
Seperti yang di katakan Jacy, tidak mudah melewati gunung bebatuan itu sebab jarang ada pohon tinggi yang bisa mereka gunakan untuk berteduh di kala siang hari. Dengan kondisi medan yang cukup terjal Sonu juga benar-benar tidak melepaskan pegangan tangan Patricia, takut gadis itu akan terjatuh.
"Lihat! kita bisa beristirahat di sana!" seru Jacy menunjuj sebuah tumpukan bebatuan.
Mereka pun mempercepat langkah agar segera sampai, di bawah panasnya terik matahari bahkan persediaan air mereka mulai menipis padahal baru sehari jalan.
"Kalian istirahatlah, aku mau lihat keadaan sekitar," ujar Sonu.
Ia hanya minum satu tegukan untuk membasahi kerongkongannya, setelah itu pergi untuk melihat keadaan sekitar.
"Jika keadaan Patricia tetap stabil seperti sekarang besok sore kita sudah bisa tiba di hutan dengan mata air melimpah," ujar Jacy menghampiri.
"Aku harap semua akan baik."
"Heh, aku tak menyanga gadis-gadis itu dapat bertahan sejauh ini, ku kira mereka akan merengek di hari pertama," ujar Jacy dengan senyum kecil.
"Itulah mengapa kau tidak boleh meremehkan wanita."
"Ya, apalagi Patricia. Sungguh aku tidak menyangka dia sangat pemberani dan cekatan sampai bisa membantu kita melawan monster ular," kata Jacy mengingat kembali.
"Itulah mengapa aku pergi darinya secara diam-diam, dia terlalu berani mengambil resiko hingga bisa membahayakan nyawanya."
"Mm, kau benar!" ujar Jacy setuju.
Mengetahui merema sudah dekat dengan hutan Sonu pun tak ingin membuang waktu, ia rela menggendong Patricia agar bisa cepat sampai disana.
Sedikit merepotkan memang, tapi baginya ini cara terbaik untuk menghemat waktu dan persediaan air mereka yang sudah menipis. Berjalan selama berjam-jam dan hanya beristirahat beberapa kali akhirnya mereka tiba di hutan esok paginya, segera mereka pun mencari tempat istirahat yang aman dan sumber mata air.
Sonu yang tenaganya sudah habis memilih untuk tidur sementara Patricia dan Emily mencari buah-buahan untuk kudapan mereka, hutan itu ternyata lebih rimbun saat mereka masuk lebih jauh ke dalam.
Dan dengan mudah mereka bisa menemukan beberapa jenis buah-buahan seperti apel dan blueberry, senang menemukan banyak blueberry tanpa sadar Patricia terus berjalan untuk memetik buah yang bagus.
Hhhhssss
Tiba-tiba sebuah hembusan nafas yang berat menyadarkannya, dengan waspada ia menatap sekeliling.
"Emily!" panggilnya, tapi yang menyahut hanya hembusan angin.
"Ini tidak lucu Emily!" teriaknya kesal.
__ADS_1
Tapi tetap sekitarannya hening hingga membuatnya memutuskan untuk memeriksa, dengan perlahan disingkapnya semak-semak sampai akhirnya ia menemukan sepasang kaki besar dan saat ia menatap keatas.
"Oh sial," gumamnya membeku sejenak.
Groooooorrr
Teriakan makhluk itu membuat tubuh Patricia dapat bergerak kembali, tanpa menundanya ia segera berlari menyelematkan diri.
"Patricia? ada apa?" tanya Emily bingung melihat sahabatnya lari tunggang langgang.
"Emily Ayo!" teriak Patricia tanpa ada waktu menjelaskan.
Srek Srek Srek Srek
Tapi makhluk itu terlanjur mendekat dan sebelum Emily sempat melarikan diri.
Buk
Makhluk itu menghempaskannya ke samping hanya dengan satu dorongan kecil dari tangannya yang besar.
