
Langit itu gelap tanpa ada bintang atau pun bulan yang nampak, anehnya Patricia tahu saat ini bukanlah malam yang sesungguhnya. Bertelanjang kaki ia terus berjalan menyusuri jalan setapak, mengikuti insting kemana kakinya harus melangkah.
Meski tak ada satupun sumber cahaya tapi ia bisa melihat dengan cukup baik, sampai matanya menemukan sebuah gubuk tua. Asap mengepul dari cerobong menebar aroma mentega, seseorang sedang membuat roti manis.
Patricia memutuskan untuk menuju gubuk itu, mengetuk pintunya yang rapuh sebanyak tiga kali.
Kreeeett
Saat seseorang membukanya suara pintu yang berderit menandakan engselnya telah berkarat, wanita cantik dengan pakaian serba hitam serta mengenakan topi kerucut tersenyum padanya.
Menyambutnya dengan hangat dan mempersilahkan masuk, tanpa kata Patricia berjalan begitu saja. Terus masuk menuju perapian, tebakannya benar. Wanita itu sedang memanggang roti manis, bahkan susu hangat sudah tersaji di atas meja seakan tahu ia akan bertamu.
Berberapa menit kemudian roti telah matang, wanita itu menyajikannya kehadapan Patricia namun ia menolak.
"Aku tidak boleh memakan pemberian orang asing," ujar Patricia.
"Kau berada dirumah sayang," sahut wanita itu dengan suara halus.
Patricia terdiam sejenak, meneliti wajah cantik wanita itu dengan senyumnya yang menawan. Akhirnya ia pun mengambil roti tersebut dan memakannya, rasanya sangat manis sesuai dengan aromanya ditambah dengan susu hangat itu adalah perpaduan sempurna.
Dalam waktu singkat Patricia menghabiskan dua roti sekaligus, setelah perutnya kenyang ia berpamitan untuk pergi.
Wanita itu mengantarnya sampai depan pintu, masih tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan.
"Patricia!" panggil seseorang dengan keras.
Kaget Patricia menoleh kebelakang, dilihatnya Sonu berdiri disana dengan tubuh yang dipenuhi asap. Ia tak mengerti mengapa wajah Sonu terlihat sangat cemas, ditambah kepulan asap itu membuatnya semakin aneh.
"Raih tangan ku! kita harus kembali!" teriak Sonu lagi.
Ia masih tak mengerti, tapi berjalan untuk meraih tangan Sonu yang terulur. Saat tangan mereka saling menggenggam tiba-tiba ia merasakan tubuhnya tersedot sesuatu, begitu kuat hingga ia tak bisa menahannya dan akhirnya menyerah.
Bruk
"Uh," erang Patricia sebab ia jatuh diatas lantai keras yang membuat badannya sakit.
"Patricia! kau baik-baik saja?" tanya Emily cemas.
"Mm, ya!" sahutnya sambil mencoba untuk bangkit.
"Ah syukurlah kalian kembali dengan selamat," tukas Jacy.
"Apa yang terjadi?" tanya Patricia bingung.
"Kau baru saja bertanya? tidakkah kau sadar apa yang telah kau lakukan?" hardik Sonu penuh emosi.
__ADS_1
"Memangnya apa?" balas Patricia dengan nada tinggi.
"Kalian telah masuk ke dimensi hitam, itu adalah sekumpulan sihir kuat yang bisa menciptakan imajinasi yang menjadi nyata atau memancing kheos dalam dirimu. Jika kami tidak pergi untuk menjemput kalian ada kemungkinan kalian akan terperangkap di dimensi itu selamanya," jelas Jacy.
Patricia terdiam, menatap Emily yang hanya bisa menunduk dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika yang kami buat adalah sesuatu yang berbahaya," ujar Emily pelan.
"Sudahlah, yang terpenting kita bisa keluar dengan selamat," sahut Jacy.
"Tidak!" tukas Sonu tiba-tiba.
"Aku melihatnya bicara dengan seorang wanita di sana, ada kemungkinan sesuatu telah terjadi padanya dan kita harus segera memeriksanya!" lanjutnya sambil menatap Patricia.
Kali ini Patricia tak bisa membantah, ia sadar telah melakukan kesalahan padahal awalnya ia sudah memiliki firasat tapi tetap membiarkan Emily membuat pentagram itu dan bermain dengan buku sihirnya.
Kini apa pun yang akan dilakukan Sonu kepadanya ia terima, bahkan jika itu sebuah hukuman berat.
"Kita akan menemui Madam besok pagi, malam ini beristirahatlah dengan nyenyak," ujar Sonu sebelum pergi.
Namun semalaman Patricia tak bisa tidur, dalam benaknya terus terbayang wajah wanita itu dan apa yang telah ia lakukan disana meskipun hanya makan roti saja.
