Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 36 Dermadeus dan Maesa


__ADS_3

Seharusnya urusannya dengan Madam belum selesai, dia masih harus bekerja untuk Madam sebagai asistennya. Tapi Madam sendiri yang menyuruhnya untuk pergi menyusul sebab terlalu khawatir pada kondisi Patricia, dan ternyata kekhawatiran Madam benar terjadi.


Patricia sekarang lebih mirip mayat hidup saking kurusnya, bahkan Estes sempat tak mengenali Patricia untuk beberapa detik karena perubahan itu.


Kini mereka harus menempuh jarak puluhan ribu meter yang setidaknya akan memakan waktu seharian penuh untuk sampai di danau, jika tubuh Patricia kuat mereka akan sampai tepat waktu.


Tapi tidak, Patricia tidak mampu melakukannya. Baru dua jam berjalan padahal ia menunggangi kuda tubuhnya yang lemah tiba-tiba merosot dan hampir jatuh jika Estes tidak sigap memegangnya.


"Kita butuh istirahat," seru Estes sambil membantu Patricia turun dari kuda.


Tak ada pilihan, mereka harus berhenti demi Patricia. Melanjutkan perjalanan setelah Patricia berkata ia siap nyatanya beberapa jam kemudian mereka kembali beristirahat, pada akhirnya mereka butuh dua hari untuk sampai.


Jacy yang memimpin adalah orang yang pertama girang saat menatap danau Lyas, sebuah hamparan air tenang berwarna hijau di tengah hutan.


"Kita sampai," umumnya pada yang lain.


Ada rasa haru saat menatap danau itu mengingat perjuangan mereka untuk mencapainya, terlebih bagi Emily yang baru pertama kali melakukan petualangan.


"Patricia... apa kau siap untuk ini?" tanya Sonu.


Dengan lemah Patricia menunduk, meski mungkin tenaganya hampir habis tapi tidak dengan tekad sembuhnya.


Tanpa ingin membuang waktu Sonu memerintahkan Jacy untuk menyiapkan Patricia sementara ia menyelaman untuk mencari botol djin, Jacy hanya perlu membuat pentacle dan mengajari Patricia apa yang harus ia lakukan.


"Aku mendapatkannya!" Sonu sambil berenang keluar dari danau.


"Mari kubantu," ujar Emily mendekat.


"Botol ini berisi djin?" tanyanya melihat dengan seksama kendi kecil yang nampak kotol dan berkarat.


"Yeah," sahut Sonu.


"Kau siap?" tanyanya kepada Patricia.


Sejenak Patricia menatap Sonu sebelum ia akhirnya menganggukkan kepala, maka Jacy pun menggambarkan sebuah bentuk cawan di kening Patricia untuk memulai ritual.


"Ingat untuk tidak memberikan namamu, dia bisa menggunakan nama mu untuk menyerang balik. Cukup perintahkan dia," ujar Jacy untuk terakhir kalinya.


Patricia mengangguk tegas, melihat semua orang yang mulai berdoa untuknya ia pun duduk tepat dihadapan pentacle.


Segera botol itu ia taruh diatas pentacle dan mulai membaca mantra yang telah Jacy ajarkan, setiap rapalan mantra itu sangat penting yang mempengaruhi isi botol.


Secara perlahan meski tak ada angin tapi botol nyata bergerak, bergetar kian hebat saat Patricia semakin lugas dalam membaca mantra. Hingga pada puncaknya tutup botol itu terbuka sendiri, mengeluarkan asap tebal yang mulai mengaburkan pandangan.


Terus membaca mantra Patricia melihat sebuah tangan besar keluar dari botol itu, kukunya yang setajam belati mengkilat seakan siap untuk menyayat apa pun.


Jiwanya yang mulai goyah karena rasa takut akak tekanan itu mulai membuat bibirnya bergetar, tapi ia harus kuat dan terus membaca mantra sampai djin itu benar-benar menampakkan diri.


Saat tangah kedua keluar udara seakan menipis yang membuat Patricia mulai sulit untuk bernafas, matanya yang mulai berair menatap sekeliling dan menyadari waktu tengah berhenti.

__ADS_1


Ia bisa melihat jelas daun yang melayang diatas udara tak bergerak sedikit pun, begitu juga dengan semua temannya yang bagai patung.


Ssshhhhhhhhhhhhh


Itu adalah sebuah hembusan nafas yang keras, cukup membuat Patricia kaget sampai ada jeda dalam pembacaan mantra. Matanya yang satu tiba-tiba tajam melotot pada sosok yang menyembul keluar dari botol, dengan kepala botak pelontos berwarna hitam kemudian sepasang mata merah menyeramkan dibawah kening.


Belum pernah Patricia melihat sosok yang menyeramkan seperti itu, yang bahkan sanggup membuatnya merinding sebab ada tekanan yang kuat.


"Siapa yang berani memanggilku?" tanya suara serak yang berasal dari djin itu.


"Aku.... aku... adalah tu-tuan mu! ku.. perintahkan kau... untuk memberitahu nama mu," ujar Patricia terbata.


"Hmm.... " djin itu memiringkan kepala saat mentap Patricia seolah sedang meneliti benarkah ia yang sudah memanggilnya.


"Akan ku beritahu jika kau memberitahu namamu," ujarnya kini dengan suara menggelegar.


"Sebagai tuan mu ku perintahkan kau untuk memberitahukan nama mu!" seru Patricia kini dengan lebih lantang dan tenang.


Apa pun yang terjadi dia tidak boleh memberitahu namanya, karena itu ia harus menghadapi ketakukan itu dan membuat djin tunduk akan perintahnya.


