Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 6 Teror Di Daratan Sylary


__ADS_3

Satu bulan yang lalu Sonu baru saja kembali dari pekerjaannya, ia mendatangi serikat petualangan untuk meminta imbalannya. Seperti biasa kepulangan itu dirayakan sebagai bentuk syukur atas nyawa yang masih menempel dalam tubuhnya, bahkan tiada satu pun anggota tubuhnya yang hilang.


Larut dalam perayaan kecil itu yang hanya dimeriahkan oleh celoteh Jacy tiba-tiba seorang pria membuat intuisinya timbul, pakaian rapihnya membuat Sonu sadar bahwa dia bukanlah pria biasa.


"Aku punya pekerjaan untukmu," ujarnya.


"Katakan!" sahut Sonu.


Sring


Pria itu menyimpan kantung uang diatas meja, dari suaranya saja Sonu sudah bisa menebak isinya adalah koin dengan jumlah banyak.


"Namaku Marcus, aku ingin kau membersihkan sebuah desa dari ancaman monster. Ini hanya uang muka saja, sisanya bisa kau dapatkan nanti setelah pekerjaan mu selesai."


"Menarik, akan ku ambil!" sahut Sonu tanpa bertanya lebih lanjut.


Setelah Marcus pergi ia melihat isi kantung uang itu yang memang isinya adalah koin emas dengan jumlah yang banyak.


"Sungguh pria yang bodoh!" celetuk Jacy yang ikut melihat isi kantung itu.


"Dia bisa membayar lebih murah hanya untuk pekerjaan kecil seperti itu," lanjutnya.


"Untuk beberapa orang yang hidup dengan berenang dalam emas ini hanyalah serpihan saja," sahut Sonu.


"Kau benar," balasnya kembali menikmati rum.


Tanpa menunda waktu Sonu segera mempersiapkan diri, membawa semua keperluan yang ia butuhkan dan memulai perjalanan.


Daratan Sylary adalah sebuah desa yang dekat perbatasan, tempat itu merupakan desa dengan luas yang hampir mendekati ibu kota. Konon sang Raja pernah menetap disana selama pengasingan, itu terjadi sudah lama sekali sebab saat itu Raja hanya pangeran kecil yang harus selamat dari ancaman bahaya.


Sonu memilih menggunakan kuda untuk mempercepat perjalanan, dia ingin tiba hanya dengan waktu satu hari saja dimana waktu ialah pagi agar dapat menemukan tempat istirahat yang layak.


Tapi hujan mengguyur bumi tepat setelah ia berhasil menempuh setengah perjalanan, kini ia harus mencari tempat berteduh sebab kudanya tak mampu berjalan akibat cuaca buruk.


Setelah menunggu cukup lama sambil beristirahat ia pun melanjutkan perjalanan, akhirnya ia sampai siang hari dengan pakaian basah dan kotor yang harus diganti.


Desa itu ternyata cukup berbeda dari bayangannya, meski banyak bangunan yang berdiri tapi tak banyak orang yang berkeliaran.

__ADS_1


Meski begitu jalanannya di penuhi lumpur seolah banyak orang yang telah lalu lalang, ia pun turun dan menggiring kudanya dari samping.


Sepanjang jalan itu ia melihat beberapa orang yang menatapnya dengan pandangan takut, ada juga yang saling berbisik seolah dia adalah makhluk asing.


Menatap seorang wanita yang berjalan tak jauh di depannya segera ia pun berlari untuk bertanya, "Permisi bu."


"Oh!" pekik wanita itu kaget dan segera berlari menjauh.


Ia tahu mungkin tampangnya sangat kacau dan nampak menyeramkan, tapi ia tak menyangka akan membuat satu desa takut kepadanya.


Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil melanjutkan perjalanan, akhirnya ia menemukan sebuah bar. Segera ia pun masuk dan mendapati tempat itu kosong tanpa satu pengunjung sekali pun, bahkan pemiliknya tak keliatan meski jelas tempat itu terbuka untuk pengunjung.


"Halo! apa ada orang?" teriaknya tepat dari meja bartender.


"Ya," sahut seorang pria dari belakang.


"Oh syukurlah, aku butuh segelas rum!" ujarnya segera mengambil kursi untuk duduk.


