
Masa kini.
Mengetahui Sonu pergi secara diam-diam membuat Patricia merajuk, seharian ia terus marah-marah dan tak mau mengerjakan tugasnya. Ia baru kembali tersenyum saat Estes datang mengunjunginya, mereka menghabiskan waktu bersama seperti saat kecil dulu. Hanya saja kali ini mereka tidak main lumpur, tapi mengobrol tentang kehidupan mereka selama ini.
"Keluarga mu pasti bangga padamu," ujar Patricia sambil tersenyum.
"Yah, kau tahu ibuku. Setiap hari dia bicara dengan orang-orang tentang pekerjaan ku di istana," sahutnya sambil tertawa kecil.
"Bagaimana denganmu? apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya.
"Aku berniat melanjutkan pekerjaan ayah, tapi kakek melarangku karena itu tidak cocok untuk seorang gadis. Kau juga tahu bagaimana dia, setiap hari terus mengatakan betapa berbahayanya menjadi pedagang karena bisa berurusan dengan bandit."
"Yeah, hehehe.." balas Estes tertawa geli.
Sejenak mereka terdiam, menikmati pemandangan yang indah dan angin sepoi-sepoi yang terasa nyaman.
"Um, Patricia...aku harus pergi besok," ucap Estes pelan.
"Besok? bukankah itu terlalu cepat?" tanyanya kaget.
"Liburku tidak lama."
"Begitu ya," sahutnya kecewa.
"Um... jika aku mengirimu surat apa kau mau membalasnya?" tanya Estes ragu.
"Tentu saja! aku akan menantikan suratmu," sahutnya.
Estes tersenyum senang mendengar jawaban itu, begitu juga dengan Patricia. Yang membuat Estes lebih senang lagi adalah esok harinya saat ia hendak pergi Patricia datang untuk mengantarnya sampai ke gerbang, sekaligus memberinya bekal makanan sebagai tanda perpisahan.
Wajah mereka saling tersenyum, tapi hati mereka saling meratap. Mata Patricia terus menatap punggung Estes yang semakin lama semakin jauh meninggalkannya, hingga saat sosoknya hilang di kejauhan untuk beberapa saat Patricia masih berdiri di sana.
Ia sangat tak suka akan perpisahan tapi tetap mengantar kepergian Estes sebab matanya ingin terus menatap pemuda itu, kini setelah kesedihan yang tersisa ia memutuskan untuk pergi mengunjungi Emily demi menghibur diri.
"Hai!" sapa Patricia begitu bertemu Emily dirumahnya.
__ADS_1
"Hai! senang melihatmu disini!" seru Emily yang cukup kaget akan kunjungan itu.
"Tadi aku mengantar Estes dan ku pikir sekalian mengunjungi mu, lagi pula sudah lama aku tidak main kerumahmu."
"Pemikiran yang bagus, aku sedang membersihkan gudang. Apa kau mau membantuku?" tanyanya.
"Tentu!" sahut Patricia bersemangat.
Ia mulai dengan mengeluarkan barang-barang bekas seperti yang diperintahkan Emily, rupanya gudang milik keluarga Emily dipenuhi barang lapuk yang sudah tak layak pakai. Ini akan menyita waktu mereka seharian, meski begitu Patricia tidak keberatan.
"Hei Emily! lihat ini!" serunya dari dalam.
"Apa?" sahut Emily segera menghampiri.
Patricia mengeluarkan sebuah kotak kayu dengan ukuran cukup besar, kotak itu dipenuhi dengan debu tebal yang mengartikan benda itu telah lama disimpan.
"Kira-kira apa isinya?" tanya Patricia.
"Entahlah, aku juga penasaran" sahutnya.
Dengan antusias mereka melihat isi dalam kotak itu, namun yang mereka dapat justru kecewa sebab isinya tak lebih dari buku-buku usang.
"Ku pikir akan mendapatkan harta karun," gerutu Emily.
"Harta karun seperti apa yang disembunyikan didalam gudang?" tanya Patricia mengingatkan bahwa harapan Emily sangat tidak masuk akal.
Emily hanya mendengus dengan kesal, sementara Patricia mengeluarkan buku itu satu persatu. Melihatnya sekilas dan membuka lembaran demi lembarannya hanya untuk memastikan buku itu masih utuh, namun dari sekian banyaknya buku perhatiannya terpaku pada satu buku dengan sampul kulit usang.
Ada banyak gambar pentagram juga mantra yang tertera, sisanya hanya penjelasan yang ia tidak mengerti.
"Buku apa ini?" tanya Patricia.
"Yang mana?" balas Emily.
Patricia pun menyerahkan buku itu untuk dilihat Emily.
__ADS_1
"Entahlah," ujarnya setelah membolak-balikan buku itu.
"Buku sihir!" sahut ibu Emily yang entah sejak kapan berdiri di belakang mereka.
"Ibu!" seru Emily kesal sebab ia terkejut akan jawaban ibunya yang tiba-tiba.
"Maaf, ibu tidak bermaksud mengagetkan," ucapnya sambil duduk disamping Emily.
"Itu buku sihir, milik keluarga ayahmu."
"Maksud ibu?" tanya Emily mengarah pada kepemilikan buku tersebut.
"Nenek moyang ayahmu dulu seorang penyihir, setidaknya itu yang dikatakan kakek mu saat kami baru menikah. Ku pikir itu hanya lelucon karena tidak ada yang bisa menggunakan sihir dikeluarga ayahmu, tapi suatu hari dia memberikan buku ini dan menjelaskan bahwa sudah lama sekali tidak ada yang mewarisi kekuatan sihir dari nenek moyangnya. Tapi bukan berarti tidak ada, mungkin suatu saat akan ada anak yang mewarisinya dan karena itu buku ini harus tetap dijaga sampai sang penerus lahir," jelasnya.
"Konyol! pasti kakek mendapatkan buku ini dari seseorang dan mengarang cerita," sahut Emily tak percaya.
"Entahlah, sebaiknya kita tinggalkan saja kisah buku ini sebab ibu sudah masak banyak lauk. Jadi mari kita beristirahat sejenak untuk makan siang!" ajaknya.
"Yeeeeeyy!" sorak Emily girang sebab ia memang sudah kelaparan sejak tadi.
Patricia yang ikut makan siang disana merasa sedikit canggung sebab sudah lama mereka tidak bertemu, beruntung ibu Emily memiliki sikap ramah dan terbuka yang membuat Patricia cepat berbaur.
Setelah kenyang makan mereka melanjutkan pekerjaan, gudang itu harus bersih sore nanti jadi tak ada waktu untuk bersantai. Beruntung baik Emily maupun Patricia sudah biasa bekerja sehingga mereka bisa selesai tepat waktu.
"Terimakasih untuk hari ini," ujar Emily yang benar-benar merasa terbantu.
"Tak masalah," sahutnya.
"Apa besok kau ada waktu luang?"
"Sepertinya ada, setiap hari pekerjaan ku hanya membantu kakek jadi aku bebas."
"Bagus! besok bantu aku membersihkan kandang kuda, kali ini aku akan membayarmu dengan buah plum," pinta Emily.
"Baiklah, jika kau memang benar akan membayaku" sahut Patricia seraya tersenyum.
__ADS_1
Emily bersorak atas jawaban itu, membuat Patricia tertawa karena tak tahan melihat wajah kekanak-kanakan sahabatnya itu. Karena hari semakin senja ia pun berpamitan pulang, diiringi teriakan Emily yang memintanya untuk tidak lupa akan janjinya.