"Emily!" teriak Patricia panik.
Tak bisa lari lagi karena Emily terancam Patricia memutuskan untuk melawan, hanya dengan sebatang kayu ia mencoba membuat makhluk itu takut.
Groooooorrr
Groooooorrr
Buk
"Ah!" pekik Patricia saat tubuhnya di hantam oleh telapak tangan makhluk itu persis seperti Emily.
Sayangnya kepala Patricia menghantam batang pohon yang membuatnya tak sadarkan diri, sementara Emily yang seluruh badannya terasa remuk mencoba untuk bangkit dan menyelamatkan temannya.
Tapi baru tangannya yang menggapai-gapai makhluk itu mendekati Patricia dan saat sebuah suara langkah cepat seseorang terdengar makhluk itu pun segera melarikan diri membawa Patricia.
"Emily!" seru Sonu begitu melihat gadis itu terkapar di tanah.
Bersama Jacy mereka segera membantu Emily.
__ADS_1
"Emily! apa yang terjadi?" tanya Jacy cemas sebab mereka mendengar teriakan itu.
"Goblin... uh, dia membawa Patricia," jawabnya lemah.
...----------------...
Mmmm
Ia mengerang, benturan di kepalanya kini memberi efek pening setelah dia sadar. Perlahan Patricia membuka mata, melihat dimana kini ia berada.
Aliran sungai tepat di bawah kakinya, sementara Goblin itu duduk di sampingnya yang membuat Patricia kaget saat bangun.
Hhhhhhh
Goblin itu menyodorkan sebuah kerang besar yang berisi air sungai, Patricia paham ia menyuruhnya untuk minum. Sedikit ragu Patricia akhirnya mau mengambil dan meminumnya, makhluk itu juga menyuruhnya untuk memakan buah pisang yang ia berikan.
"Terimakasih," ujar Patricia.
Perlahan Patricia memakannya sambil memperhatikan makhluk itu, Goblin adalah makhluk besar dengan warna kulit hijau. Biasanya mereka di pekerjakan oleh penyihir atau manusia sebab memiliki keahlian dalam membuat baja, mereka tidak bisa bicara dan satu-satunya cara mereka berkomunikasi adalah dengan bahasa isyarat.
"Apa itu sakit?" tanya Patricia menyadari sebuah luka di lengannya.
Goblin itu hanya mendengus.
"Boleh aku lihat?" tanyanya lagi.
Mereka saling menatap dengan cukup lama sampai akhirnya makhluk itu menyerahkan lengannya, dengan hati-hati Patricia pun memeriksanya.
"Oh, ini pasti sudah ada beberapa hari yang lalu," erang Patricia melihat nanah yang ada di sekitarnya.
Makhluk itu kembali mendengus, tak bisa acuh Patricia membersihkan luka itu dengan telaten. Cukup sulit karena rasa sakit yang timbul membuat makhluk itu hampir menghantamnya lagi, setelah bersih ia membalutnya dengan kain robekan dari bajunya.
"Jika kau bisa gantilah perbannya sehari sekali," ujar Patricia.
Goblin itu menempatkan tangannya di dagu sebagai isyarat ucapan terimakasih, Patricia tersenyum dan mengangguk.
"Tunggu! apa tadi kau mengejarku untuk meminta pertolongan?" tanya Patricia menyadari sesuatu.
Makhluk itu mengangguk yang membuat Patricia menyesal, ini adalah kali kedua ia berpapasan dengan makhluk lain dan terjadi kesalah pahaman.
__ADS_1
Kini setelah kesadarannya penuh mengertilah ia bahwa Goblin itu hanya mengejarnya untuk meminta bantuan sebab ia tahu manusia ahli dalam pengobatan, namun Patricia malah berlari ketakutan yang membuat makhluk itu panik dan lepas kendali hingga menghantamnya dan Emily.
"Maaf," hanya itu yang bisa Patricia ucapkan.