
Hari yang begitu membosankan sampai Patricia merasa akan mati kaku dikehidupannya ini, tak ada yang begitu menarik walau desanya memiliki pemandangan indah dan sungai yang jernih.
Bahkan hutan terdalam yang dekat rumahnya pun tak begitu menarik tanpa Sonu, setiap hari ia hanya membantu pekerjaan Benjamin dan mendengar angan konyol Emily tentang syair romantis.
Sudah sejam lebih tangannya masih memilah biji jagung dengan mata kosong, benaknya yang bergentayangan membuatnya tak sadar Benjamin berdiri dibelakangnya sejak tadi.
"Kapan kau akan selesai dengan jagung itu?" tanya Benjamin akhirnya.
"Oh, kakek! aku sudah selesai," sahut Patricia tersadar.
"Benarkah? kalau begitu berhak mendapatkan hadiah dariku," ujarnya.
Patricia menatap heran karena memilah jagung adalah pekerjaan mudah yang tak perlu diberi hadiah, tapi melihat senyum nakal Benjamin ditambah sepucuk surat yang ia keluarkan dari balik punggungnya barulah ia sadar.
"Kakek! apakah itu surat dari Estes?" terkanya dengan antusias.
Benjamin mengangguk sambil menyerahkan surat itu.
Aaaaaaaaaaa...
"Akhirnya... aku akan kembali nanti!" soraknya.
Benjamin hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya itu, memaklumi gelora muda sebab ia pun pernah merasakannya.
Perasaan senang saat seseorang yang kau tunggu akhirnya memberimu kabar lewat surat, di kertas kusam itu terlampir kata demi kata yang membuat jantung mu berdebar sangat kencang.
Mata Patricia bergerak sangat cepat menatap setiap kata dengan bibir yang bergumam, membaca pesan yang ditulis Estes.
"Salam sejahtera,
Aku harap kau dalam keadaan baik, maaf karena aku baru mengirimimu surat. Setelah datang ke istana banyak pekerjaan yang membuatku bahkan sulit untuk makan dengan tenang, saat ini keadaan istana agak sedikit kacau. Beberapa anak hilang tanpa jejak, Yang Mulia telah memberi titah untuk menyelesaikan masalah ini. Dan aku terpilih dalam regu pencarian, artinya tentu aku akan sibuk mencari anak-anak malang itu.
Oleh karena itu aku ingin minta maaf sebab sepertinya aku tidak bisa sering-sering mengirimimu surat, aku harap kau tidak marah.
Baiklah, sebagai gantinya aku akan memberimu hadiah saat aku pulang nanti.
Semoga kau selalu dalam perlindungan Tuhan.
Sahabat mu, Estes."
__ADS_1
Sebuah pesan yang begitu singkat, hanya butuh waktu tiga menit saja untuk membacanya. Benar-benar tidak sebanding dengan penantiannya, itu membuat Patricia membaca ulang bahkan sampai tiga kali demi memuaskan rindunya.
Setelah selesai ia hanya bisa menghembuskan nafas panjang, membayangkan bagaimana Estes bekerja mencari anak-anak malang itu.
Tanpa sadar perlahan matanya tertutup, hembusan angin lembut yang masuk lewat jendela mengantar ruhnya pada satu alam yang disebut mimpi.
Sementara kegelapan yang awalnya ia lihat kini berubah menjadi suasana rumahnya yang dulu, di hadapannya lilin menerangi lauk yang telah disiapkan ibunya untuk makan malam.
"Ingat untuk makan secara perlahan," ujar ibunya dengan lembut.
"Kau seorang gadis Patricia, bahkan teman-teman mu sudah memberikan cucu kepada ayahnya," gurau ayahnya sambil tersenyum.
"Ayah!" rengeknya yang mengundang tawa kedua orangtuanya.
Dilanjutkan dengan senyum doa pun dipanjatkan untuk makanan mewah yang malam ini dapat mereka nikmati, ia menundukkan kepala dan berdoa dengan khidmat.
Mengucap syukur bukan hanya karena makanan tapi juga kebahagiaan yang begitu sempurna, setelah selesai ia membuka mata untuk mulai makan.
Tapi tangannya dipenuhi dengan noda darah, begitu merah mengkilap dibawah cahaya. Bingung ia menatap kedua orangtuanya yang ternyata sudah habis terkoyak, aroma amis menebar di seluruh ruangan yang begitu mencekik tenggorokan.
Panik, Patricia berusaha membangunkan kedua orangtuanya. Mengguncang tubuh mereka dengan cukup keras, tapi hal itu hanya membuat isian perut mereka tumpah ke lantai.
Aaaaaa....
Gelap, lembab, kamarnya berbau embun yang dingin tapi menyegarkan. Itu membantu pikirannya jernih lebih cepat, saat menoleh kebelakang rupanya ia tertidur dengan sangat lama hingga pagi menjelang.
