
Beberapa menit berlalu dengan penuh kekhawatiran, mereka semua tak bisa melepaskan sedikit pun pandangan dari Patricia. Terlebih saat bulir keringat mulai bermunculan di kening gadis itu, membuat Estes hampir menggagalkan ritual dengan bersiap menyentuhnya.
Beruntung Jacy dapat menahannya, apa pun yang terjadi saat ini adalah murni keputusan Patricia maka semua tergantung pada dirinya sendiri.
Lima belas menit yang bagai lima puluh ribu tahun berakhir dengan jatuhnya Patricia, gadis itu tak sadarkan diri sementara sebuah asap hitam keluar dari tubuhnya dan menghilang di udara.
"Patricia!" seru Estes panik yang akhirnya mereka pun bergegas memeriksa keadaannya.
Atas panggilan itu perlahan mata Patricia berkedip, ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbangun sepenuhnya. Perlahan wajah pucatnya mulai merona yang menandakan kutukan itu telah berakhir, Sonu yang pertama kali sadar segera menghembuskan nafas lega.
"Kau baik?" tanya Estes memastikan.
"Uh, ya... sedikit lemas tapi sepenuhnya baik," sahut Patricia kini dengan suara yang lebih bertenaga.
"Argghhh kau membuat kami khawatir! tapi syukurlah semua berakhir sesuai rencana," erang Jacy.
Patricia tersenyum, begitu juga dengan Emily dan Estes. Menyambut kabar baik itu mereka merayakan dengan daging rusa jantan yang manis, berkumpul dalam lingkaran api hingga malam tiba.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sonu saat mereka duduk berdua.
"Tidak, hanya saja... ternyata waktu sebulan berlalu dengan cepat."
"Kau benar," timpal Sonu sambil menatap pada lidah api yang terus menjulur.
"Apa rencana mu sekarang?" tanya Patricia.
"Kembali ke serikat petualangan, aku sudah lama tidak bekerja jadi aku ingin mengejar ketinggalan ku."
"Begitu ya," sahut Patricia merasa konyol telah bertanya.
"Hei, jangan lakukan hal yang berbahaya lagi," ujar Sonu memperingati.
Patricia tersenyum, tak ingin menjawab sebab ia tak bisa berjanji. Pada akhirnya ia hanya menatap Sonu dalam waktu yang lama, sementara Sonu yang sadar akan tatapan itu balas menatapnya tanpa rasa canggung.
"Berhenti menatap seperti itu! kau terlihat menyedihkan," tukas Emily kepada Estes yang tak bisa memalingkan pandangannya dari Patricia dan Sonu.
"Apa benar begitu?" tanya Estes dengan senyum pahit.
"Ayolah... jangan jadi pecundang, kau tahu mereka akan berpisah. Kau punya banyak kesempatan tapi jika tidak berani melangkah kesempatan itu akan diambil oleh orang baru, meski sebenarnya... yah.. Sonu tidak sepenuhnya akan melakukan apa yang kau pikirkan."
"Kenapa?" tanya Estes bingung.
"Dia tidak ingin hidup terikat oleh seseorang, itu akan menghambat pekerjaannya sebagai ksatria bayaran. Tapi meski begitu aku bisa yakinkan kau apa pun bisa terjadi jika masalah hati," jawab Emily.
__ADS_1
Estes mengerti dan itu justru membuatnya semakin takut Patricia akan lebih memilih Sonu dari dirinya, seperti yang Emily katakan ia harus mulai melangkah.
Pagi yang datang dengan sinar matahari cerah menjadi tanda perpisahan baik untuk empat orang yang telah menjalin pertemanan, Sonu, Patricia, Emily dan Jacy saling mengucapkan kata perpisahan dengan makna dalam hingga hampir pecah sebuah tangisan.
"Maaf untuk semua kesalahan yang tidak sengaja ku lakukan," ujar Jacy sambil menggenggam hangat tangan Emily.
"Lupakan, kebaikan mu sudah menutupinya."
"Syukurlah kalau begitu, mungkin di masa datang nanti aku akan berkunjung ke penginapan mu. Aku harap kau mau menerima ku sebagai tamu dan memberi diskon," guraunya.
"Hahaha tentu saja Jac, datanglah kapan pun kau mau."
Hening sejenak mereka melepaskan genggaman tangan itu, waktu perpisahan tidak boleh di perpanjangan karena itu akan semakin sulit dilakukan.
"Boleh aku bertanya satu hal?" tanya Emily pelan.
"Tentu."