"Aku adalah Dermadeus," jawab djin itu akhirnya.


"Dermadeus, aku perintahkan kau untuk menyingkirkan kutukan yang ada dalam diriku."


"Sesuai keinginan anda tuanku, tapi apa balasan untuk hal ini?"


"Pembebasan!" seru Patricia.


Juga seorang wanita yang telah memberinya makan, mendapati ada tamu tak di undang jelas wanita itu tak senang akan kehadiran Dermadeus.


"Siapa kau berani masuk kesini?" tanya wanita itu dengan suara halus namun tajam.


"Tuan ku memberi perintah agar kau segera meninggalkan tubuhnya," jawab Dermadeus tegas.


"Ini bukan urusan mu!" seru wanita itu.


"Ini menjadi urusan ku!" balas Dermadeus tegas.


Dalam sekejap mata wanita itu bergerak bagai asap dan meluncur cepat ke Dermadeus, memberinya sebuah pukulan kuat yang mampu membuat tubuh besar Dermadeus mundur beberapa langkah.


Itu adalah sebuah pertarungan tekanan tanpa darah yang baru Patricia lihat, meski hanya ada pukulan dan rendang tapi tekanan yang mereka keluarkan sangat kuat hingga membuat Patricia ambruk.


Darah keluar dari mulutnya dengan hebat, sementara kepalanya berdeyut seakan hendak meledak. Dengan nafas terengah ia menatap pertarungan masih berlangsung dengan hebatnya, dua makhluk itu terus memberi serangan terbaik mereka sambil melayang ke sana sini.


Brrhhuuuuhhh uhuk uhuk uhuk


Lagi Patricia muntah darah, perutnya seakan bergejolak dengan rasa nyeri yang tak tertahankan. Saat tubuhnya telah mencapai puncak energinya matanya yang terasa berat sudah hampir tertutup, tapi Dermadeus memanggilnya dan mengatakan wanita itu telah kalah.


"Tuanku, semuanya sudah selesai," ujar Dermadeus.

__ADS_1


Memaksakan diri untuk bangun Patricia menatap wanita itu terkapar di tanah tanpa daya, menatapnya dengan mata lirih seakan meminta pertolongan.


"Tuanku... kau tidak boleh melakukan ini padaku, kita sudah terikat perjanjian. Kau sudah makan makanan ku maka sebagai gantinya aku boleh memakan jiwamu," ujar wanita itu.


"Kau tidak boleh memakan jiwaku," sahut Patricia.


"Aku mohon tuan ku, perjanjian tidak boleh dibatalkan secara paksa! kau tidak bisa melakukan ini padaku!" erangnya.


"Kau menggodaku! kau yang menyuruhku untuk memakannya!" seru Patricia hampir marah.


"Bukankah kau yang memanggilku? lalu kenapa kau ingin membuat perjanjian dengan ku?" tanyanya.


Seketika Patricia sadar apa yang telah ia lakukan, itu adalah sebuah kecelakaan yang tak bisa di hindari sebab ia tak tahu sihir itu akan berhasil.


"Tuanku... jika kau memutuskan perjanjian dengan paksa aku akan menjadi ruh jahat yang tak tenang, aku mohon... " rengek wanita itu.


"Dermadeus, apa yang harus aku lakukan?" tanya Patricia yang tak bisa melihat sebuah ketidakberdayaan di depan matanya.


"Tuan ku jika anda melakukan hal yang sama pada perjanjian kita aku pun akan berbuat sama dengan ruh ini, pikirkan apa yang anda inginkan dan buatlah keputusan yang tepat."


Patricia berfikir, menimang dan saat ia penasaran akan satu hal ia pun bertanya, "Apa yang bisa kau lakukan untuk ku?"


"Hamba bisa menjadi senjata mu, saat dalam keadaan darurat panggil hamba dan hamba akan datang sebagai senjata. Seperti bagaimana anda membunuh monster ular itu,"


"Apa maksud mu?" tanya Patricia bingung sebab wanita itu tahu tentang monster ular.


"Tuan ku telah memanggilku maka hamba datang sebagai ketajaman dan ketepatan sehingga anda berhasil melakukannya," jelasnya.


Berfikir Patricia mengerti maksud dari ucapan wanita itu, setelah banyak menimbang akhirnya ia pun berkata.


"Baiklah, aku akan mengijinkan mu tinggal. Tapi aku akan merubah perjanjian kita, mulai saat ini kau mengabdi padaku tanpa memakan jiwaku. Sebagai gantinya setelah aku mati kau boleh mengambil mata kiriku, bagaimana?."


"Sesuai dengan keinginan tuanku."


"Kalau begitu mulai saat ini kau ku panggil Maesa!" serunya.


"Maesa siap melayani," ujar wanita itu segera memberi hormat.


Sementara Dermadeus yang baru pertama kali melihat manusia membuat perjanjian dengan ruh kagum akan keberanian Patricia, tergoda pula untuk melihat bagaimana Patricia akan menggunakan ruh itu.


"Tuan ku, jika diinjinkan biar hamba juga mengabdi," ujarnya sambil bersimpuh.


"Kenapa Dermadeus? kau pun ingin bagian dari tubuhku?" tanya Patricia.


Dermadeus hanya menunduk tanpa kata.


"Apa yang bisa kau lakukan untuk ku?" tanya Patricia.


"Segala yang anda perintahkan," jawab Dermadeus dalam.

__ADS_1


"Kalau begitu setelah aku mati kau bisa mengambil kaki kananku," sahut Patricia.


__ADS_2