Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 34 Penyelamatan Yang Sia-sia


__ADS_3

Berkumpul mengelilingi Sonu mereka tahu harus cepat bertindak sebelum Sonu masuk lebih dalam ke alam bawah sadarnya, mereka tak bisa pergi bersama karena resiko yang tinggi maka dibuatlah keputusan bersama.


"Biarkan aku yang pergi," ujar Patricia bersikeras.


"Kau yakin? jika kau tidak berhasil menyadarkan Sonu ada kemungkinan kau juga ikut terjebak," jelas Jacy.


Sebenarnya Jacy ingin ia saja yang pergi, setidaknya ia tahu harus bertindak bagaimana. Tapi jika ia pergi tak ada yang menjaga raga mereka di dunia nyata, ia takut akan ada serangan dari monster yang tidak diketahui dan kedua gadis itu tak bisa bertindak banyak.


"Terlalu berbahaya," timpal Emily yang juga kurang setuju.


"Tidak ada pilihan, kita harus segera menyelamatkan Sonu. Lagi pula aku sudah berhutang banyak padanya jadi biarkan aku membayar sedikit saja," ujar Patricia memelas.


Memang mereka tidak memiliki pilihan lain, akhirnya Jacy setuju dan segera membuat pentacle untuk Patricia. Ia menegaskan agar segera sadarkan Sonu dan selebihnya biar Sonu yang bertindak, mengangguk tanda mengerti Patricia siap untuk kepergiannya.


Ia duduk tepat diatas pentacle, memejamkan mata dan siap untuk tertidur. Saat Jacy mulai membaca mantra kantuk pun mulai menyerang yang membuatnya akhirnya terlelap.


......................


Bruk


Uh


Itu bukanlah pendaratan yang bagus, entah mengapa ia tak bisa jatuh dengan keren seperti Jacy. Bangun sambil memegang pinggangnya ia merasa berada di tubuh yang asli bukan hanya mimpi sebab rasa sakit itu nyata, mungkin inilah alasan mengapa Jacy menyuruhnya berhati-hati.


Melihat sekeliling Patricia sadar ia berada di hutan, berfikir sejenak untuk mencari tahu dimana keberadaan Sonu ia mencoba mengingat semua hal tentang ksatria itu.


Ia ingat Jacy pernah membahas masalalu Sonu, tentang masa kecilnya yang tidak beruntung. Maka ia pun mengambil kesimpulan Sonu pasti berada di sebuah rumah yang hangat bersama dengan keluarganya.


Mulai berjalan keluar hutan Patricia melihat sekeliling, suasananya damai seperti desa pada umumnya namun ia merasa desa itu terlalu sepi dijam siang.


Mencoba berfikir positif mungkin desa itu hanya memiliki penduduk yang sedikit sehingga jarang ada yang lalu lalang meski di siang hari, mencoba memeriksa setiap rumah dengan jendela terbuka Patricia hanya fokus mencari Sonu sampai tiba-tiba.


"Tolooooooong...." itu adalah sebuah teriakan yang jelas dan kencang.


Menatap sekitar dengan waspada Patricia memegang pedang yang ia bawa sebagai senjata, berjalan perlahan ia mencoba mencari sumber teriakan itu.


"Tolooooooong... " kembali jeritan itu terdengar.


Kini lebih jelas dan disertai seorang wanita yang berlari ketakutan ke arahnya.

__ADS_1


"Tolong! tolong aku!" ujar wanita itu panik kepadanya.


"Tenang nyonya, apa yang terjadi?" tanya Patricia bingung.


"Sembunyikan aku... aku mohon... kalau tidak.. kalau tidak dia akan membunuh ku!" sahut wanita itu sambil menatap sekitar dengan bola matanya yang penuh ketakutan.


"Baiklah, ikuti aku!" seru Patricia yang tak bisa diam saja.


Menatap sekitar untuk memastikan keadaan aman Patricia pun mengajak wanita itu bersembunyi di sebuah rumah kosong, dibalik gentong dan berselimut usang mereka mencoba menenangkan diri agar tak menimbulkan suara.


Beberapa menit kemudian sebuah suara langkah kaki terdengar melintas, itu adalah sebuah langkah lari yang Patricia tebak seorang pria.


Melebarkan telinganya Patricia mencoba mendengarkan semua suara yang ada di luar, merasa aman ia pun mengajak wanita itu keluar dari persembunyian dan mencari tempat yang lebih aman.


"Ayo!" ajaknya sambil membantu wanita itu berdiri.


Masih ketakutan wanita itu bangkit dan bertopang pada Patricia, mereka keluar dari rumah dan segera berlari menuju hutan.


"Hei!" teriak seseorang tiba-tiba di belakang mereka.


