejar sana!" Ares mendesak Ken.
"Maaf aku nggak selera makan, kalian aja." Ken meletakan kartu kredit unlimited di meja lalu pergi begitu saja.
Ares kaget dengan sikap arogan Ken. "Wah.. uang dan kekuasaan memang bisa merubah sifat orang ya ternyata?"
"Dia baru pusing Res, maklumlah dia baru menjalankan bisnis. Maafin dia ya Res." Beno mencoba menenangkan Ares yang terlihat tidak suka dengan sikap Ken.
"Kamu ini jangan membela Ken terus! Dia salah, jangan mentang-mentang kamu ini tangan kanan Ken kamu jadi membela dia dalam keadaan apapun. Ini udah diluar jam kantor, kamu udah bukan anak buahnya. Kita berempat teman Ben! Aku juga udah nggak selera makan, maaf aku pulang juga." Ares ikut pergi dari tempat itu.
"Kenapa jadi begini sih? Baru kali ini kita sampai marahan seperti ini? Huft.. semoga Ken segera membaik dan bisa berpikir jernih lagi." Beno mengambil kartu kredit milik Ken lalu pergi.
__ADS_1
***Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih***..