
Tak butuh waktu lama bagi Patricia untuk menemukan buku itu sebab ia tahu persis dimana buku itu berada.
"Apa itu?" tanya Emily.
"Kau tidak tahu? kau tidak ingat?" balas Patricia.
Emily mengggeleng keras, tentu karena ia memang tak tahu benda itu ada.
"Ini adalah buku sihir milik keluarga mu," jawab Patricia yang membuat Emily semakin bingung.
Ia pun menceritakan semua hal yang pernah mereka lalui, petualangan yang dimulai dari buku sihir itu tapi Emily benar-benar tidak ingat. Ini cukup membuat Patricia prustasi, ia sangat yakin semua hal itu terjadi bukan sekedar mimpi biasa.
"Ini benar-benar tidak masuk akal!" keluhnya.
"Patricia, kau membuatku ngeri!" ujar Emily menatap bagaimana sahabatnya itu bertingkah.
Patricia menatap panjang pada langit biru yang luas, mencoba mencari jawaban diantara awan putih yang terus berarak sampai ia ingat seseorang yang mungkin mengetahui jawabannya.
"Emily dengar, aku butuh bantuan mu."
Glek
Dengan susah payah Emily menelan ludah, perasaannya sungguh tidak enak saat Patricia meminta pertolongannya. Patricia hanya meminta sebuah pertolongan kecil, ia hendak pergi ke kota dan untuk itu ia butuh Emily bicara pada orangtua mereka agar dapat ijin.
Awalnya Emily tentu menolak, masalahnya satu-satunya alasan hanya untuk mengunjungi pamannya dan jika mereka ketahuan berbohong maka habislah mereka.
Tapi Patricia meyakinkan mereka hanya akan pergi sebentar, setelah mendapat jawaban ia berjanji akan pulang sesegera mungkin. Akhirnya Emily pun setuju, mereka berangkat pagi sekali menggunakan kereta kuda.
Sepanjang perjalanan Patricia yang bungkam membuat Emily khawatir, tapi ia tak berani bertanya apa pun. Ia hanya memperhatikan bagaimana Patricia bertingkah dan mendapati ia pandai membuat api saat mereka harus beristirahat di hutan itu membuatnya heran.
"Kapan kau mempelajari ini?" tanyanya.
Patricia tertegun, meski ia suka petualangan tapi orangtua dan kakeknya selalu melarang dan mengurungnya. Pertanyaan Emily itu membuatnya sadar semenjak terbangun ia menjadi pandai menggunakan senjata dan segala hal ini, sepertinya petualangan itu telah memberinya banyak kelebihan.
"Baru-baru ini," sahutnya pelan.
Emily mengangguk pelan, melihat raut wajah Patricia yang kecut ia pun memilih untuk tidur. Esoknya mereka kembali melanjutkan perjalanan, dengan memacu kuda agar lebih cepat berjalan akhirnya mereka sampai saat matahari akan terbenam.
Emily yang untuk pertama kalinya menatap tenda megah berwarna ungu itu hanya membeku di luar, menatap takjub tanpa bisa mengedipkan mata.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Patricia.
"Oh, ya tunggu!" seru Emily segera berjalan mengikuti.
Patricia yang pertama kali masuk melihat bagaimana isi tenda itu sama persis seperti yang ia ingat, karpetnya, lampunya, mejanya.
"Hai, ada yang bisa aku bantu?" tanya Madam seraya tersenyum ramah.
Patricia tertegun, sadar bahwa Madam pun tidak ingat kepadanya.
"Aku pernah datang ke sini bersama Sonu dan Jacy, mereka meminta mu memeriksa ku dan ternyata hasilnya aku terkena kutukan," jelas Patricia yang membuat Madam mengerutkan kening.
"Sungguh? kenapa aku tidak ingat Jacy pernah mengajakmu?" tanya Madam.
"Itulah masalahnya, semua orang tidak ingat apa yang telah mereka lalui bersama ku."
"Ah, duduklah!" perintah Madam.
Patricia menurut.
"Berikan tanganmu," ujar Madam mengulurkan tangannya.