Sial, mereka telah ketahuan. Perlahan Patricia membalikkan badan bersama wanita itu dengan degup jantung yang kencang, menyiapkan diri Patricia telah berfikir saat membalikkan badan ia akan langsung menyerang orang itu.


Tapi saat matanya beradu pandang dengan pria itu ia justru tertegun heran.


"Tidak.... tidak.... aku mohon... " rengek wanita itu mulai melepaskan diri dari Patricia.


Semakin bingung Patricia menatap bagaimana wanita itu begitu takut saat melihat Sonu, bahkan ia mencoba berlari menyelamatkan diri namun.


Syuuuuuuuttt


Jleb "Ah!"


Satu anak panah melesat dengan cepat dan berhasil menembus jantung wanita itu, membuatnya membeku sedetik sebelum kemudian ambruk dengan darah yang segera menyiram tanah kering.


Terpaku, Patricia menatap Sonu yang masih memegang busurnya dengan wajah datar. Ia tahu apa yang baru saja terjadi, Sonu baru saja menghabisi seorang wanita yang tak berdaya entah apa alasannya.


Tak bisa percaya pada apa yang baru saja ia lihat, kebingungan Patricia mundur beberapa langkah saat Sonu mendekat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sonu menyadari Patricia ragu terhadapnya.

__ADS_1


"Sonu... siapa wanita itu? apa yang terjadi?" tanya Patricia masih syok.


"Ibuku," sahut Sonu singkat.


Patricia tentu semakin tak mengerti, situasi macam apa yang membuat Sonu harus menghabisi ibunya sendiri.


"Meski tangannya hangat saat membelaiku, meski senyumannya menyenangkan, meski kata-katanya lembut, meski semuanya sama seperti yang aku ingat tapi aku tahu dia bukan ibuku. Apa pun yang terjadi ibuku tidak akan pernah kembali apalagi dengan kondisi yang baik," jelas Sonu.


Kini Patricia mengerti, Sonu telah menyadari bahwa ia terkena sihir dan mencoba melepaskan diri sebisa mungkin.


Ia tahu bahwa itu adalah ibunya yang palsu dan dunia yang sedang ia tempati adalah palsu, tapi tetap saja ia tak menyangka Sonu dapat menghabisi nyawa ibunya sendiri dengan begitu mudah walaupun semuanya palsu.


Jika dibandingkan dengan dirinya apa yang dilakukan Sonu jauh lebih sulit, ia tahu pasti berat bagi Sonu untuk menghabisi nyawa orang yang paling berharga baginya tapi ia tetap dapat melakukannya.


Kini Patricia menjadi merasa bodoh, ia sangat khawatir kepada Sonu sampai-sampai bersikeras ingin menolongnya. Tapi saat sampai ia hampir saja membuat mereka terjebak selamanya di dunia sihir itu, andai Patricia terus menolong ibu Sonu mungkin Sonu akan semakin ragu untuk mengakhiri sihir itu.


"Apa yang lain baik-baik saja?" tanya Sonu.


"Ya, Jacy menyelamatkan kami," sahutnya pelan.


"Dia tidak punya ambisi tentu saja mudah baginya keluar dari dunia sihir ini, ayo pergi!" ajak Sonu.


......................


Mengawasi dua tubuh yang berjuang dalam dunia penuh tipu adalah hal yang paling menjengkelkan, Jacy sangat khawatir mereka tidak dapat keluar mengingat Sonu adalah tipe orang yang jarang mengeluarkan isi hatinya.


Setahunya orang yang pendiam lebih mudah untuk dirasuki dan sulit menerima kenyataan pahit, tapi untung saja kekhawatirannya adalah hal yang percuma.


Beberapa menit kemudian Sonu dan Patricia menunjukkan tanda-tanda bangun, mata mereka mulai mengerjap disertai tangan yang mulak bergerak.


"Hai bung! kau baik?" tanya Jacy sambil membantu Sonu menegakkan tubuhnya.


"Um, ya.. " sahut Sonu yang akhirnya berhasil membuka mata.


"Bagaimana dengan mu?" tanya pula Jacy kepada Patricia.


Patricia mengangguk tanpa berkata apa pun.


"Oh ku pikir kalian butuh waktu yang lama untuk keluar, aku sudah mau menyiapkan rencana cadangan kalau-kalau kalian tidak bangun juga hingga petang," ujar Jacy me-lap keringat cemasnya.

__ADS_1


"Lain kali cukup tunggu aku sadar sendiri, mengirim gadis polos seperti dia.... heh Jac kau melakukan kesalahan," ketus Sonu.


Jacy menatap bingung, tak mengerti mengapa Sonu tiba-tiba marah kepadanya tanpa alasan yang jelas sementara Patricia bungkam tanpa ingin membahasnya.


__ADS_2