Sistem Kacamata Super

Sistem Kacamata Super
Bab 25 : Beno sudah tahu!


__ADS_3

"Apaan sih Ken? Kenapa kamu suruh aku pakai kacamata ini? Aku nggak rabun loh, belum tua juga aku ini." Beno melepaskan kacamata lalu mengembalikannya pada Ken.


'Berarti kacamatanya nggak bereaksi sama orang lain.' Batin Ken.


"Kacamata ini yang kasih aku uang." Ken memakai lagi kacamata itu.


"Apa? Hahahaha.." Beno tertawa lepas, apa yang dikatakan Ken terdengar sangat lucu dan tidak masuk akal memang.


"Ken.. Ken.. kalau mau bohong yang masuk akal dikit dong! Ya kalik kacamata bisa kasih duit. Ini kacamata Bro bukan ATM, hahaha.." Beno kembali menertawakan Ken.


Ken terdiam, dia sudah menyangka kalau Beno akan meragukan ceritanya, reaksi ini wajar menurut Ken, memang yang dialami saat ini terdengar tidak masuk akal.


"Buruan kasih jawaban yang sejujurnya Ken." Desak Beno.


"Ben.. ini aku jawab jujur, sumpah demi mamak yang inshaallah di surga aku ngomong jujur!"


Beno merinding mengendarainya, jika Ken sudah menyebut nama ibunya artinya dia memang bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.


"Gimana bisa kacamata menghasilkan uang?" 


Ken menceritakan semuanya pada Beno.


"Jadi kamu modal cilok, bubur ayam sama steak dapat uang sepuluh juta?! Waaah.." Beno tidak berhenti-hentinya heran dengan apa yang Ken ceritakan.


"Ya gitu deh Ben." 


"Jadi apa rencanamu sekarang?" Tanya Beno.


"Aku bakal mencari tahu kandungan air mata gunung. Aku bakal persiapkan bahan-bahan untuk menjual skincare."


"Hahaha.." Benk tidak percaya temannya itu akan melakukan hal yang jauh dari kebiasaannya.


"Aku yakin akhir bulan ini pak Yoga bakal nyuruh aku angkat kaki. Kamu harus ikut undur diri Ben."


"Wani piro?" Benk memasang wajah usil.


"Aku gaji kamu tiga kali dari sekarang. Gimana?" Ken sengaja menawarkan angka fantastis agar Beno tergiur


"Deal!" Jawab Beno mantap.


"Aku bakal bilang sama Ares dan Aira kalau aku menang lotre, kamu harus berakting agar mereka berdua percaya."


"Hmm.. oke deh, apa sih yang enggak demi uang, haha.."


"Janji sama aku Ben, jangan kasih tahu siapapun."  


"Iya.. iya.."


"Eh.. Ben! Janji dulu dong!" Ken memaksa Beno bersalaman.


"Terus kamu mau ajak aku jualan skincare ajaib racikanmu itu?"


"Iya.. kamu kan pintar speak-speak Ben, kalau aku kan enggak. Mau ya? Tiga kali gaji lho, hmmm.." Rayu Ken.

__ADS_1


"Oke deh, jadi sekarang aku bakal ditransfer buat beli action figure kan Ken? Haha.."


Ken mengeluarkan ponsel melakukan transfer ke rekening Beno.


"Udah ya."


"Beneran?" Beno melihat saldo di rekeningnya lalu tertawa bahagia.


"Gila.. gila, oke mulai sekarang saya anak buah bapak Ken Shankara." Beno mengajak Ken bersalaman.


......................


Keesokan harinya Ken datang ke clinic kecantikan milik Sarah.


"Selamat pagi kakak, ada yang bisa saya bantu." Tanya petugas resepsionis.


"Emm.. pagi, saya mau bertemu Sarah." Kata Ken.


Resepsionis memandang bingung terhadap Ken.


"Maaf, maksud saya ibu Sarah Lavin." Ken menyerahkan kartu nama Sarah pada petugas resepsionis.


"Sudah ada janji kak?"


"Emm.. belum sih." Ken menggaruk kepala, dia tidak menyangka bertemu Sarah tidak semudah itu.


"Maaf ya kak kalau begitu silahkan ditunggu dulu." 