"Kenapa aku merasa kau tidak pernah tertarik padaku sebagai seorang gadis?" ungkapnya dengan suara yang sedikit tertahan.
"Omong kosong! aku sangat tertarik padamu hingga ingin mengajukan lamaran, tapi aku pria brengsek Emily. Aku akan menyakiti mu sebab meski telah mendapatkan mu dalam waktu lama aku akan bosan dan mengacuhkan mu begitu saja, aku tidak bisa sekejam itu pada gadis baik seperti mu."
Emily tertegun, ia tak menyangka Jacy akan begitu menghormatinya hingga enggan memberi harapan yang semu.
"Maaf karena mungkin membuatmu kecewa, Sonu sudah memberiku pelajaran untuk ini jadi ku harap kau tak
dendam padaku."
"Apa? Sonu menghajar mu?" tanya Emily kaget.
"Yeah, pria kaku itu tidak terima aku merangkul gadis lain dihadapan mu. Tapi mau bagaimana lagi?" sahutnya.
"Oh Jac, kita bisa melupakannya. Sebuah pertemanan cukup bagus untuk kita," ucap Emily mengakhiri obrolan itu.
Beralih pada Sonu yang telah selesai bicara dengan Patricia ia hanya memeluk dan mengucapkan kata perpisahan, tapi Sonu menggenggam tangannya tiba-tiba.
"Kau tidak lupa kunai-nya kan?" tanya Sonu.
"Oh tentu, selalu ku bawa!" sahut Emily sedikit gugup.
"Bagus, semoga kita bisa bertemu lagi nanti," ujar Sonu dan ia pun melepaskan genggaman tangannya.
Emily tersenyum membalas senyuman hangat Sonu, gara-gara ucapan Jacy dalam perpisahan ini ia sempat berfikir Sonu memiliki sedikit rasa kepadanya.
__ADS_1
"Konyol," gerutunya pelan.
Lambain tangan Jacy pun akhirnya benar-benar menjadi pengantar perpisahan mereka, Emily, Patricia dan Estes pergi meninggalkan Jacy dan Sonu untuk pulang ke rumah. Sementara para ksatria melanjutkan perjalanan menuju serikat petualangan demi melanjutkan pekerjaan mereka.
......................
Srek Srek Srek Srek
Langkahnya yang cepat saat menginjak dedaunan kering menimbulkan suara berisik, tanpa memperdulikan hewan lain yang kabur begitu ia melintas pandangannya tetap tertuju kedepan.
Syuuuuuuuutt Jleb
Aaaaaaarrrrrggghhhhh
Akhirnya perburuan itu selesai, tersengah-engah kini Sonu berjalan menghampiri monster buruannya.
"Hai.... kau... berhasil?..." tanya Jacy yang sama lelahnya.
"Yeah, dia benar-benar makhluk yang merepotkan," sahut Sonu sambil menatap bangkai monster itu.
Satu bulan telah berlalu semenjak perpisahan mereka dengan Patricia dan Emily, selama itu mereka sudah kembali pada rutinitas berburu monster sesuai permintaan klien.
Total setidaknya sepuluh monster yang mereka habisi, angka yang kecil jika di bandingkan dengan sebelum pertemuan mereka dengan para gadis itu.
Ingin cepat pulang untuk mandi air hangat Sonu segera memotong cakar monster itu untuk ia serahkan pada serikat, menukarnya dengan sejumlah koin yang kemudian Jacy habiskan untuk bersenang-senang.
"Tolong segelas bir lagi!" seru Jacy untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak Jac! kau menghabiskan uang kita! akhir-akhir ini jarang ada permintaan jadi kita harus berhemat," ketus Sonu kesal.
"Yah... maaf sayang aku harus menuruti perkataannya," ujar Jacy pada seorang wanita yang duduk dipangkuannya.
Wanita itu pun memutar bola mata dengan kecewa dan pergi meninggalkan mereka, tak lama Sonu melihat Siren menempelkan sebuah kertas di papan misi.
Penasaran Sonu segera berjalan dan berdiri tepat di hadapan papan misi untuk melihat misi baru apa yang Siren bagikan.
"Hei Jacy... sepertinya kau harus melihat ini!" seru Sonu tanpa memalingkan wajah.
"Apa?" balas Jacy.
Dengan setengah mabuk ia berjalan menghampiri Sonu untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan padanya, butuh beberapa menit bagi Jacy untuk mencerna setiap kata yang tertulis dalam selembar kertas itu.
Menatap pada Sonu ia bertanya, "Kau mau pergi?".
__ADS_1
"Kita harus pergi!" ralat Sonu.