Sonu : Legenda Telah Kembali

Sonu : Legenda Telah Kembali
Bab 23 Monster Ular Phovouse


__ADS_3

Patricia terbangun karena tangan dingin Emily, saat ia membuka mata Max sudah tak ada disampingnya sementara mereka memberi tatapan takjub.


"Kau melakukan ini sendirian?" tanya Jacy.


"Tidak, Max membantuku."


"Max? siapa dia?" tanya Sonu.


"Kaki Besar," sahut Patricia pelan.


Sonu dan Jacy saling menatap, tak percaya pada ucapan Patricia karena mereka tahu makhluk itu tak akan pernah muncul dihadapan manusia.


"Sudahlah sebaiknya kita lanjutkan perjalanan," ujar Sonu.


Emily mengangguk setuju, ia pun membantu Patricia bangkit untuk melanjutkan perjalanan. Setelah sebelumnya sarapan dengan memakan sebutir buah apel, tidak mengenyangkan tapi cukup memberi energi.


Hari berlalu dalam perjalanan tanpa ada rintangan berarti, dan Patricia masih menjadi gadis pendiam yang penurut. Saking pendiamnya bahkan Sonu sampai merasa heran hingga khawatir sebab bukan ini gadis yang menyelematkannya waktu itu.


"Ini tempat yang bagus untuk bermalam," ujar Jacy menunjukkan sebuah susunan bebatuan yang bagai benteng.


"Yeah, kalau begitu aku akan mencari makan malam," sahut Sonu.


"Aku akan mengumpulkan kayu bakar," balas Jacy.


Mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu sementara Emily sedikit merapihkan tempat itu agar lebih nyaman untuk ditempati, namun melihat Patricia yang hanya diam bagai patung membuat Sonu terdiam.


"Patricia!" panggilnya.


Patricia menoleh, melihat dengan cekung matanya yang kosong.


"Kau ingin ikut berburu dengan ku?" tawarnya.


Awalnya Patricia mengangkat alis seolah ia salah dengar, tapi perlahan senyumnya mengembang dan kemudian mengangguk.


"Tetap dekat denganku," ujar Sonu.


Mereka mulai menyusuri hutan itu, melebarkan telinga untuk mendengar setiap suara sekecil apa pun layaknya pemangsa. Ini membuat Patricia kembali merasakan sedikit gairah, hingga senyum kecil itu bertahan di bibirnya.


"Kau baik?" tanya Sonu tiba-tiba.


"Hah? ya," sahut Patricia.


"Bagus"


"Kenapa?" tanyanya merasa heran akan pertanyaan itu.


"Tidak ada, hanya saja kau menjadi lebih pendiam karena itu aku pikir kutukan itu mulai menggerogoti semangat mu," sahutnya yang membuat Patricia berhenti.


Ditatapnya punggung seorang pria yang sudah menimbun jasa padanya, sadar Patricia tak ada disampingnya Sonu berbalik dan melihat sorotan mata yang begitu pilu.


"Mungkin ya, tapi yang jelas kutukan ini sudah memakan habis egoku. Setelah mendengar apa kata Madam aku sadar bahwa ternyata aku hanya orang bodoh, andai kau tak datang mungkin sekarang kakek sudah menjadi sebatang kara,"


Jelas Sonu melihat penyesalan yang sangat dalam dimata Patricia, sebuah penyesalan yang merenggut gadis ceria darinya.


"Itu bagus, aku senang kau menyadari kesalahanmu," sahut Sonu dan mulai berjalan kembali, tapi baru beberapa langkah tiba-tiba ia berhenti.


Sebuah suara samar ia dengar, gemerisik dedaunan dan ranting patah yang terinjak. Atau sebenarnya terlindas, saat ia mengetahui ada sebuah ancaman datang dengan cepat ia menarik tangan Patricia untuk berlindung.

__ADS_1


"Tetap disini!" ujarnya.


Sssshhhhhh


Baru saja Sonu membalikkan badan makhluk itu sudah berdiri tepat didepannya dengan mata abu-abu yang cantik tapi mematikan, seekor ular phovouse adalah jenis monster agresif dan beracun.


Sepasang tanduk yang mencuat dikepalanya adalah yang paling beracun dari taringnya, bahkan sisiknya yang tebal dan kasar dapat menyayat daging dengan mudah karena itu makhluk itu sering diburu para pangeran untuk diambil sisiknya.


Sssshhhhhh


Berdesis ular itu meliuk-liuk siap melancarkan serangannya, begitu juga dengan Sonu yang telah mengambil pedangnya. Perlahan ia berjalan memutar agar Patricia terhindar dari efek pertarungan mereka, saat mendapat posisi yang tepat barulah Sonu mengambil langkah pertama untuk menyerang.


Sshhrrrrrrrr


Trang


Cara cepat menghabisi makhluk itu adalah dengan menusuk bawah kepalanya, tapi tentu itu tidak mudah sebab seolah tahu kemana Sonu mengincar makhluk itu menunduk hingga pedangnya mengenai tanduk.


Mundur beberapa langkah Sonu mencoba membaca pergerakan ular itu agar mendapatkan kesempatan lagi, serang demi serangan pun ia lancarkan dengan penuh perhitungan.


Trang Trang Trang


Tapi ular itu lebih pintar dari yang ia kira, dia terus mematahkan serangan Sonu dengan tanduknya.


Trang


Whuuuusss Jleb


Sampai pedang Sonu terpental dan jatuh menancap tanah jauh dari jangkauannya.