"Eh.. kak, kenapa bu Sarah dicari sama kurir ya? Anehnya dia punya kartu nama bu Sarah lagi. Kan bu Sarah orang yang pelit kasih kartu nama." Bisik seorang resepsionis.


"Tapi dia ganteng gitu loh, sumpah tipe aku banget, manis nggak bikin bosen. Masa cuman jadi kurir ya?" Kata seorang petugas resepsionis lainnya.


"Iya sih, wajahnya bersih, badannya juga kekar." Kedua petugas resepsionis membicarakan sosok Ken.


Ken melihat sekitar, ornamen elegan dan estetika terasa begitu memesona. Pandangan mata Ken tertuju pada foto Sarah yang di pajang di salah satu sisi tembok.


"Ternyata dia CEO sekaligus dokter utama disini, keren banget." Ken kagum.


Ken menunggu sampai satu jam lebih. Hingga akhirnya Sarah keluar dari ruangannya.


"Ken maaf nunggu lama ya? Yuk masuk." Sarah mengajak Ken masuk ke ruangannya.


"Nggak apa kok, lagian salah aku juga nggak janjian dulu, nggak bilang mau kesini." Kata Ken.


"Duduk Ken."


Ken duduk di sofa di depan kursi kerja Sarah.


"Ada apa nih Ken pagi-pagi datang kesini? Mau ajak aku makan lagi ya? Hehe.." Sarah menguncir rambutnya, tulang pipinya dan dagunya yang lancip memesona Ken.


"Eh.. boleh sih, tapi jangan sekarang ya."


"Hehe.. bercanda aku tuh Ken, serius banget nanggepinnya. Jadi ada apa?"

__ADS_1


"Aku mau minta tolong boleh?" 


"Apa nih? Boleh-boleh aja Ken, selama aku bisa bantu pasti aku bantu."


"Emm.. boleh minta tolong cek kandungan dalam minyak zaitun ini." Ken memberikan botol kecil minyak zaitun yang dicampur air mata gunung.


"Oh.. ini yang dimaksud Aira ajaib itu ya?" Sarah tersenyum geli.


...Hologram muncul....


...[Pendeteksi perasaan aktif! Sarah meremehkan minyak zaitun itu!]...


"Emm.. kalau memang nggak bisa nggak apa kok." Ken berusaha mengambil minyak zaitun itu dari tangan Sarah.


"Nggak apa kok Ken, aku tadi bilang mau bantu kamu." 


"Emm.. kalau ada biayanya aku bakal bayar Sar." Ken tidak ingin diremehkan, dia merasa sedikit punya kemampuan untuk meningkatkan harga dirinya.


"Nggak kok, aku ada laboratorium juga, jadi nanti bakal di tes sama anak buahku." Kata Sarah, dia masih memutar-mutar botol berisi minyak zaitun itu.


"Emm.. nggak usah nggak apa kok Sar." Ken berusaha merebut.


"Eh.. maaf Ken, kamu marah ya sama aku? Aku buat kamu tersinggung ya?" 


...Hologram muncul....


...[Pendeteksi perasaan aktif! Sarah merasa bersalah pada Ken!]...


"Maaf ya Ken, aku ikhlas kok bantu kamu."


"Terima kasih Sarah sebelumnya."


"Mungkin butuh tiga sampai lima hari, nanti aku hubungi kamu." Sarah menyodorkan ponselnya.


Ken memiringkan kepala, karena bingung.


"Aku belum tau nomor ponsel kamu Ken, kamu nggak hubungi aku sih. Kenapa? Nggak mau kasih ya? Takut pacar kamu marah?" Sarah mengulik informasi soal status percintaan Ken.


Ken menerima ponsel Sarah mengetik nomor ponselnya lalu mengembalikannya.


"Jadi kamu belum punya pacar?" Tanya Sarah.


Ken menggeleng pelan.


Sarah tersenyum, "Sama dong."


"Oh.." Karena bingung harus bagaimana menanggapinya jadi hanya itu yang keluar dari mulut Ken.


***Bersambung..


Maaf author kemarin sibuk ada kerjaan yg nggak bisa ditinggalkan🙏


Jangan lupa komen, like, vote dan nilai, terima kasih🙏***

__ADS_1


__ADS_2