Hingga pagi tiba mereka berempat pun pergi dengan menunggangi kuda, Patricia yang naik dengan Sonu saling bungkam sepanjang jalan sementara Emily dan Jacy banyak mengobrol.
"Terimakasih telah menolongku," ujar Emily.
Emily tersipu, Jacy adalah pria yang mudah diajak bicara dan apa pun yang dikatakannya mampu membuat hati Emily terbuka sepenuhnya.
"Aku pikir kami akan baik-baik saja karena aku tidak memiliki sihir, meskipun itu buku milik keluarga ku tapi nyatanya aku hanya gadis biasa," ucapnya lagi.
"Justru lebih berbahaya lagi jika kau tidak punya kemampuan sihir, tak ada tameng yang melindungi mu. Sekarang kita hanya bisa berharap tak ada akibat serius yang kalian terima," sahutnya.
"Aku harap juga begitu."
"Ya, aku tak suka melihat gadis manis seperti mu terluka!" ujar Jacy yang kembali membuat Emily tersipu.
Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, ditengah keramaian pasar berdiri sebuah tenda berwarna ungu yang megah. Hanya dengan melihatnya saja Patricia dan Emily sudah dibuat takjub, tentu karena warna ungu hanya dimiliki oleh mereka yang bermartabat dan memiliki kekayaan mutlak.
"Ayo masuk!" ajak Jacy sambil tersenyum.
Emily menurut, ia mengikuti langkah Sonu yang berjalan paling depan. Tak hanya luarnya namun ruangan didalam tenda itu pun sangat indah, dipenuhi hiasan bunga dan pernak pernik lainnya yang mewah.
"Madam!" panggil Sonu.
"Aku datang..." sahut seseorang.
__ADS_1
Dari balik tirai seorang wanita yang mengenakan gaun indah berjalan keluar, wajahnya cantik dengan perhiasan yang mendukung penampilannya.
"Apa kabar Madam?" sapa Jacy sambil mengecup punggung tangan Madam.
"Baik sayang, sudah lama kau tidak mengunjungi ku. Apa kau sibuk atau sedang menyibukkan diri?" jawabnya dengan balas bertanya.
"Kau tahu aku, hanya berpetualang demi menyelesaikan misi."
"Madam, kami butuh bantuanmu!" ujar Sonu langsung pada intinya.
"Katakan," sahut Madam.
Sonu pun menceritakan apa yang telah menimpa Patricia dan Emily, ia ingin meminta bantuan Madam untuk melihat apakah ada efek yang terbawa dari dimensi itu.
"Aku mengerti, mulai darimu gadis!" ujar Madam sambil menunjuk Emily.
Awalnya Emily ragu, tapi karena Jacy tersenyum padanya ia pun maju dan duduk tepat di depan Madam.
"Ulurkan tanganmu," perintah Madam.
Emily menurut, membiarkan Madam menggenggam tangannya. Sebuah rapalan matra Madam ucapkan dengan serius sambil menutup mata, beberapa menit berlalu dan Madam masih membaca mantra tanpa ada apa pun yang terjadi.
"Aman, dia tidak meninggalkan apa pun disana atau membawa sesuatu," ujar Madam setelah selesai memeriksa.
"Ah syukurlah," ucap Jacy.
"Sekarang giliranmu," tunjuk Madam kepada Patricia.
Emily bangkit untuk menyerahkan tempat duduknya, sebelum memulai ia menepuk pundak Patricia seraya tersenyum penuh harapan. Madam meminta kedua tangan Patricia seperti Emily dan membaca mantra sambil menutup mata, tapi baru beberapa menit berlalu tangan Madam berubah menjadi hitam yang kemudian menjalan ketangan Patricia.
Itu membuat mereka panik, terlebih semakin lama Madam membaca Mantra tubuhnya semakin gemetar dengan hebat.
"Apa yang terjadi?" tanya Emily panik.
"Entahlah," jawab Jacy yang juga tak mengerti.
"Madam!" panggil Sonu mulai khawatir.
Tapi Madam masih membaca mantra, Patricia mencoba melepaskan genggaman tangan Madam tapi genggaman itu terlalu kuat hingga ia tak bisa melepaskannya.
Set
"Ah!" pekik Patricia saat tiba-tiba Madam melepaskan tangannya.
Perlahan warna tangan mereka kembali normal, tapi wajah Madam sarat akan kengerian.
__ADS_1
"Celaka, dia telah dikutuk!" ujar Madam sambil menunjuk Patricia.
Sonu yang telah memiliki firasat jelek saat menjemput Patricia di dimensi itu hanya bisa terpaku, sementara yang lain menatap cemas.