Disana Madam menemukan semua yang dikatakan Patricia, perjalanan itu dan awal dari kekacauan alam yang Patricia alami.
"Ah!" pekik Madam seraya melepaskan tangan Patricia.
"Apa yang terjadi?" tanya Patricia tak sabar.
"Sayang... kau tersesat."
"Apa maksud mu?" tanya Patricia bingung sementara Emily sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Dunia ini sangat luas, bahkan dunia memiliki banyak dimensi yang tak terhitung jumlahnya. Semua dimensi ini berjalan pada satu poros yang sama yaitu waktu, hanya saja apa yang terjadi dalam satu dimensi berbeda namun tetap dalam satu paralel yang sama. Kau, baru saja melewati satu dimensi yang berbeda."
"Bagaimana mungkin?" tanya Patricia heran.
Madam bangkit, menuangkan air dari poci kedalam cawan dan menaruhnya tepat di hadapan Patricia.
"Kau tahu darimana asal air ini?" tanya Madam.
__ADS_1
"Sungai?" terka Patricia.
"Ya, pelayan ku mengambil air dari sungai itu hanya satu kantong dan menuangkannya ke dalam poci. Menurut mu apa yang terjadi dengan sisa air di sungai itu?" tanya Madam.
"Terus mengalir, mungkin sampai ke laut."
"Benar, itulah yang terjadi padamu. Di dimensi yang lain kau bisa menjadi apa saja, entah itu pohon, batu, seorang putri, seorang penyihir, atau manusia biasa. Tapi apa pun dirimu kau punya satu tujuan yang sama, mungkin dirimu di dimensi yang lain telah membuat celah dalam paralel sehingga kau ikut masuk kedalamnya. Itulah mengapa kau ingat semua hal dan semua orang yang pernah kau temui dalam dimensi lain sementara kau berada di dimensi ini," jelas Madam.
"Jadi itu bukan mimpi?" tanya Patricia.
"Bukan, dirimu yang lain mengalami semua hal itu dan karena satu celah itu kau mengetahuinya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Patricia.
"Jika maksud mu untuk kembali ke dimensi itu jawabannya adalah tidak, kalaupun ada cara gara kau masuk ke dalamnya maka semuanya akan kacau. Aku sarankan sebaiknya kau biarkan dirimu yang lain mengurusnya, sekarang kau hanya perlu jalani hidupmu seperti biasa."
Patricia terdiam, itu adalah jawaban sederhana yang membuatnya tak puas. Ia paling tidak suka mengabaikan apalagi itu adalah tentang hidupnya, tapi seperti yang dikatakan Madam semuanya harus berjalan sesuai jalannya masing-masing.
Mengucapkan terimakasih mereka pun pamit pergi, dengan terhuyung Patricia berjalan keluar tenda.
Buk
"Maaf," ucap seseorang yang tak sengaja menabraknya hingga hampir terjatuh.
Patricia mengangkat wajah dan melihat Sonu yang telah menabraknya, untuk sejenak waktu seakan berhenti bagi mereka. Saling menatap Patricia ingat di dimensi itu mereka sangat dekat, semua terjadi saat Sonu terluka dan dia menolongnya.
Sungguh meski petualangan itu cukup mengerikan tapi ia sangat menikmatinya, sayangnya di dimensi ini mereka tak lebih dari sekedar orang asing.
Waktu kembali berjalan, Patricia tersenyum kecil dan kembali berjalan menuju kereta kudanya sementara Sonu masuk kedalam tenda.
"Hai Sonu!" sapa Madam.
"Siapa gadis itu?" tanya Sonu sambil menunjuk belakang punggungnya.
"Ah hanya gadis biasa yang minta di ramal, ada apa?" tanya Madam.
"Tidak, tidak ada apa-apa, hanya saja.... entah mengapa aku merasa seperti mengenalnya. Ah mungkin kami pernah berpapasan di suatu tempat," ujarnya.
Kembali tanpa kata Patricia pulang bersama Emily, hingga mereka sampai Patricia hanya mengucapkan terimakasih dan maaf karena telah merepotkan.
__ADS_1
"Patricia!" panggil seseorang tiba-tiba.