"Segera datang!" sahut pria itu.


"Kau baru datang?" tanya pria itu sambil memberikan minuman yang diminta Sonu.


"Mereka hanya trauma, selama kau tidak menarik pedangmu mereka hanya akan menatap mu saja."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sonu setelah meneguk minumannya.


Pria itu menghentikan aktifitasnya yang sedang melap cangkir, sejenak menatap Sonu sebelum melemparkan pandangan secara berkelahi. Seolah memastikan tak akan ada yang mendengar mereka padahal tempat itu sepi.


"Beberapa minggu yang lalu beberapa hewan ternak tiba-tiba hilang dari kandangnya, setelah dilakukan pencarian bangkainya ditemukan jauh didalam hutan. Orang-orang mulai menjaga ternak mereka lebih ketat lagi, tapi kemudian seorang pria ditemukan tewas dengan luka koyak yang mengerikan," ujar pria itu bercerita.


"Kalian mengasumsikan itu hasil perbuatan makhluk yang sama," ucap Sonu menarik kesimpulan.


"Bekas lukanya sama persis, terkoyak dibagian perut dengan isiannya yang hilang."


Sonu berfikir sejenak, memikirkan monster macam apa yang hanya memakan organ dalam.


"Apa ada orang yang sudah pernah melihatnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Kau sedang bicara dengan orang yang dimaksud," sahut pria itu.


"Oh, bagaimana bentuk makhluk itu?" tanyanya cukup kaget sebab ia bicara langsung dengan narasumber.


"Tinggi, kurus, tangan dan kakinya sangat panjang seperti ranting. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena saat itu malam hari, tapi aku bisa melihat tanduknya yang seperti rusa dan matanya yang merah," jelas pria itu sambil mencoba mengingat.


"Baiklah, terimakasih atas penjelasan mu."


"Kau mau pergi?" tanya pria itu sebab Sonu bangkit dari tempat duduknya.


"Ya, hari mulai senja dan aku harus segera menemukan penginapan sebelum memulai pencarian," sahutnya.


"Kau bisa tinggal disini, ada kamar kosong diatas."


"Sungguh? terimakasih atas bantuannya."


"Tidak masalah, justru aku merasa aman karena kehadiran mu," balas pria itu.


Sonu segera pergi membawa barangnya ke kamar tersebut, setelah mandi dan makan ia memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum berkeliling desa itu.


Tepatnya setelah matahari tenggelam, dimana kesunyian merajai tempat itu. Sonu memulai dengan berjalan disepanjang jalan utama, melihat setiap toko yang tutup dan rumah dengan jendela dan pintu terkunci.


Rupanya orang-orang didesa itu benar-benar dibuat takut oleh makhluk ini, Sonu tentu dapat mengerti sebab mereka hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan kecuali beternak dan bertani.


Untuk beberapa saat ia menemukan beberapa jebakan kecil dan alarm buatan didekat kandang babi dan hewan ternak lainnya, rupanya meskipun takut mereka tetap sayang pada ternaknya hingga tak mau kehilangan lagi.


Pencarian berlanjut dengan menyusuri area pinggiran hutan, karena hujan ia harus berhati-hati agar tak terjatuh. Sejauh ini tak ada yang mencurigakan, mungkin ia harus masuk lebih dalam lagi.


Srek Srek


Tiba-tiba sebuah suara menghentikan labgkahnya, dengan cepat ia memasang telinga agar dapat mendengar dengan jelas suara apa yang barusan ia dengar.


Srek Srek


Kali ini suaranya terdengar lebih jelas, Sonu telah mengetahui dari mana asal suara itu dan bergegas menghampirinya. Sebisa mungkin ia meredam suara pergerakan kakinya agar apa pun yang barusan menimbulkan suara tidak menyadari keberadaannya.


Srek Srek

__ADS_1


Kali ini suaranya lebih jelas, perlahan ia berjalan dibalik semak-semak hingga akhirnya menemukan apa yang sedang ia cari. Makhluk itu disana, berjalan dua langkah lalu menengok kekiri dan kekanan seperti ayam. Saat ia hendak berjalan lagi mata merahnya tanpa sengaja melihat kearah Sonu dan, "Sial!" teriak Sonu kesal.


__ADS_2