"Aku melewatkan makan malam ku," gumamnya.
Tapi mimpi buruk itu membuatnya tak lapar sedikit pun, bergegas ia bangun dan mulai mengerjakan tugas rumah seperti biasa. Menjelang siang ia menemui Emily dirumahnya, rupanya Emily sedang bersiap akan pergi ke penginapan milik pamannya.
"Dia akan pergi beberapa minggu dan menyuruh ku untuk menjaganya, untungnya aku sudah terbiasa jadi walaupun mendadak aku masih bisa mengatasinya," kata Emily bercerita.
"Kalau begitu aku benar-benar kesepian," sahut Patricia.
"Hei! kenapa kau tidak ikut saja denganku?" tanya Emily.
"Bolehkah?" balas Patricia.
"Kenapa tidak? justru bagus karena aku punya teman," jawabnya.
__ADS_1
Mendengarnya Patricia kembali bersemangat, dengan tak sabar ia meminta ijin kepada Benjamin. Jika itu bersama Emily dengan mudah Benjamin memberi ijin, itu karena ia tahu Emily tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya atau aneh.
Tak butuh waktu lama bagi Patricia untuk mengemas barangnya, itu karena ia hanya pergi selama beberapa minggu saja sehingga yang ia perlukan hanya membawa pakaian. Dia juga membawa surat dari Estes untuk dia baca ulang jika merindukan sahabatnya itu.
Perjalanan menuju penginapan itu membutuhkan waktu selama dua hari dengan kereta kuda, selama perjalanan Patricia menikmati pemandangan seolah ia baru keluar dari gua.
Saking bersemangatnya bahkan setelah mereka sampai tanpa lelah Patricia mulai membersihkan kamar-kamar yang kosong, melayani tamu mereka hingga memasak dan mencuci.
Sementara Emily bertingkah seperti bos, hanya menunjuk apa yang harus Patricia lakukan.
"Patricia, bisakah kau pergi belanja? kita kehabisan kubis dan kentang," tanya Emily suatu pagi dengan nada lebih mirip perintah.
"Tentu, ada yang lain?" jawabnya.
"Sepertinya tidak ada."
"Baiklah aku pergi dulu," ujarnya.
Ini adalah kali pertama ia pergi ke kota sendirian, biasanya ia akan pergi bersama ayahnya untuk menjajakan dagangan. Kini ia bebas melihat dan menjelajah pasar tanpa ada yang mengomel, walau sebenarnya ada sedikit rasa rindu akan omelan ayahnya itu.
"Nona mampirlah! lihat wortel ini sangat segar!" teriak seorang pedagang.
"Hanya dua koin saja aku akan memberimu sekantong ubi, hanya dua koin!" teriak yang lain pula.
Patricia hanya tersenyum, ia tak membutuhkan dua barang itu sehingga menolaknya secara halus. Tiba di kedai penjual kentang ia mulai memilih kentang yang bagus, menawarnya dengan harga murah seperti yang biasa dilakukan para wanita kepada ayahnya.
Berhasil mendapatkan kentang kini ia hanya tinggal membeli kubis, tapi perhatiannya teralihkan oleh seorang anak kecil yang menarik bajunya. Saat menengok anak kecil itu mengulurkan tangannya, dengan tatapan sedih ia menunggu Patricia memberinya beberapa koin.
"Aku akan memberimu roti, bagaimana? kau mau?" tawarnya.
Sejenak anak kecil itu berfikir, tapi kemudian dia mengangguk. Patricia pun membawanya pergi ke kedai roti, membelikannya dua roti ukuran besar dan segelas minuman.
"Makan perlahan," ujarnya mendapati anak itu makan dengan cepat.
"Bolehkah aku membawa roti ini untuk temanku?" tanya anak itu tiba-tiba.
"Tentu! kau bisa memberinya juga," sahut Patricia.
Anak itu tersenyum dan segera berlari pergi, sementara Patricia masih duduk disana menatap bahu kecil yang sudah nampak kokoh. Ia sering menemukan anak-anak seperti itu di pasar, saat ia ikut ayahnya berdagang. Setiap hari mereka selalu meminta pada orang-orang di pasar, dan ayahnya selalu bilang agar lebih baik memberi makanan atau pakaian sebab jika uang terkadang saat mereka membelikannya pemilik kedai akan berfikir mereka mencuri.
__ADS_1
Pada akhirnya anak-anak itu akan dipukul bahkan ditendang, sangat miris memang tapi itulah kenyataannya. Melihat bagaimana anak-anak itu begitu kuat menjalani hari tiba-tiba mengingatkannya pada tugas Estes.
Larut dalam lamunan ia kembali melihat anak yang dia beri roti berjalan dengan seorang anak lain yang ia terka adalah temannya, mereka berjalan terus kearah ujung pasar hingga seorang pria berpakaian serba hitam mengajak mereka bicara.