"Ah!" pekik Sonu saat hampir saja ekor ular itu menghantam tubuhnya.


Syuuuuttt Trang


Tiba-tiba sebuah anak panah meluncur, meski tak berhasil melukai ular itu tapi berhasil menarik perhatiannta dari Sonu.


"Kau baik?" teriak Jacy yang baru muncul.


"Kau datang disaat yang tepat!" sahut Sonu.


Jacy tersenyum bak pahlawan congkak, kembali menarik busurnya untuk memberikan serangan lain sementara Sonu berlari mengambil pedangnya.


Kembali tim ksatria bayaran itu bertarung bersama, saling menguatkan dan membakar semangat. Kini Sonu pun tersenyum meski ia mendapat beberapa luka di tubuhnya, kehadiran Jacy telah melengkapi gaya bertarungnya sehingga ia begitu menikmati petarungan itu.


Sayangnya meski dengan kehadiran Jacy kehebatan ular itu masih tak tertandingi, ia tak kewalahan meski harus melawan dua ksatria sekaligus.


Trang Trang Trang


Syuuuuttt Syuuuuttt


Sonu terus menyerang dengan pedang sementara Jacy dengan panah, dua senjata ini memang memberikan beberapa luka sayatan ditubuh ular itu tapi tak mengurangi kekuatannya.


Brrhhhuuusss Bruk


Sampai Jacy jatuh tersungkur akibat hantaman ekor ular itu, badannya yang jauh terlempar hingga depan Patricia membuat Patricia semakin cemas akan keselamatan mereka.


"Begitu, kau merasa hebat hah?" tutur Jacy meninggalkan busur dan panahnya.

__ADS_1


Menarik pedang kesayangannya ia kembali bangkit dan berlari untuk membalas, bersama dengan Sonu ia menambah kecepatan baik dari serangan atau pun larinya.


Mengimbangi gesitnya ular itu, sementara Patricia menonton dari balik batu. Sayangnya menambah kecepatan saja tak cukup, ular itu tak memberi tanda-tanda akan menyerah atau lelah meski tubuhnya sudah bersimbah darah akibat banyaknya sayatan.


Mereka tahu sebanyak apa pun serangan yang mereka berikan tak akan berpengaruh selama tanduk itu masih menempel di kepalanya, karena itu satu-satunya jalan adalah cepat menusuk bagian bawah kepalanya.


Dalam pertarungan sengit itu entah mengapa Patricia tiba-tiba teringat pada Max, makhluk Kaki Besar yang membantunya membuat jalan untuk mereka lewati.


Malam itu ia telah mencurahkan isi hatinya kepada Max dan Max menjawab dengan tindakan yang membuat perasaannya jauh lebih baik.


"Benar, selamanya aku akan merasa bersalah karena telah merepotkan mereka. Setidaknya meski berbahaya tapi aku harus membantu," gumam Patricia memutuskan.


Segera ia mengambil busur dan panah milik Jacy, ini adalah kali kedua ia memegang senjata setelah untuk pertama kalinya berburu dengan Sonu.


Melihat bagaimana cara ular itu melindungi bagian bawah kepalanya Patricia sadar mereka harus memaksa ular itu menengadah.


"Jacy! incar ekornya!" teriak Patricia sambil berlari menghampiri mereka.


Sadar Patricia hendak membantu Sonu tiba-tiba merasa khawatir gadis itu akan terluka, tapi tak ada waktu untuk menasehati maka ia hanya bisa terus membuat ular itu sibuk dengannya.


Jacy menurut, dengan cepat ia berlari kebelakang untuk menghentikan pergerakan ular itu dengan menusuk ekornya.


Sssshhhrrrrr


Sebuah desisan panjang memberitahu mereka bahwa ular itu merasa kesakitan, mendapat kesempatan Sonu meloncat dengan cukup tinggi untuk menusuk matanya.


Mengikuti pergerakan Sonu makhluk itu tak sadar akan keberadaan Patricia yang berlari ke arahnya, dan saat ia menengadah sambil membuka mulut siap melahap Sonu Patricia meluncur sambil menarik busurnya.


Hhhhhhhhhhh


Didetik yang menegangkan sebab ini adalah kesempatan emas yang sulit mereka dapatkan Patricia menghembuskan nafas panjang, fokus pada bagian bawah kepala ular itu yang tepat berada di atasnya.


Hanya ada satu kali kesempatan.


Syuuuuuuttt JLEB


Sshhhhhrrrrrrr


Sonu berhasil menusuk mata ular itu.


Bruk


Dan Patricia berhasil menusuk inti kehidupan ular itu, terengah-engah ia menatap bagaimana makhluk itu ambruk menyisakan bangkai yang besar.


"Whooooaaahh... kau berhasil! panah mu tepat sasaran!" sorak Jacy menghampirinya.


Patricia tersenyum senang masih tak percaya ia membidik dengan tepat.


"Aaaaahhh malam ini kita akan pesta besar!" seru Jacy mendekati bangkai ular itu.


Sementara Sonu yang telah mengambil pedangnya kembali berjalan menghampiri Patricia dengan wajah serius, senyum diwajah Patricia pun lenyap seketika.


"Jangan berlaga sok seperti pahlawan kesiangan! lain kali datanglah lebih cepat, aku hampir kehilangan nyawaku," ujar Sonu yang membuat Patricia termangu.


Butuh beberapa detik sampai ia mengerti maksud Sonu, senyum itu pun kembali dan dengan senang ia menjawab.


"Aku mengerti."

__ADS_1


__ADS_2