
Butuh keberanian besar rupanya untuk meninggalkan desa itu, terutama Patricia. Gadis ceria itu tak memberikan kedamaian baginya, kini ia harus hidup dengan kenangan tentangnya yang menggoda untuk kembali.
Tapi ia adalah ksatria yang memiliki hati, dan hati itu ia gunakan untuk menolong orang dengan caranya. Kini setelah menghabiskan dua hari tiga malam akhirnya ia sampai juga di rumah, sebenarnya bukan rumah sesungguhnya karena itu hanya kamar sewaan yang telah ia tempat selama beberapa tahun.
Ceklek
"Oh Sonu! kau sudah kembali?" teriak Jacy.
"Uh.... " erang Sonu.
Ia kembali menutup pintu, memberi waktu kepada gadis dalam pelukan Jacy untuk mengenakan pakaian. Setelah beberapa menit gadis itu keluar dan sempat tersenyum kepada Sonu, sementara Sonu membalasnya dengan ekspresi datar.
"Berapa kali aku harus mengatakannya? jangan bawa gadis ke kemari! kau tahu aku tidak suka bau parfume mereka," ujarnya kesal.
"Maafkan aku, kau pergi sangat lama jadi ku pikir kau tak akan segera pulang," sahut Jacy santai masih dengan bertelanjang dada.
"Ada banyak hal yang terjadi," ujarnya sambil menaruh barang-barang di atas meja.
"Sepertinya kau baru saja terlibat masalah," terka Jacy.
"Entah siapa tapi sekelompok orang menyerangku, mereka sangat berniat membunuhku."
"Sungguh? kapan itu terjadi?" tanya Jacy kini dalam mode serius.
"Setelah aku mengambil bayaranku, dalam perjalanan pulang itu tiba-tiba sekelompok orang menyerangku."
"Apa kau mengenali mereka?"
"Sudah ku katakan aku tidak mengenal mereka atau salah satunya, tapi cara bertarung mereka sangat hebat," jawabnya.
Jacy mulai berfikir keras, telunjuknya memijit-mijit kening sampai sebuah dugaan muncul dalam benaknya.
"Mungkinkah dia Marcus?" tanyanya.
__ADS_1
"Mengapa harus dia? dia orang yang membayarku untuk membasmi monster," tanya Sonu.
"Entahlah, hanya saja itu lebih masuk akal bagiku."
Sonu mulai memikirkan setiap kemungkinan yang ada, menyenderkan tubuhnya pada tembok dengan mata tertuju pada lantai tapi benaknya bergentayangan.
"Sudahlah yang penting kau selamat, sekarang mari kita rayakan kepulangan mu!" ajak Jacy sambil merangkul bahu Sonu.
Sonu menurut, mereka pergi ke tempat biasa menghabiskan waktu dengan minum. Itu adalah sebuah bar dengan pelayanan terbaik, ada banyak gadis muda yang siap melayani.
Karena ini adalah untuk merayakan kepulangan Sonu maka mereka memesan anggur terbaik yang ada, kebiasaan yang sudah menjadi kewajiban.
"Ngomong-ngomong kemana kau selama ini?" tanya Jacy yang baru teringat bahwa Sonu pergi terlalu lama.
"Sebuah desa kecil, seorang gadis cerewet menyelamatkan hidupku dan merawat luka ku selama beberapa hari."
"Oh seorang Sonu terluka cukup parah, aku bisa menjamin dia gadis yang sangat cantik menurut pandangan mu," ujar Jacy menemukan sebuah cerita menarik.
"Tidak ada, lalu apa saja yang kalian lakukan?" sahutnya.
"Hanya mengerjakan tugas kecil."
"Seperti apa?."
"Berburu, memotong kayu bakar," sahut Sonu.
"Kau mengencaninya?" tanya Jacy yang membuat Sonu melotot padanya.
"Aku hanya bertanya!" seru Jacy yang merasa terintimidasi.
"Kenapa aku harus mengencaninya? hanya karena dia menyelamatkan hidupku bukan berarti harus ada sesuatu diantara kami," jawab Sonu.
"Baiklah, santai saja!" sahut Jacy yang kemudian kembali minum.
__ADS_1
Tapi segala pertanyaan Jacy justru menciptakan kenangan yang kembali menganggu benak Sonu, itu adalah bagaimana sikap cerewet Patricia yang menjengkelkan.
Ia akui untuk pertama kalinya ia begitu merindukan seseorang, terlebih seorang gadis. Untuk seumur hidupnya yang bahkan telah tidur dengan beberapa gadis hanya Patricia yang memiliki magnet tersendiri, bahkan perasaannya untuk gadis itu sangatlah unik.
Berbeda dengan gesekan pada gadis umumnya, ia merasa ingin melindungi Patricia seolah gadis itu serbuk yang mudah tersapu angin. Bahkan ia tak suka saat Patricia sangat dekat dengan Estes padahal mereka adalah teman dari kecil.
Menggelengkan kepala Sanu mencoba menyingkirkan Patricia dari benaknya, bahkan ia menghabiskan minumannya dengan sekali teguk untuk memudahkannya.
"Hei, kenapa kau mengira Marcus yang menginginkan kematian ku?" tanya Sonu sekali lagi.
"Hanya menebak saja."
"Atas dasar apa?" tanyanya lagi.
"Orang-orang seperti kita hanya berurusan dengan monster, wanita dan pemberi imbalan. Yang menyerangmu adalah sekelompok manusia jadi monster bukanlah pelakunya, kini tertinggal wanita dan si pemberi imbalan. Mengingat kau tidak pernah punya masalah dengan wanita maka jawabannya hanya Marcus," jelas Jacy.
Itu cukup masuk akal, tapi atas alasan apa Marcus menyerangnya adalah hal yang sulit di jawab. Ia mengingat pria bernama Marcus adalah tipe yang menyenangkan, dia juga membayar sesuai kesepakatan.
Selain dari itu rasanya tidak ada hal yang mencurigakan darinya, ia juga merasa tidak melakukan kesalahan yang berpotensi membuat kliennya marah.
"Tapi kenapa dia menginginkan kematian ku?" tanya Sonu.
"Astaga... mana aku tahu! sudahlah! nikmati minuman mu selagi tenggorokan mu masih bisa menelannya," sahut Jacy yang tak mau pusing.
"Hai Jacy! mau minum lagi?" tawar seorang gadis pelayan sembari tersenyum.
"Tentu sayang, hari ini adalah perayaan kembalinya temanku. Tolong tuangkan untuk kami," sahutnya dengan nada lembut dan sebuah kedipan mata.
Gadis itu tertawa cekikikan, dengan sengaja ia duduk di atas meja untuk menampilkan gunung besar miliknya. Lalu menuangkan minuman dengan tubuh yang ikut condong ke depan, itu membuat mata Jacy tak bisa berpaling.
Saling tersenyum pada akhirnya Jacy kembali pada mode sang pujangga, tak butuh banyak rayuan sebab ia sudah memiliki banyak penggemar disana layaknya seorang bintang.
Sementara Sonu memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat, ia tak ingin mabuk seperti Jacy dan kehilangan kesadaran. Untuk saat ini begitu penasaran pada sekelompok penyerang dan ingin segera mengetahui siapa mereka, tentu ia juga harus mengetahui alasan dibalik penyerangan itu.
__ADS_1